Dibesarkan Ken Arok, Kini Spesialis Bangkitkan Tim Terpuruk

Rohanda, 58 Tahun Mengabdi pada Sepakbola Kota Malang
Lahir dari keluarga sepakbola membuat Rohanda mencurahkan hampir seluruh hidupnya bergelut dengan si kulit bundar. Sejak tahun 1966, hingga kini ia masih tetap mengabdi pada sepakbola, khususnya sepakbola Kota Malang.
PRIA kelahiran Malang, 15 November, 64 tahun silam itu mulai mengenal sepakbola sejak kecil. Bersama ayahnya, Takhmid yang merupakan pengurus Indonesia Muda Malang kala itu, ia mulai mencintai olahraga paling populer di dunia itu.
Dari tim yang dibina keluarganya sendiri, ia rutin menempa latihan yang diberikan. Rohanda masuk tim Persema pada tahun 1966 dan kerap memperkuat skuad utama tim berjuluk Laskar Ken Arok tersebut pada dekade 70an.
Setelah ia mulai dewasa dan bekerja sebagai PNS, ia sempat tidak aktif sebagai pemain. Meski begitu, tidak pernah hari-harinya dilalui tanpa berkecimpung dengan sepakbola. Rohanda tetap aktif mengurusi sepakbola baik sebagai pengurus Indonesia Muda Malang maupun pelatih.
Suami dari Siti Aminah ini memulai karier kepelatihan bersama Persema Junior pada tahun 1985. "Karena status saya sebagai PNS, jadi saya tidak bisa total di sepakbola. Tapi Alhamdulillah, saya berterimakasih kepada pemimpin saya saat itu yang masih memberi toleransi," papar pensiunan Dinas Pertanian Kabupaten Malang itu.
Dua tahun berselang, pelatih yang kini memiliki lisensi A AFC itu mulai mengarsiteki Persema senior. Rohanda bahkan sempat membawa Persema juara divisi 1 Liga Perserikatan tahun 1989. Pelatih berjuluk Kandut itu tidak pernah stagnan dalam waktu lama menangani sebuah tim, termasuk Persema.
Sempat, ayah dari Yogi dan Radito ini mencoba menerima tawaran Barito Putera pada tahun 2004 sebagai pelatih. Namun, Rohanda hanya bertahan di Barito Putera selama satu bulan. “Ya karena saya ada tanggung jawab sebagai PNS di Malang jadi saya harus kembali ke Malang,” urainya.
Kendati tak pernah lama menangani tim, namun Rohanda terkenal sebagai pelatih spesialis pembawa tim yang sedang terpuruk untuk kembali bangkit oleh tangan dinginnya. Hal itu pernah terjadi saat Persema terseok-seok di zona degradasi divisi utama Liga Indonesia tahun 2007.
Pada putaran kedua, Rohanda didaulat untuk menggantikan posisi Danurwindo dan sukses menyelamatkan tim asal Kota Malang itu dari degradasi. Kejadian serupa kembali terulang tahun ini. Persema, yang terusir dari Indonesia Super League (ISL) lantaran hukuman dari PSSI, harus mulai mengikuti kompetisi dari liga amatir.
Dengan nama Persema 1953, tim ini kembali berkompetisi di Liga Nusantara tahun 2014. Rohanda pun ditunjuk sebagai pelatih untuk memanggil kembali kejayaan Persema di masa silam.
Pria yang kini aktif sebagai Ketua Umum Indonesia Muda Malang itu optimis mampu membawa Persema 1953 berjaya. Biar bagaimanapun, menurutnya Persema 1953 tetap membawa nama besar Kota Malang sebagai salah satu daerah percontohan sepakbola di Indonesia.
“Saya berharap Persema 1953 ini mampu disegani lagi di kancah sepakbola nasional. Harus mampu sama-sama berjaya dengan Arema. Persema ini kan lebih senior dari pada Arema, kalau Arema kan adik kita,” tandasnya. (Muhammad Choirul)