Berdayakan PKL, Perekonomian Bisa Dahsyat (habis)

GAGASAN sentra PKL Trunojoyo bukan konsep kosongan dan tak bersifat jangka pendek. Strategi menjaga keberlanjutan sentra PKL pun sudah digagas. Tujuannya agar usianya tak seumur jagung seperti strategi penanganan PKL yang pernah diterapkan di Kota Malang.
Strategi agar konsep ini sukses sudah dibahas dalam diskusi bersama Asisten II Setda Kota Malang, Ir Hadi Santoso di Malang Post beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui dan sebagai pembanding, Kota Malang pernah membangun sentra PKL bersifat permanen. Yakni Pasar Baru Comboran di kawasan Comboran pada tahun 2005 lalu.  Tujuan awal pembangunan pasar berlantai tiga itu untuk menampung PKL di kawasan Jalan Piere Tendean dan sekitarnya. Tapi kini, pedagang meninggalkan pasar itu lantaran sepi pembeli. Sebagian dari mereka kembali menjadi PKL.
Di halaman Pasar Besar Malang juga pernah dibuat  wisata kuliner malam hari. Namun tak berlangsung setahun, pusat wisata kuliner yang berupa deretan tenda bongkar pasang itu pun bubar.
Dua pengalaman itu menjadi catatan tersendiri. Soni, sapaan akrab Ir Hadi Santoso sudah punya strategi agar sentra PKL kuliner di Jalan Kyai Tamin yang digagasnya itu tetap berkelanjutan.
Salah satu cara agar PKL tetap bertahan di tempat yang disiapkan yakni harus ditata dan selalu mendukung mereka. “Support itu penting. Karena PKL itu manusia, harus percaya mereka,” katanya.
Selain itu, menurut mantan Kadis Perindustrian dan Perdagangan ini, penempatan PKL harus sesuai kebutuhan. Terutama kebutuhan masyarakat sekitarnya dan kebutuhan masyarakat perkotaan. Misalnya, wisata kuliner yang belakangan dibutuhkan masyarakat sebagai jujugan nongkrong di malam hari. Hal ini pun sekaligus bisa menjadi jujukan wisata kuliner bagi wisatawan asal luar Malang.
Tempat yang dipilih pun harus bikin PKL betah. Agar PKL betah tentu tempat yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Jalan Kyai Tamin yang digagas sebagai sentra PKL kuliner dinilai tempat yang tepat. Sebab memiliki banyak akses dan dekat dengan pemukiman warga. Selain itu, juga sudah disiapkan tempat parkir yang memadai dan aman.
Faktor lainnya yakni butuh pengelola. Menurut Soni, pengelola bisa saja dari kalangan non pemerintah. “Kalau ada EO yang tangani bisa saja. Pemkot bisa fasilitasi,” katanya.
Dengan adanya pengelola tersendiri yang fokus dan total menangani sentra PKL kuliner Jalan Kyai Tamin maka kawasan itu bisa lebih memikat. Sebab pengelola bisa menghadirkan unsur pemikat lain, misalnya hiburan tambahan atau hal lain yang membuat pengunjung betah dan kembali berkunjung lagi.
Disisi lain, Pemkot Malang pun harus tegas. Kawasan Jalan Mgr. Soegiyopranoto, Jalan Aris Munandar, Jalan Zainul Arifin, Jalan Sutan Syahrir, Jalan Usman Harun dan sekitar alun-alun harus steril atau bebas dari PKL pasca dipindah ke Jalan Kyai Tamin.
Tujuannya agar eks PKL di berbagai kawasan tersebut yang sudah dipindah ke Jalan Kyai  Tamin merasa adil dan tak mengundang kecemburuan sosial. Manfaat lain, kawasan yang sudah steril dari PKL menjadi lebih indah dan nyaman.
Secara umum, gagasan yang dibeber Soni ini bukan upaya menumbuhkan PKL baru. Namun hal ini sebagai cara yang efektif untuk memanusiakan PKL secara nyata. Inilah konsep pemberdayaan ekonomi wong cilik yang nyata.
“Karena PKL juga wong cilik. Mereka bisa menjadi penompang perekonomian dan bahkan menjadi potensi ekonomi yang nyata jika diberdayakan,” papar mantan Kadis PU ini.
Jika gagasan tersebut diwujudkan, maka jumlah sentra kuliner di kota pendidikan ini bertambah. Dan  ini menjadi refensi baru untuk wisata kuliner warga Kota Malang juga wisatawan.(Vandri Battu/habis)