Fokus Ekspor 20 Tahun Terakhir, Bawa Kopi Dampit Mendunia

Indonesia telah dikenal sebagai salah satu negara penghasil komoditas kopi terbaik sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Catatan tersebut berlanjut hingga kini, dengan jumlah ekspor melebihi 500 ribu ton kopi dalam setahun. Dan ternyata, lebih dari 10 persen dari total ekspor Indonesia kini berasal dari PT Asal Jaya yang berada di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Malang Post baru saja mengunjungi pabrik eksportir kopi tersebut dan bertemu dengan Manager Operasional PT Asal Jaya, Thomas Juhara. Dia pun mulai bercerita, tentang perusahaan yang kini harum hingga keluar negeri tersebut. “Pabrik ini didirikan oleh dua bersaudara, kurang lebih tiga puluh tahun lalu. Yakni Pak Harianto dan Pak Andi,” ujarnya mengawali cerita.
Menurut dia, Asal Jaya tidak serta merta menjadi besar. Awalnya masih usaha dagang kopi biasa, berlanjut memiliki badan usaha seperti CV dan akhirnya kini telah menjadi PT. “Berubah menjadi PT pada tahun 2003 atau sebelas tahun dari sekarang,” terangnya.
Thomas yang telah bekerja di pabrik tersebut ketika pabrik masih bermain di pasar lokal. Hingga akhirnya, menjadi saksi ketika PT Asal Jaya mulai mengekspor kopi di tahun 1994, dua tahun sebelum reformasi. “Sudah 20 tahun kami mengirim produk keluar negeri. Fokus pun beralih untuk pasar mancanegara,” tegas dia kepada Malang Post.
Menurutnya, pasar internasional terlanjur mencintai komoditas yang turut melambungkan nama Kabupaten Malang ini berkat kualitasnya. Hal ini dibuktikan dengan permintaan yang terus meningkat seiring bertambahnya tahun. “Pertumbuhan produksi kopi di Asal Jaya terus menanjak, dan posisi akhir tahun lalu mencapai 55 ribu ton dalam setahun. Meningkat sekitar tiga ribu ton ketimbang tahun sebelumnya,” urai Thomas, bangga.
Dia mengakui, kegigihan manajemen dalam mempromosikan serta tidak lupa menjaga kualitas produk adalah hal yang terutama. Selain itu, taat dengan segala regulasi dan peraturan yang ada, baik itu untuk pabrik, hasil produksi hingga sistem ekspor yang sesuai dengan prosedur. “Kami bangga, ketika taat menjadi salah satu penyumbang devisa bagi negara,” tambah bapak empat anak ini.
Menurut Thomas, produksi kopinya ini terdiri dari empat grade. Yakin 1, 2, 3 dan 4. Paling terbaik grade 1. Lalu dia mencontohkan, salah satu bentuk taat dan berperilaku sebaik mungkin juga ditujukan kepada buyer. Apalagi, dengan sistem mengirim barang, pemesan menaruh kepercayaan. Ketika ada yang memesan grade 1, maka harus pure grade 1, dengan jumlah sesuai permintaan.
“Jangan sampai sekali-kali mengurangi kualitas atau mencampur kopi. Karena itu merupakan taruhan bagi nama besar PT Asal Jaya. Dengan begitu, kepercayaan buyer akan tetap terjaga selanjutnya,” jelas Thomas.
Dia mengakui, tidak selalu jumlah produksi dalam kondisi yang bagus. Kadang kala, ada mas low season untuk produksi, dimana tidak ada masa panen. Salah satu solusi untuk mengatasi hal itu dengan terus mencari perkebunan kopi di tanah air. Tidak hanya dari Kabupaten Malang. Tetapi juga Sumatra, Bali, Flores hingga Sulawesi. Banyaknya wilayah, menambah varietas komoditas kopi yang diproduksi.
“Kopi dari Kabupaten Malang atau sering disebut Amstirdam (Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit) menyumbang 6000 ton sampai 8000 ton setahun. Tentu jumlah ini masih jauh dari kapasitas produksi kami, dan harus kerjasama dengan petani di wilayah lain untuk menjadi pensuplai kopi bagi kami,” urainya panjang lebar.
Pria murah senyum ini pun mengakui, beberapa tahun terakhir ini PT Asal Jaya mencoba memaksimalkan potensi lokal. Yakni bekerjasama dengan petani untuk meningkatkan produksi. Caranya, dengan memberikan pengetahuan food safety yang berujung pada peningkatan produktivitas. Selain itu, bibit berkualitas di tahun 2013 lalu sudah disebarkan kepada petani, dengan harapan meningkatkan produksi 3 kali lipat.
“Saat ini, untuk petani yang tidak jauh dari pabrik, produktivitas hasil tanam kopinya hanya sedikit. Dengan jumlah lahan satu hektar, hasilnya masih mentok di angka satu ton. Yang terbaru dengan bibit berkualitaas, diharapkan bisa mencapai 3 ton,” urai pria ini secara mendetail.
Terkait dengan proses ekspor, Thomas menuturkan, bila dalam sehari bisa mencapai 20 kontainer. Catatan itu pada masa peak season, yang akan terjadi dalam kurun waktu dua bulan kedepan. Satu container berisi 18 ton kopi. “Bisa dihitung ketika peak panen kopi, maka produksinya besar sekali. Kalau sekarang, rata-rata sehari mengirim lima kontainer,” papar pria berkacamata tersebut.
Kemudian Thomas menyebutkan, bila saat ini pegawai di PT Asal Jaya sebanyak 1100 orang. Jumlah tersebut 1000 orang di pabrik yang berada di Dampit, dan sisanya di pabrik Pandaan. Ya, satu pabrik di Pandaan untuk mempermudah pengiriman.
“Dulu, ketika ada bencana Lapindo membuat manajemen memutuskan membuka pabrik di Pandaan. Alasannya, jika di kirim dari Dampit butuh waktu enam jam, sementara dari Pandaan sekitar tiga jam. Mobilitas permintaan ekspor kan tinggi,” sebut dia, lantas tertawa.
Kini, dengan jumlah produksi sebesar itu, maka PT Asal Jaya memiliki omzet sebesar 100 juta US Dollar per tahun. Nilai ekspor dari total produksinya sebesar 95 persen, sementara sisanya melayani permintaan dari sekitar Malang Raya. “Fokus kami memang ekspor dan membuat kami diberi penghargaan eksportir dengan kinerja terbaik,”  pungkas dia.(Stenly Rehardson)