Awalnya Hanya Ingin Biografi, Kini Beredar Seluruh Indonesia

MENJADI orang sukses tidaklah gamang karena semua harus dilalui dengan perjuangan keras. Salah satu orang sukses itu adalah Edy Antoro, owner Kusuma Group yang berpusat di Kota Batu. Dalam usianya yang ke-56, dia membuat buku berisi kisah hidup mulai kecil hingga memiliki 1500 karyawan saat ini. Buku tersebut berjudul Republik Agro, Perjalanan Hidup Edy Antoro.

Sesosok pria masuk bagian front office Hotel Kusuma Agrowisata Kota Batu, siang kemarin. Semua pegawai yang bertugas di hotel berlokasi Jalan Abdul Gani Kota Batu ini sudah tidak asing lagi dengan pria mengenakan kemeja putih ini. Malahan mereka juga menyapa sebagai tanda hormat. Dialah Edy Antoro, sang owner Hotel Kusuma Agrowisata, salah satu perusahaan Kusuma Group.
Pria dengan penampilan sederhana inipun melayani wawancara Malang Post dengan ramah menyangkut kisah perjalanan hidup hingga proses pembuatan buku. "Awalnya, saya hanya ingin membuat biografi. Tidak ada keinginan lebih atau biografi tersebut untuk apa, pokoknya buat saja," ungkap Edy Antoro membuka ceritanya.
Bapak tiga anak ini kemudian menceritakan keinginan kepada Ferry Is Mirza, kawan lamanya. Berdasarkan referensi Ferry, Edy Antoro kemudian mempercayakan penggarapan buku kepada Anwar Hudiono, mantan wartawan dan kini sudah berpengalaman membuat buku.
Anwar Hudiono sempat kesulitan mengawali tulisan mengenai biografi suami Susan Antoro tersebut. Dia seperti belum nememukan ide untuk membuat tulisan, padahal berbagai buku biografi sudah pernah di tulis. Misalnya buku berjudul Darah Guru Darah Muhammadiyah Perjalanan Hidup Abdul Malik Fadjar. Gardu Refleksi Sosial Menuju Kehidupan yang Demokratis, Dari Ken Angrok Ebes Sugiyono dan Eddy Rumpoko serta Geliat Kota Wisata Batu Periode Krusial 2007-2012.
‘’Rupa Pak Anwar menemukan sebuah literatur yang tepat sebelum menulis, yakni dengan adanya buku The Corporate Mystic dan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasan Indonesia, Sukses Berbisnis dengan Hati,’’ tambahnya kepada Malang Post di ruang lobi Hotel Kusuma Agrowisata.
Buku tersebut mengangkat EA, begitu penulis menyebut Eddy Antoro mulai leluhurnya. EA kecil, masa remaja, usia sekolah hingga cerita di balik kuliah di Universitas Negeri Jember, kisah cinta dengan istrinya serta bagaimana merintis sebuah usaha dan sukses di Kota Batu. Banyak cerita unik, mengharukan hingga perjuangan menapaki bisnis seperti sekarang yang terangkum dalam buku tersebut.
Buku yang dicetak oleh Kusuma Agrowisata Printing & Publishing Batu itu kini sudah tersebar pada Toko Buku Gramedia dan Togamas di seluruh Indonesia. Cetakan pertama sebanyak 3000 eksemplar dengan harga jual Rp 175 ribu.
Ya. Jika mendengar nama Edy Antoro, warga Kota Batu atau semua tokoh yang mengenalnya tentu akan terbayang dengan Hotel Kusuma Agrowisata, salah satu hotel bintang di kota wisata itu. Hotel tersebut memiliki fasilitas lengkap dan biasa digunakan even-even nasional. Tidak hanya itu, timnas PSSI berbagai usia hingga tim professional di Liga Indonesia hingga tim luar negeri biasa berebut menginap dan menggelar TC di hotel itu.
Hotel itu juga lengkap dengan wisata agro karena keberadaan buah apel (buah khas Batu), jambu, jeruk, strawberry tomat dan lainya. Kusuma juga memiliki produk sari apel, misalnya merk Siiplah yang sudah terkenal di seluruh Indonesia.
Dalam buku Republik Agro juga disebutkan jika kondisi areal Kusuma Agrowisata saat ini berbanding terbaik dengan tahun 1988 silam. Saat itu lahan itu berupa tanah tandus penuh bebatuan. Tidak ada fasilitas jalan atau listrik seperti sekarang. Lokasi tempat berdirinya Kusuma Agrowisata hotel itu dulunya jauh dari perkampungan dan menjadi kawasan bromocorah (semacam penjahat). Tidak ada seorangpun atau pakar pertanian manapun yang siap mengembangkan kawasan tandus itu. Namun EA akhirnya bisa membuktikan jika tanah buangan itu menjadi ladang ‘emas’.
‘’Nutrisi yang harus diperbanyak. Saya benar-benar garap lahan dengan dengan pupuk kandang dengan jumlah jauh lebih besar dari lahan biasa. Berkali-kali, kami harus mengganti bibit apel dengan yang baru karena banyak mati. Saya tidak boleh menyerah dengan kondisi seperti itu dan terbukti selama 26 tahun agrowisata, apel dan lain-lain masih tumbuh subur,’’ katanya sembari menambahkan para pakar pertanian sebelumnya sangat psimis jika lahan tandus itu menjadi lokasi agro yang subur.
Mantan Sinder (petinggi perkebunan kopi) di Jember ini juga masih ingat betul ketika mendirikan Hotel Kusuma Agrowisata tanpa adanya fasilitas listrik, air dan jalan yang baik. Dia selalu ingat ketika mengambil air dari gerojokan di pinggir jalan Payung, Songgoriti untuk kepentingan hotel. Ketika awal-awal mendatangkan pariwisata untuk petik apel, dia biasa diprotes sopir bus atau travel karena jalan yang jelek hingga kendaraan terperosok.
Sedangkan Anwar Hudiono, sang penulis tidak segan-segan menyebutkan jika dia pernah ada masalah dengan mertuanya. Malahan bertahun-tahun EA tidak bertegur sapa berawal dari EA yang merasa diasingkan untuk menggarap lahan tandus seluas delapan hektar yang sekarang menjadi komplek Kusuma Agrowisata itu.
‘’Saya menemukan informasi bahwa hubungan Pak Edy Antoro (EA) dengan ayah mertuanya, Pak Jacub Djojosubagio kurang mesra. Sayapun melakukan investigasi. Setelah cukup, saya konfirmasi kepada EA,’’ kata Anwar Hudiono.
Anwar menyebutkan EA sempat kaget dengan informasi itu karena sangat dilematis. Jika bercerita, hal itu dianggap aib. Di sisi lain, dia menginginkan biografi ditulis secara jujur, objektif dan blak kutang alias apa adanya. Berarti EA harus memberikan konfirmasi sekalipun terasa getir-pahit dengan segala risikonya.
Ketidakharmonisan itu, kata dia, mengingat mertuanya menggarap lahan tandus di Batu seluas 1,8 hektar itu. Padahal mertuanya adalah orang kaya karena pernah menjadi penyuplai tembakau parbrik rokok Gudang Garam dan bos show room mobil. (Febri Setyawan)