Wakil Jawa Timur di Pameran Food Industry Korea Selatan

Tumbuhnya pariwisata di Kota Batu mendorong lahirnya pengusaha muda di bidang industri makanan olahan. Para pelaku usaha di kota tersebut tergolong kompetitif, dalam sudut pandang persaingan sehat. Salah satu pengusaha muda yang bisa dijadikan inspirasi adalah Syamsul Huda SP (37 tahun) pemilik CV Bagus Agriseta Mandiri di Jalan Kopral Kasdi no. 2 Dusun Banaran Desa Bumiaji Kecamatan Bumiaji.

Syamsul sapaan akrabnya, memahami benar kompetitifnya bisnis makanan olahan di Kota Batu.
Tak hanya di tingkatan lokal, namun juga menjelang AFTA 2015 dan APEC 2020. Namun dia berpikir maju ke depan, sehingga berani mengikuti pameran makanan olahan di Korea Selatan.
Selama ini, Indonesia di mata dunia dikenal sangat kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA). Khususnya di bidang pertanian, segala jenis pertanian dapat tumbuh di Indonesia tak terkecuali sayur dan buah. Minimnya buah dan sayur ekspor dalam bentuk olahan, yang melatarbelakangi keberanian Syamsul pameran ke Korea Selatan.
Produksi olahan kripik buah dan minuman selama ini menjadi andalan Bagus Agriseta Mandiri Kota Batu. Malang Post berkesempatan berbincang cukup lama dengan Syamsul. Untuk sharing pengalamannya dalam mengembangkan usaha. Bagus Agriseta Mandiri sendiri terpilih menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur yang menampilkan produk olahan pertanian di ajang Food Industri di Korea Selatan pada 13 - 16 Mei 2014, bersama dengan wakil Indonesia dari daerah lainnya.
Syamsul memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan dalam hal pengembangan usaha makanan olahan. Berbagai pameran tingkat kota, provinsi, nasional serta internasional. Terakhir, berkat keberaniannya mengikuti pameran di Korea Selatan, produk miliknya segera merambah mancanegara.
Pameran di Korea Selatan memberinya wawasan baru dan mengetahui letak kekurangan produk lain atau sebagai pembanding. "Saya tertarik untuk memasarkan olahan pertanian ke luar negeri. Selain pangsa pasarnya bagus, juga produk ini dapat bersaing dengan produk dari negara lain," aku bapak dua anak ini.
Dia menuturkan, banyak hal didapat dalam  pameran yang menampilkan ribuan produk dari sekitar 120 negara. Baik dari ragam makanan olahan maupun teknologi terbaru. Menurutnya, produk Indonesia tidak kalah saing dengan negara lain. Bedanya hanya terletak pada kemasan yang lebih bagus dibanding produk Indonesia.
Di Indonesia segala bahan baku seperti sayur dan buah bisa didapat dengan mudah. Sedangkan, negara lain harus mengekspor bahan-bahan tersebut. Sehingga dari sisi biaya produksi semakin lebih mahal.
"Makanya saat ini pelaku usaha di Indonesia, jangan lagi mengekspor dalam bentuk segar, melainkan sudah dalam olahan. Dan harganya pun naik dua kali lipat,"ungkapnya kepada Malang Post.
Dalam pameran di Korea Selatan, Ketua Umum HIPSI Kota Batu ini, menampilkan kripik apel, jenang apel, sari apel, sirup buah, manisan, dodol apel, bakpia serta kripik nangka dan salak. Dia tidak sendirian, tetapi dia bersama 10 kelompok pengusaha dan pelaku usaha yang memproduksi non buah dan sayur dari Indonesia.
Sempat muncul rasa minder dan pesimis dalam benaknya, lantaran takut produk yang dibawanya tidak disukai oleh masyarakat pengunjung pameran. Kenyataannya, berbanding terbalik, justru banyak pengunjung yang menyempatkan diri untuk mencicipi produknya. Pesaingnya Taiwan, Thailand dan Tiongkok yang juga menampilkan produk hasil pertanian.
Dia mengakui, produknya terpilih mewakili Jawa Timur dalam ajang pameran tersebut. Alasannya karena, pertama produk yang dihasilkan berbasis buah dan sayur (atau berbeda dari yang lain). Kedua, Industri Kecil Menengah (IKM) miliknya termasuk yang berprestasi di Jawa Timur hingga nasional.
Sebelumnya juga dilakukan seleksi oleh Dinas Koperasi dan UKM, Disperindag, Pemerintah serta lembaga independen mitra pemerintah. Supaya produk yang diikutkan dalam pameran betul-betul bagus dan bisa diandalkan. Mulai dari mutu produk, kemasan produk hingga legalitasnya.
“Ke depan, pelaku usaha baik yang sudah berjalan maupun pemula, harus bisa menonjolkan kekayaan SDA yang dimiliki di daerahnya masing-masing. Kalau di Kota Batu yang dikenal dengan hasil pertanian buah dan sayurnya,” urainya.
Selain itu, pelaku usaha dengan yang lain juga harus bersinergi dan berbagi ilmu dalam meningkatkan dan menghasilkan produk yang bagus. Menurutnya, secara kapasitas produksi yang dihasilkan saat ini masih belum mampu memenuhi permintaan konsumen. Tapi, hal tersebut bisa disiasati dengan cara menggandeng  pelaku usaha dan UKM untuk menyuplai permintaan ini.
”Terpenting saat ini menemukan user atau agen yang siap memasarkan di luar negeri, masalah berapa yang dibutuhkan bisa dirundingkan dengan UKM lain,” jelas Alumnus Universitas Islam Malang ini.
Dalam pameran itu pula, menjadi ajang untuk promosi berbagai produk lokal asli Indonesia ke mancanegara. Karena, lewat pameran ini diyakini mampu membawa dampak positif untuk kemajuan pelaku usaha di Indonesia.
Dia menambahkan, setelah pameran dirinya dituntut untuk membuat laporan dan berbagi sekitar pengalaman kepada pelaku usaha lain.”Saya hanya mewakili pelaku usah lain, tugas saya adalah berbagi ilmu seputar pameran,” tandas peraih piala IKM pangan Award 2013 lalu itu.(Miski bin Jamaluddin)