Pakai Hati Tabuh We Love Arema We Do untuk Laga Home Lawan Persib

Roh kreativitas Aremania tribun timur pimpinan Yuli Sumpil, tak bisa lepas dari drummer Aremania yang menjadi pengatur tempo dan ketukan lagu. Dikomandoi oleh suporter gaek, Cak No, drummer Aremania ingin lebih serius lagi menjadi roh kreatif bagi Aremania tribun timur, dengan menggelar latihan khusus untuk Aremania drummer pada putaran kedua ISL 2014 wilayah barat. Seperti apa suasana dan cerita dibalik para drummer Aremania?

Ufuk sudah pendek. Jam telah menunjuk pukul 15.00 WIB, sore itu di Stadion Gajayana, stadion tertua di Malang. Sayang, panas terik matahari enggan masuk peraduan sore itu. Padahal, Gajayana tua sudah bosan dipanasi dengan cahaya matari. Kelupas kerak cat di tembok-tembok stadion, jadi tanda betapa bosannya si tua Gajayana kena matahari terus menerus.
Mungkin si tua Gajayana geram. Ia ingin matari segera pergi, menghilang di kaki langit, diganti malam. Pelan tapi pasti, keinginan Stadion Gajayana terwujud. Bayangan stadion makin memanjang masuk ke lapangan hijau Gajayana. Bayang-bayang itu berkejaran di atas lapangan hijau.
Si tua Gajayana sukses memaksa matari untuk segera berlabuh. Sebab, bisa jadi si stadion di Jalan Semeru itu paham, banyak Aremania yang kepanasan sore itu. Peluh yang mengucur deras dari pelipis, jatuh ke tanah, adalah pertanda jelas bahwa Aremania sedang kepanasan di Stadion Gajayana. Mereka berlatih untuk menggelar kreatifitas pada laga Arema-Persib di Stadion Kanjuruhan, 25 Mei 2014 nanti.
Sayang, tidak semua Aremania bisa diselamatkan oleh Gajayana dari terik matari yang makin rendah. Aremania di tribun skor (tribun timur), masih berkumpul, tanpa peduli panas. Beberapa orang sudah tampak duduk-duduk di tribun timur. Namun, satu demi satu, Aremania naik ke tribun timur.
Jumlah mereka jadi puluhan. Sebagian besar Aremania yang datang ke Gajayana sore itu, memanggul bass drum serta snare. Mereka mendekat ke pagar pembatas. Dengan tali seadanya, Aremania mulai mengikatkan drum ke pagar pembatas. Rupanya, Aremania yang tak takut dengan panasnya terik matari adalah para drummer Aremania.
Mereka yang datang ke Gajayana, Kamis sore lalu, adalah Aremania yang biasa main bass drum dan snare di Stadion Kanjuruhan. Mereka punya niat kuat untuk datang ke Gajayana. Sehingga, panasnya sore hari Kota Malang, tak menyurutkan semangatnya untuk mendatangi bekas markas Arema itu.
Tujuan mereka datang ke Gajayana, tak lain adalah untuk latihan drum. Puluhan Aremania, yang biasa main drum di Kanjuruhan, datang dari berbagai penjuru Malang Raya. Aremania utara seperti Lawang, Aremania sekitaran perkotaan, hingga Aremania selatan seperti Ngantang-Kepanjen dan Amsterdam (Ampel Gading-Tirtoyudo-Dampit), pun datang jauh-jauh, memboyong bass drum memakai motor dan pick up, untuk menuju Gajayana.
Bayu Aremania dari Dampit, membawa bass drum dengan bantuan teman Aremania yang lain. “Ya saya pegangi bass drumnya dari Dampit hingga ke Malang. Tangan agak kemeng. Tapi demi Arema apa yang enggak saya lakukan. Lagipula latihan ini juga berguna sekali buat para drummer Aremania,” terangnya.
Perjuangan Aremania untuk latihan drum di Gajayana, maupun saat hari H pertandingan di Stadion Kanjuruhan memang patut dipuji. Mereka rela naik motor dengan posisi nggandoli bass drum agar bisa latihan di Gajayana. Ada juga yang bawa pick up. Beberapa di antaranya juga “ngerepoti” teman dengan menitipkan bass drum di rumah daerah kota.
Ronny Aremania dari Lawang mengaku bawa mobil pick up agar bass drum bisa dibawa dengan lebih mudah. Termasuk saat latihan di Gajayana Kamis lalu. “Kita sudah niat dari rumah, ingin latihan bareng dulur-dulur. Kita ingin Aremania semakin hebat dan semakin kreatif. Kalau drummernya gak bisa ngimbangi, ya isin,” tuturnya.
Drummer Aremania sudah menjalani latihan sebanyak dua kali. Kamis lalu, adalah latihan kedua para drummer Aremania. Latihan pertama digelar pada awal bulan Mei 2014. Tapi, perjuangan Aremania tak hanya membawa alat untuk latihan di Gajayana semata.
Latihan yang digelar di Gajayana ternyata juga cukup keras. Sebab, drummer Aremania dilatih untuk tidak sekadar “kotek-an” dalam mengiringi lagu-lagu Aremania. Cak No, Aremania senior, sekaligus pemimpin drummer Aremania, juga galak dalam melatih drummer Aremania.
Dalam latihan, tak jarang pensiunan PNS Kota Malang itu ngamuk dan mengumpat Aremania yang salah ketukan atau terlambat dalam memilih tempo. Saat ada yang salah dari ketukan atau tempo Aremania, Cak No langsung menghentikan latihan drum. “Ayo ayo dibaleni maneh. Mangkane kupinge iku dirungokno, ojo lholak lholok ae, diijir ndek njero ati ketukane,” tegas Cak No.
“Lek ketukane kecepeten, ojok diterusno. Mandeg disek. Meneng disek. Dienteni tempo sing pas, baru melok nabuh maneh,” lanjut Cak No. Dari hasil dua kali latihan, Cak No mengaku masih belum puas dengan performa para drummer Aremania. Bapak tiga anak dan dua cucu itu menyebut bahwa latihan drummer Aremania ini setidaknya membutuhkan satu atau dua kali latihan lagi.
Pasalnya, para drummer Aremania, dipersiapkan untuk laga Arema-Persib di Stadion Kanjuruhan, 25 Mei 2014 mendatang. Walaupun mengaku belum puas secara teknis, Cak No senang dengan kesungguhan Aremania drummer. Walaupun dimarahi dan dicaci saat latihan, Aremania mau menerimanya.
“Saya senang dan mengapresiasi semangat dan niat mereka. Yang penting bagi Aremania, adalah niat. Kalau mereka gak niat, mereka gak akan datang jauh-jauh dari penjuru Malang Raya untuk latihan drum. Mereka bersemangat sekali, saya senang,” tandasnya.
Dalam sesi latihan di Stadion Gajayana tersebut, Cak No melatih Aremania untuk memberi intro dan aransemen sederhana buat lagu-lagu Aremania. “Arema, Arema kita disini Arema. Arema Arema, kita disini Arema. We love Arema we do. We love Arema we do. We love Arema we do. Arema we love you,” teriak Aremania sambil diiringi drum, yang membahana di setiap sudut Gajayana.(Fino Yudistira)