Tata PKL Pakai Konsep Walk Street, Taman Kota Jadi Primadona

Para pekerja migran, bercengkerama dengan nyaman di Victoria Park yang asri.

Canggihnya Hong Kong Menata Kota dan Masalah Sosialnya (Habis)
Pedagang Kaki Lima (PKL), kerap menjadi masalah di kota besar, tak terkecuali Hong Kong. Namun pemerintah disana, memiliki konsep untuk mewadahi PKL, yang bisa diaplikasikan di Kota Malang. Penataan PKL dan taman kota, menjadi akhir dari laporan wartawan Malang Post Poy Heri Pristianto selama di Hong Kong.

Siapapun yang mengunjungi Hong Kong, pasti akan kagum melihat sederetan gedung pencakar langit menjulang tinggi. Tata letak gedung sangat teratur, seolah saling berpadu antara satu dengan lain. Selain itu, ketertiban dan kebersihan kota juga menjadi daya tarik. Merupakan pesona tersendiri bagi wisatawan dunia yang menghabiskan waktu di Hong Kong.
Hampir semua sisi kota mulai dari pusat kota (Kowloon) sampai ke kota seperti Mong Kok, Causeway Bay, Tsim Sha Tsui dan lainnya, dipenuhi gedung pencakar langit. Gedung-gedung yang terdiri dari pertokoan, hotel, mall, perumahan dan perkantoran ini menjadi ikon Hong Kong. Kendati kota maju pesat, Pemerintah Hong Kong juga tidak melupakan penataan atas ruang terbuka hijau (RTH) dan transportasi massal.
Pemerintah Hong Kong merilis, 75 persen bagian dari Hong Kong merupakan kawasan hijau. Bahkan, hampir 40 persen diantaranya atau sekitar 1.100 kilometer persegi merupakan daerah kawasan hijau yang dilindungi untuk konservasi dan rekreasi warga. Jika di daerah pantai dilengkapi jalan setapak untuk jogging dan hiking. Maka di tengah kota dipenuhi taman-taman kota yang indah dan terawat.
Di Hong Kong ada lebih dari 40 taman kota besar dan kecil yang tersebar di seantero kota. Umumnya, taman ini dikelola Leisure and Cultural Services Department (LCSD). Satu nama taman di kota ini yang terkenal, yakni Victoria Park, Causeway Bay yang sejatinya terkenal sebagai pusat perbelanjaan utama yang padat di Hong Kong.
Taman ini sering dipakai sebagai tempat berkumpulnya para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan kerap jadi venue konser-konser musik dari artis Indonesia.
Di sisi timur Regal Riverside Hotel Mong Kok, Sha Tin, tempat saya menginap, juga terdapat RTH, yakni di kawasan Shing Mun River yang punya panjang 7 kilometer dan lebar 200 meter. RTH disini dimanfaatkan sebagai tempat santai dan olahraga. Banyak warga setempat jalan kaki dan jogging santai terutama pagi hari.
Bagi pengunjung seperti saya, berada di kawasan ini, tentu sangat kerasan, sebab suasana nyaman. Begitu asri, apalagi didukung keberadaan Sungai Shing Mun yang bersih. Hal ini belum pernah saya jumpai di Indonesia, terutama untuk fakta bahwa Shing Mun bebas dari sampah.
Pemerintah bekas jajahan Inggris ini sangat memperhatikan pelayanan publik. Misal di Mong Kok dan Tsim Sha Tsui, terdapat beberapa mall yang terbilang besar dan pusat perbelanjaan jalanan atau Walk Street. Khusus walk street kalau di Indonesia dikenal dengan sebutan Pedagang Kaki Lima (PKL) terdapat di sejumlah pusat wilayah perbelanjaan.
PKL ditata rapi di sepanjang badan jalan dan berdampingan pertokoan. Motor dan mobil haram masuk di kawasan ini, karena lorong jalan hanya diperuntukkan pejalan kaki atau pengunjung. Pernak-pernik barang oleh-oleh mendominasi barang dagangan yang dijual.
Yang lebih mengesankan adalah konsep transportasi massal, antara lain bus umum dan kereta MTR (Mass Transit Railway) dengan tarif antara 10-20 dolar Hong Kong. Penumpang dapat mengaksesnya dengan mudah dari halte dan stasiun.
Mereka begitu tertib naik dan turun di halte atau stasiun. Pintu bus dan MTR beroperasi pakai sistem otomatis sehingga penumpang tidak sampai bergelantungan di depan pintu, seperti pemandangan yang kerap terjadi di Indonesia. Konsep transportasi massal ini diimpikan pemerintah daerah Malang Raya.
Segala penjuru wilayah Hong Kong terjamah bus umum dan MTR. Untuk bus bisa dibedakan jenisnya, bus umum susun dan mini bus. Sedangkan, MTR yang memiliki ratusan stasiun keberangkatan-kedatangan. Dilengkapi rel yang berdiri kokoh berdampingan dengan jembatan layang dan menembus mall.
Hong Kong juga memiliki ribuan taxi yang dengan gaya mobil klasik, namun keluaran baru yang siap melayani penumpang. Meski demikian, pemerintah setempat juga tidak melupakan para pejalan kaki dan penyandang cacat. Dengan menyiapkan trotoar luas dan melengkapi traffic light untuk pejalan kaki.   
Bahkan, Hong Kong juga sudah mengembangkan transportasi kereta gantung dengan ture Ngong Ping - Tung Chung, yakni keduanya berada di Pulau Lantau. Dari Tung Chung ke Ngong Ping, begitu sebaliknya berjarak sekitar 5,7 kilometer ditempuh selama 25 menit. Kereta ini berkabin kaca yang menggelantung berkapasitas 6-8 orang dengan ayunan pertama seperti dilempar di ketinggian.
Saya kembali kagum, konsep kereta ini sudah hampir puluhan tahun, sementara Pemkot Malang dan Kota Batu baru tahap bermimpi dengan melempar wacana. Jika naik bus atau taxi bisa, untuk sampai ke tempat ini hanya butuh waktu sekitar 30 menit.
Kereta gantung ini sebelumnya bernama Tung Chung Cable Car, yang diubah menjadi Ngong Ping 360 pada bulan April 2005. Perjalanan yang cukup sensasional dari Tung Chung ke Ngong Ping dan perlu dicoba barangkali adalah perjalanan menggunakan kereta gantung. Tapi, agar sensasi lebih terasa, lebih menantang jika menggunakan kabin beralas kaca. Supaya, dapat menikmati panorama dibawah kereta gantung, secara lebih leluasa.(Poy Heri Pristianto)