Di Balik Semarak Penas Petani Nelayan XIV di Kepanjen (2)

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, menyebut anggaran kegiatan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XIV di Kepanjen, selama sepekan sekitar Rp 28,5 miliar. Jumlah biaya yang dikeluarkan itu, memang tidak sedikit. Namun jumlah perputaran uang yang terjadi, selama kegiatan Penas sangat besar. Lebih dari 10 kali lipat biaya anggaran, yaitu sekitar Rp 350 miliar. Siapa yang diuntungkan adalah masyarakat sekitar, terutama pedagang di sekitar area Penas.

Volume kendaraan di Kecamatan Kepanjen, kemarin cukup padat. Terutama di Jalan Panji dan Jalan Trunojoyo menuju arah Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Puluhan bahkan ratusan kendaraan seperti mobil, bus serta sepeda motor yang menuju ke lokasi Penas, harus berjalan merayap.
Jika kondisi jalan normal (saat tidak ada kegiatan, red), perjalanan dari pertigaan Jalan Panji ke Stadion Kanjuruhan tidak sampai 10 menit. Namun ketika saat ada acara seperti Penas dan mengakibatkan arus kendaraan macet, perjalanan ditempuh hampir satu jam. Itu untuk sepeda motor. Kalau mobil, mungkin bisa sampai berjam-jam.
Jenuh bercampur emosi, mungkin akan dirasakan setiap orang ketika terjebak macet. Belum lagi, ditambah dengan kondisi cuaca yang panas. Bagi pengendara yang tidak sabar, pasti berulang kali membunyikan klakson. Tetapi bagi yang sabar, pasti akan menunggu.
“Meskipun diklakson berulang kali sampai jebol, kalau memang belum jalan ya tetap saja,” sindir salah satu pengemudi mobil pada pengemudi mobil lain yang membunyikan klakson mobilnya.
Di sepanjang Jalan Trunojoyo Kepanjen, banyak pedagang kaki lima (PKL) berjualan. Mereka saling menawarkan dagangannya kepada peserta Penas yang memilih jalan kaki karena kondisi jalanan macet. Ada yang menawarkan pakaian, tas, es bahkan alat membersihkan kotoran di telinga.
Di dalam area Stadion, juga tidak kalah banyak. Jumlah PKL yang menawarkan dagangannya sangat banyak. Mereka menempati pinggir jalan atau teras depan kios-kios di Stadion Kanjuruhan. Para pedagang itu, kebanyak berasal dari luar daerah.  
Bahkan mereka rela mengeluarkan uang jutaan rupiah, untuk menyewa tempat untuk berjualan. Namun target omzet kotor yang harus diperoleh selama pelaksanaan Penas, juga besar. Tidak hanya puluhan juta, tetapi ratusan juta.
Seperti warung masakan Padang yang datang langsung dari Sumatera atau Sate Soepardi asal Pati Jawa Tengah. Pemilik menyewa dua stan tenda utama di area pameran Penas untuk membuka warung satu. Dan menyewa satu kios UPTD Stadion Kanjuruhan untuk dapurnya. Sate Soepardi ini, selalu ada setiap kegiatan Penas.
Saat Penas XIII di Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, warung Sate Soepardi mendapat omzet kotor sekitar Rp 3 miliar. Sedangkan di Penas XIV Kepanjen, targetnya mungkin juga tidak jauh beda. “Kalau target pasnya tidak tahu, kemungkinan sekitar Rp 2 miliar,” kata salah satu pegawai di warung Sate Soepardi.
Target itu, besar kemungkinan bisa tercapai mengingat harga sekali makan juga mahal. Untuk makan sup daging plus nasi sebesar Rp 40 ribu. Dan seporsi sate sebesar Rp 70 ribu. “Tadi saya sup makan bertiga habis Rp 240 ribu. Masakannya memang enak dan lezat, yang membeli juga banyak,” kata salah satu peserta Penas yang baru selesai makan di warung sate Soepardi sembari cepat-cepat pergi.
Omzet pendapatan besar, juga ditarget pedagang asli kios Stadion Kanjuruhan. Meski hanya sekedar berjualan kopi atau minuman dan nasi, target selama sepekan harus mendapat Rp 100 juta. “Ya dibanding hari biasa, pendapatan saya perhari bisa lebih lima kali lipat. Kalau melihat seperti ini, saya berani menargetkan bisa mendapatkan Rp 100 juta selama kegiatan Penas ini, dua jam saja tadi dapat Rp 4 juta,” tutur Awang.
Target yang sama juga dikatakan Syam Harris, pemilik kios lainnya. Dia berani menargetkan pendapatan kotor sampai Rp 100 juta lebih, meski kiosnya harus buka selama 24 jam nonstop. “Kalau secara hitung-hitungan kotor, untuk mendapat Rp 100 juta selama kegiatan Penas, kemungkinan bisa. Meskipun saya menjual minuman dan makanan dengan harga normal dan sama sekali tidak menaikkan harga,” papar Syam Harris.(agung priyo)