Baru Dua Tahun Tinggal di Malang, Anggap Sebagai Rumah Kedua

UNIVERSITAS Negeri Malang (UM) punya banyak dosen Mandarin yang didatangkan dari Tiongkok. Mereka dikirim oleh Confucius Institute Tiongkok untuk memfamiliarkan Bahasa Mandarin di Indonesia khususnya Malang. Salah satu diantaranya adalah sepasang suami istri, Wang Tie Ta dan Qin Xiaohe.  Qin Xiaohe adalah Direktur atau Profesor Pusat Bahasa Mandarin di UM.

Vicky, begitu nama Indonesianya. Sosoknya ramah dan murah senyum. Meski belum lancar bicara Bahasa Indonesia, tapi ia berusaha menyapa warga UM dengan keramahannya. Hampir semua keluarga besar UM mengenal sosoknya, karena ia  mengajar bahasa Mandarin bagi karyawan kampus tersebut.
"Saya ada di UM tapi tidak hanya untuk satu universitas saja. Sumber-sumber informasi yang kami bawa akan dibagikan ke lebih banyak orang," ungkapnya ramah.
Vicky mendapatkan tugas untuk mengenalkan kebudayaan Tiongkok melalui bahasa. Sebelum ke Malang, ia adalah Deputy Director di Guangxi Normal University, Tiongkok. Tugasnya di kampus saat itu adalah mengurusi mahasiswa internasional di kampusnya.
Sudah dua tahun ini Vicky dan suaminya hidup di Malang. Dijadwalkan hingga dua tahun ke depan. Kali pertama menghirup udara kota ini, wanita 58 tahun ini pun langsung jatuh cinta. Sebelumnya dua kali ia ke Indonesia dalam sebuah kegiatan pameran pendidikan di Bandung, Jakarta, Surabaya dan Bali. Namun ia sama sekali tak pernah tahu tentang Kota Malang. Sampai suatu hari pada 2011 lalu, ia mendapat tugas menjadi Direktur Pusat Bahasa Mandarin di UM.
"Kota ini sangat sejuk, saya suka udaranya dan keramahan Kota Malang," ungkap Vicky sembari tersenyum tulus.
Kota kelahirannya  Liu Zhou, sebuah kota di sebelah Timur tepatnya di Region Otonomi
Liuzhou merupakan sebuah kota di Tiongkok yang terletak di bagian timur. Tepatnya di Region Otonomi Guangxi. Liuzhou terletak di aliran Sungai Liu, terletak 255 km dari Nanning, ibukota propinsi. Liuzhou terletak 3.535 km dari Beijing, 2.033 km dari Shanghai dan 727 km dari Hong Kong . Liuzhou merupakan kota pertama yang dilewati sungai Liu yang memiliki air sangat bersih.
Hanya saja disana melihat matahari bersinar sepanjang waktu amatlah langka. Musim yang tak menentu membuat penduduk kota ini jarang merasakan hangatnya sang surya. Kalau musim hujan  bisa berbulan-bulan, seperti sekarang ini hujan turun sejak Desember lalu. Kalau sudah begitu warga kota pun tak bisa melihat matahari selama satu minggu penuh.
"Melihat matahari bersinar di pagi hari itu membuat orang bisa tersenyum sepanjang hari, tapi kalau pagi sudah mendung biasanya wajah pun ikut muram dan hati jadi mendung" ujarnya serius.
Di Malang ia bahagia, karena setiap hari bisa melihat matahari. Dan tentu saja hatinya pun selalu senang meski jauh dari anaknya yang saat ini menjadi dosen di salah satu universitas di Tiongkok. Apalagi Vicky juga tidak sulit menyesuaikan lidahnya dengan makanan di Malang. Ia amat suka dengan berbagai hal yang berbau gorengan, baik itu nasi goreng atau ikan goreng. Berbeda dengan suaminya yang seperti orang Tiongkok pada umumnya, lebih suka makanan yang direbus.
"Suami saya suka belanja dan masak sendiri," kata dia.
Suami Vicky sudah pensiun dari pekerjaannya dan kini mendampinginya di Indonesia. Biasanya pada setiap acara yang dilaksanakan Pusat Bahasa Mandarin, suami Vicky yang bertugas mengambil foto acara.
Di hari libur, Vicky dan suaminya lebih suka tinggal di rumahnya di kawasan Jalan Pahlawan Trip. Terkadang jika ada waktu senggang, ia memilih berenang. Namun yang tak pernah ia lewatkan adalah bermain tenis di Jalan Surabaya.
"Kegiatan di Malang sangat padat, kadang juga saya datang ke acara pernikahan atau ada undangan perayaan di rumah warga," ujarnya sembari tersenyum.
Dua tahun tinggal di Malang memberi kesan mendalam bagi Vicky. Walaupun ada juga hal-hal yang sempat membuatnya terkejut. Misalnya saja cara orang Indonesia bekerja yang menurutnya sangat lambat.
"Orang Indonesia melakukan segala sesuatu sangat lambat sementara kami terbiasa cepat," kata dia.
Meski demikian Vicky merasa Malang menjadi rumah keduanya setelah Tiongkok. Karena itu selepas masa tugasnya nanti ia ingin tetap datang ke kota kecil yang sudah membuatnya jatuh cinta itu. Di Malang ia menemukan suasana yang damai, karena tak banyak dikejar aktivitas sosial seperti di negaranya. Yang pasti di Malang ia bisa melihat matahari tersenyum setiap pagi.
(Lailatul Rosida)