Budidaya Ulat Jerman yang Kian Menjanjikan

Ulat yang bagi sebagian orang, dianggap menjijikkan, ternyata bisa mendatangkan rupiah. Edi Kukuh Saptono Warga Dusun Plalar Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang berhasil membudidayakan ulat Jerman. Keseriusan Edi dalam menekuni budidaya ulat, berbuah manis.

Hanya bermodalkan Rp 250 ribu. Itulah kata pertama yang disampaikan Edi, saat berbincang dengan Malang Post. Bapak dua anak ini awalnya pesimis, bisa hidup dari budidaya ulat. Padahal, sudah dua tahun ini, budidaya ulat malah menjadi mata pencaharian keluarga. Bahkan, beberapa warga kampung pun turut dibantu dalam pengembangan budidaya ulat Jerman.
Modal ratusan ribu yang dikeluarkan kala itu hanya digunakan untuk membeli induk dari ulat Jerman yakni Kumbang. Saat itu, dengan modal sangat terbatas tersebut, sudah bisa mendapatkan sekitar 40 ribu atau 5 kilogram induk untuk budidaya ulat Jerman.
Untuk memulai budidaya, dirinya sudah menyiapkan media berupa papan persegi panjang dengan ukuran 60 centimter x 120 centimeter. Masing-masing sudutnya diberikan penutup, setinggi minimal 10 centimeter, untuk mengantisipasi kumbang-kumbang keluar dari media papan.
Selanjutnya, agar memudahkan pemilahan telur yang dihasilkan oleh kumbang, pada tengah media diberi kawat berukuran sedang untuk mengambil kumbang. Setelah bertelur langsung dipindahkan ke media papan lain, yang didalamnya sudah ada polar dan sayur untuk makanan kumbang dan telur yang nantinya menetas.
“Tahapan induk atau kumbang itu bertelur, sekitar 20 hari. Setelah masa itu, kumbang akan dipindahkan agar bertelur kembali. Sementara telur, tetap di media papan yang di dalamnya sudah ada polar dan sayur. Dari situ, hanya butuh waktu sekitar 10 hari, telur akan menetas dan menjadi ulat Jerman kecil,” terang Edi.
Dari ulat kecil itu, tambahnya, hanya butuh waktu selama 20 hari menjadi ulat besar yang siap jual. Ketika hasil panen sudah siap, biasanya pembeli akan datang sendiri atau menemui pengepul yang siap menerima. Khusus ulat Jerman, memiliki banyak keuntungan dibandingkan ulat Hongkong.
“Untuk harga, ulat Jerman relatif standar dan tidak terjadi naik-turun. Perkilogramnya, ulat ini dijual seharga Rp 20 ribu. Sementara induknya, persatu ekor dijual Rp 2 ribu. Permintaan ulat Jerman, sampai hari ini tinggi dan pengepul pun terus mencari budidaya ulat ini,” urainya.
Saat pertama kali panen, imbuh Edi, hasil penjualan ulat Jerman yang dihasilkan mencapai 1,70 kwintal. Artinya, selama dua minggu pertama itu, mampu menghasilkan uang Rp 3,4 juta.
Pada  minggu pertama, tidak seluruhnya ulat besar yang siap jual dikirimkan kepada pengepul atau pembeli. Tetapi, beberapa ukurannya yang mendukung untuk dijadikan induk atau kumbang, tetap dipertahankan untuk diteruskan menjadi induk.
“Untuk menjadikan ulat besar menjadi induk, itu hanya butuh waktu sekitar delapan hari. Awalnya, ulat akan menjadi kepompong dalam kurun waktu sekitar lima hari maksimal lamanya. Kemudian, dari kepompong hanya butuh watu tiga hari menjadi kumbang. Selama proses perubahan ulat menjadi kumbang, pemilik hanya membutuhkan satu botol plastik kecil untuk satu tempat ulat berubah bentuk menjadi kumbang,” paparnya.
Ketika ulat itu menjadi kumbang, maka selama kurun waktu dua tahun ke depan, stok ulat yang akan dipanen dan dijual sudah tersedia. Masalahnya, kemampuan ulat Jerman bertelur dan bertahan hidup, biasanya sampai usia dua tahun. Daya tahan itu, terbilang sangat bagus dibandingkan ulat Hongkong.
Karenanya, memasuki masa panen kedua di awal menggeluti usaha ulat Jerman, perubahan drastis pun terjadi. Masalahnya, dalam budidaya tersebut tidak membutuhkan tempat yang khusus. Di satu sisi, ulat Jerman memiliki masa hidup yang relatif panjang.
“Kalau ulat Hongkong biasanya rentan dimakan cicak, semut hingga tikus. Tetapi kalau ulat Jerman, cicak dan semut, itu tidak mau menyentuh. Sementara tikus, hanya akan memakannya ketika ulat besar akan berubah menjadi kepompong. Saat menjadi kumbang atau ulat, malah tidak mau. Karenanya, banyak sisi positif dari budidaya ulat Jerman,” paparnya.
Selain dari sisi bertahan hidup, ulat Jerman juga memiliki hal positif dalam mengkonsumsi makanan. Dari polar dan sayur jenis manisan yang disiapkan, biasanya dikonsumsi langsung. Sebaliknya, ulat Hongkong hanya memakan sayur dan membiarkan polar di media papan yang disiapkan. (Sigit Rokhmad)