Kawal Transaksi Rp 128 Miliar, Begadang Dua Hari Dua Malam

Wajah Firdaus “Idhos” Akbar sudah tak asing lagi bagi warga Malang. Khususnya, warga yang sering datang ke Stadion Kanjuruhan untuk nonton Arema. Pria kekar dengan wajah kearab-araban itu adalah seorang bodyguard profesional dan senior di Malang. Dari tuturnya, tersingkap cerita unik di balik lika-liku seorang bodyguard. Cerita paling fantastis, pria keturunan Pakistan-Madura itu pernah mengawal transaksi berlian dengan nilai Rp 128 miliar!
 
Rambut ikal hitam dengan kuncir dari pria ini tampak tertata begitu rapi. Klimis. Alisnya tebal, terlukis di atas mata yang tak terlalu besar. Hidungnya mancung sekali. Dagunya tegas, dengan brewok yang tipis-tipis. Kulitnya pun putih. Hanya sekali pandang, sudah ketahuan bahwa dia adalah pria keturunan arab.
Saat bersalaman dengan Malang Post di mess Arema Jalan Buring siang itu, genggamannya tegas dan kuat. Lengan yang kekar dan keras seperti beton, mungkin yang bikin tangannya kuat dalam bersalaman. Belum lagi, otot dada, perut dan punggung yang terbentuk, menambah kesan macho dari pria tinggi tersebut.
Ya, pria ini adalah Firdaus “Idhos” Akbar. Agen senior dari Professionial Guard Malang, agensi penyedia bodyguard yang sudah begitu terkenal di Malang. Badan kekar dan wajah kearab-araban adalah ciri-ciri tak tergantikan dari Idhos. Itu tak lepas dari garis keturunan Pakistan yang mengalir dalam darahnya.
 “Saya campuran Pakistan-Madura, karena itu ya seperti ini perawakan dan wajah saya,” terang Idhos kepada Malang Post, yang baru saja mengawal Arema di Bandung, melawan Pelita Bandung Raya. Pria ini memang sering terlihat bersama Arema saat away. Tapi, dia juga bertugas secara reguler di Stadion Kanjuruhan, saat Arema main kandang.
Saat berada di luar tugas, Idhos sosok yang ramah dan murah senyum. Tapi, lain ceritanya bila sedang ada job mengawal klien. Serius dan penuh dedikasi. Itulah reputasi yang dibangun oleh Idhos bersama agensinya Professional Guard Malang. Rapor yang bagus dari Idhos dan Professional Guard Malang, membuatnya dipercaya oleh orang-orang penting.
Bukan hanya di Malang, tapi di seluruh penjuru Indonesia. Nama Professional Guard Malang dan Idhos, sudah dikenal di luar Malang. Karena itu, pria yang menginjak usia 35 tahun ini mengawal banyak klien penting, seperti pejabat negara, miliarder dan publik figur. Cerita yang paling luar biasa, adalah saat Idhos sendirian mengawal bos berlian di Jakarta.
Ia menyebut, bos berlian tersebut meminta Idhos untuk mengawalnya dalam sebuah transaksi berlian. Nilai transaksi berlian ini, bukan lagi ratusan juta, tapi sudah mencapai miliar rupiah. “Saya pernah mengawal transaksi berlian di Jakarta, dengan nilai transaksi Rp 128 miliar. Itu adalah rekor tertinggi selama bekerja sebagai bodyguard. Saat itu, saya sendirian mengawal transaksi tersebut,” tandas alumnus ABM tersebut.
Ia menceritakan, bos berlian ini tidak mau pengawalan lebih dari satu orang dan hanya mempercayai Idhos sebagai bodyguard sewaan. Alhasil, Idhos pun sendirian, datang ke Jakarta, untuk mengawal transaksi yang beresiko tinggi itu. Bahkan, demi melindungi klien, Idhos tidak tidur dua hari dua malam, di depan kamar sang bos berlian.
“Saya praktis tanpa tidur sama sekali dua hari dua malam. Saya berjaga di depan kamar bos berlian ini. Hingga proses transaksi selesai, beruntung tidak ada insiden. Pengawalan saya sukses. Saya pun dapat kepercayaan lebih lagi. Sebab, bisnis ini adalah bisnis kepercayaan,” tegasnya.
Selain transaksi senilai miliaran, Idhos bersama agensi Professional Guard Malang juga pernah menjadi pengawal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Malang. Tepatnya, saat kampanye Demokrat di Stadion Kanjuruhan. Idhos, masuk dalam pengawal ring satu, setara dengan Paspampres.
“Pak SBY sendiri berkata kepada kami, pengamanan kampanye oleh Professional Guard Malang adalah yang paling sukses di Indonesia. Kita juga pernah kawal Jusuf Kalla. Artis-artis dan musisi yang konser di Malang, juga memprioritaskan kita sebagai pengawal profesionalnya,” tegas pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua Professional Guard Malang itu.
Komisi Pemberantasan Korupsi, pernah menggelar outbond di Batu dan dijaga oleh Idhos bersama Professional Guard Malang. Pasalnya, menurut Idhos, KPK sendiri merasa butuh perlindungan karena banyak dibenci oleh pejabat korup. Kepercayaan dari tokoh penting dan publik figur membuat Professional Guard Malang diakui sebagai agensi bodyguard terbaik di Indonesia saat ini.
“Kita diakui sebagai yang terbaik di Indonesia saat ini. Saat kita bertugas, tingkat kebobolan tiketing konser dan stadion hampir nol persen. Kita dipercaya untuk sweeping di pintu-pintu masuk. Kita sering tangkap copet serta sweeping flare di Stadion Kanjuruhan,” tegas pria yang sudah 16 tahun menekuni profesi bodyguard itu.
Tapi, apa yang dicapai Idhos bersama Professional Guard Malang sekarang, berbanding terbalik dengan masa-masa awalnya terjun di dunia bodyguard. Tahun 1998, adalah masa awal dia menjadi bodyguard. Ia merintis karir dengan berpeluh darah. Pertama kali jadi bodyguard, adalah saat Arema masih berkandang di Stadion Gajayana.
Idhos masih menjadi penjaga pintu masuk stadion alias petugas portir. Saat itu, ia masih kuliah di ABM. Gajinya masih sangat kecil. “Bahkan, saat itu gaji saya tidak full karena dipotong dengan berbagai alasan. Tapi, saya tetap jalani dengan dedikasi. Karena pekerjaan ini sepertinya sudah jadi jiwa saya,” tandasnya.
Seiring waktu, Idhos mulai mendapat nama di Malang. Terutama, karena ia sering sukses menjadi bodyguard sewaan. Ia pernah menjalani pelindung orang yang kena teror preman. Lalu, pernah juga menjadi pengawal pengacara sengketa perusahaan yang diancam oleh orang-orang bersenjata tajam.
Karena kesuksesannya sebagai bodyguard, namanya tersebar dari mulut ke mulut. Profesinya terus beranjak naik. Dari penjaga portir, ia naik sebagai pengawal tribun ekonomi, tribun VIP hingga sekarang jadi pengawal pemain. Karena konsistensinya, Idhos pun diberi tugas sebagai koordinator steward di Professional Guard Malang.
Ia sudah keliling Indonesia, dan menjalani tugas pengawalan, di Bali, Kalimantan hingga Jakarta. Untuk menjadi seorang bodyguard, Idhos memperlengkapi dirinya dengan berbagai keahlian. Selain tubuh kekar dan otot yang menonjol, ia juga menguasai beladiri, yakni taekwondo dan pencak silat.
“Saya orang yang suka tantangan, makanya terjun di pekerjaan ini. Takut? Semua orang punya rasa takut. Bohong kalau kita tak bisa merasa takut. Tapi, yang penting adalah mengendalikan rasa takut. Adu fisik sudah jadi makanan harian, tapi sifatnya melumpuhkan,” tandas pria yang kesehariannya berada di gym Stadion Gajayana itu.
“Untuk jadi bodyguard, tak sekadar punya badan besar dan keahlian beladiri. Tapi, profesionalitas dan sikap bisa dipercaya. Kejujuran adalah yang nomor satu di Professional Guard Malang. Sebab, klien itu harus dijaga kepercayaannya. Sekali tak jujur, hancur nama kita,” tutup Idhos.(Fino Yudistira)