Dibalik Semarak Penas Petani Nelayan XIV di Kepanjen (1)

PELAKSANAAN Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XIV, memang membawa berkah bagi masyarakat sekitar Kecamatan Kepanjen. Terutama mereka yang bekerja sebagai  pengayuh becak dan tukang ojek. Jasa mereka ‘laris manis’ digunakan oleh peserta Penas untuk menuju  lokasi pembukaan Penas di Stadion Kanjuruhan Kepanjen.

Terik panas matahari di wilayah Kecamatan Kepanjen, siang kemarin cukup menyengat. Sekalipun memakai jaket dan topi untuk melindungi kulit dari sinar matahari, namun masih sangat terasa panas. Bahkan saking terasa panasnya, keringat pun bercucuran sampai membasahi baju.
Suhu udara semakin panas, karena volume kendaraan di Kecamatan Kepanjen cukup padat dan berjalan merayap. Meningkatnya arus kendaraan ini, karena banyak kendaraan seperti mobil mengantarkan peserta Penas, yang mau mengikuti menghadiri pembukaan Penas oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Karena melihat volume kendaraan yang cukup padat, untuk menghindari kemacetan serta penumpukan kendaraan menuju Stadion Kanjuruhan, petugas keamanan dari Polres Malang dan Dishub Kabupaten Malang terpaksa menutup jalur. Jalan Panji serta Jalan Trunojoyo disterilkan sejak pagi.
Jalur hanya bisa dilalui kendaraan tamu VIP atau wartawan yang mau meliput. Sedangkan kendaraan umum dilarang melintas. Sekalipun kendaraan tersebut mengantarkan rombongan peserta Penas. Kendaraan untuk peserta Penas, diarahkan parkir di lapangan Penarukan Kepanjen, atau di sepanjang Jalan Sultan Agung Kepanjen.
Karena kendaraan tidak bisa masuk, peserta Penas terpaksa harus jalan kaki menuju ke Stadion Kanjuruhan. Jarak yang ditempuh lumayan cukup jauh, hampir sekitar dua kilometer. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh para tukang ojek dan pengayuh becak di Kepanjen untuk mengais rejeki. Mereka menawarkan jasanya kepada setiap peserta Penas yang jalan kaki.
Jumlah para tukang ojek dan becak ini pun, lumayan cukup banyak.  Mereka berjejer di Jalan Panji Kepanjen. “Ayo ojek…ojek…ojek.. pak..bu…,” kata beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya. “Becak pak…becak bu,” sahut tukang becak lain.
Bagi peserta Penas yang tidak mau capek dan buang tenaga dengan jalan kaki mereka akan langsung menggunakan jasa tukang ojek dan becak. Tetapi bagi yang mau irit biaya serta tidak kenal lelah, memilih berjalan kaki bersama rombongan.
Namun tidak sedikit dari peserta Penas yang menggunakan jasa mereka. Baik saat menuju ke Stadion Kanjuruhan ataupun balik ke tempat parkir. Mereka ada yang langsung naik ojek dan becak tanpa menawar, tetapi ada juga yang menawar.
Rata-rata untuk jasa tukang ojek sekali antar sebesar Rp 10.000. Sedangkan jasa untuk tukang becak antara Rp 10.000 – Rp 20.000. Setiap tukang ojek, dalam beberapa jam saja sudah beberapa kali mengantarkan peserta Penas.
“Satu kali antar ongkosnya Rp 10.000. Saya mulai jam 09.00 sampai 12.00, sudah tujuh kali mengantarkan peserta Penas. Lumayan mas, ini menjadi berkah dan keuntungan bagi saya. Kalau tidak ada kegiatan Penas ini, biasanya seharian penuh hanya mendapat Rp 30.000,” tutur Busiri, warga Jalan Sumedang – Kepanjen yang setiap harinya memang bekerja sebagai tukang ojek di sekitar Pasar Kepanjen.
Hal senada juga disampaikan beberapa tukang ojek lainnya. Mereka mengaku bisa mendapat keuntungan dan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya sebenarnya bukan tukang ojek. Tetapi melihat banyak peserta Penas yang membutuhkan ojek, ya terpaksa menjadi tukang ojek dadakan,” ujar Soleh.
Heri salah satu tukang becak, mengatakan untuk sekali antar mulai dari pertigaan Jalan Panji sampai perempatan Yon Zipur V Kepanjen, ongkos yang diterima untuk sekali jalan sebesar Rp 20.000. “Saya sudah mengantarkan enam kali. Lumayan bisa untuk tambahan mencukupi kebutuhan keluarga,” kata Heri salah satu tukang becak.
Purna, salah satu peserta Penas dari Sulawesi Tengah mengatakan terpaksa naik becak karena dia sudah tidak kuat jalan. “Tadi dari parkiran mobil, sebetulnya mau jalan saja. Tetapi di tengah perjalanan kaki saya tidak kuat, ya terpaksa menggunakan jasa tukang becak dengan membayar Rp 10.000,” papar Purna.(agung priyo)