Di Balik Semarak Penas Petani Nelayan XIV di Kepanjen (habis)

BERKUMPUL Peserta Penas Petani Nelayan XIV, dari Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan saat berkumpul bersama di dalam rumah pemondokan.

Nginap di “Hotel” Pedesaan,  Makan Berbonus Tahu-Tempe dan Ikan Asin
PELAKSANAAN Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XIV di Kepanjen, sudah berjalan tiga hari. Penas yang diikuti 34 Provinsi di seluruh Indonesia ini akan berakhir pada Kamis (12/6). Banyak cerita, terutama berkah yang diperoleh masyarakat sekitar. Berkah dirasakan tukang ojek, pengayuh becak, pedagang bahkan warga yang rumahnya dijadikan pemondokan peserta Penas.

Aroma sedap ikan asin goreng, tercium saat Malang Post berhenti di depan salah satu rumah di Jalan Sidomaju Kelurahan Ngadilangkung Kecamatan Kepanjen. Saking sedapnya, perut langsung terasa lapar. Membayang makan ikan asin dengan sambal bajak plus petai. Hmm…pasti terasa enak sekali.
Tak lama berhenti, seorang pria separuh baya keluar dari rumah yang juga berjualan pracangan. Hanya mengenakan celana pendek sepanjang lutut tanpa mengenakan baju, pria yang rambutnya sudah beruban bertanya kepada Malang Post.  “Ada apa ya,” sapanya dengan nada lembut.
Ketika ditanya apakah pemilik rumah yang dijadikan hotel alias tempat pemondokan peserta Penas, pria ini mengiyakan. Saat tahu, yang datang Malang Post, ia langsung memanggil istrinya, Suswati yang sedang memasak di dapur. Sembari membawa celemek dan wajahnya berkeringat, Suswati langsung buru-buru menemui.
“Maaf, saya sambil goreng ikan asin ya. Karena tamunya (peserta Penas) minta dibuatkan lauk ikan asin goreng,” tutur Suswati.
Di rumah Suswati yang berada di ujung perempatan ini, ada lima orang laki-laki peserta Penas yang mondok di rumahnya. Kelimanya berasal dari Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Selama menginap, kelima peserta ini disiapkan ruang tamu yang disulap menjadi kamar tidur.
Mereka mondok sejak tanggal 5 Juni. Rencananya mereka akan mondok sampai pelaksanaan Penas berakhir pada Kamis 12 Juni. Selama mondok di rumah warga, setiap peserta membayar Rp 60 ribu perhari. Biaya itu, selain tidur dan mandi, juga makan dua kali sehari, yaitu pagi dan malam.
“Kalau pas tanggal 5 dan 6, bayarnya Rp 100 ribu empat kali makan. Namun ketika tanggal 7 sampai 12, bayar Rp 60 ribu dan dua kali makan,” ujar Suswati, yang menitipkan anak-anaknya di rumah nenek selama rumahnya ditempati peserta Penas.
Menu masakan yang diberikan kepada peserta, setiap hari berubah. Karena menu masakan sudah dijadwalkan dari pihak kelurahan. Diantaranya seperti sayur lodeh, sayur asem dan soto. Lauknya pun juga diatur, seperti setiap hari harus ada tempe, tahu, kerupuk dan sambal.
Bagi warga Sulawesi Selatan, makan sayur bersantan seperti lodeh dan manis memang sangat asing. Karena di daerahnya masakan setiap harinya selalu sayur asam (sayur bening) dan pedas. Mereka harus bisa membiasakan menu masakan jawa.
Bahkan jika tidak suka lauk tahu-tempe, mereka meminta digorengkan ikan asin. “Pesertanya yang mondok di rumah, sangat baik dan sopan. Makan masakan apapun menerima dan dimakan. Hanya kalau bosan dengan tahu-tempe, minta digorengkan ikan asin,” tutur wanita berusia 45 tahun ini.
Keberadaan peserta Penas ini membawa berkah bagi keluarga Suswati, kesibukannya bertambah. Sebab biasanya yang sehari memasak sekali pagi saja, selama sepekan ini harus memasak dua kali, pagi dan sore. Bahkan karena kamar mandi rumahnya hanya satu, untuk mandi dia mengalah dengan menumpang di rumah ibunya yang berada di sebelah rumahnya.
“Pembayaran biaya pemondokan, diberikan setiap dua hari sekali. Kalau saya pembayarannya lewat pihak kelurahan. Tetapi ada juga peserta yang membayar langsung. Rumah yang dijadikan pemondokan ini, disurvei sekitar enam bulan lalu oleh Ketua RT. Ada yang mengajukan, ada juga yang ditawari. Kalau saya mengajukan supaya rumah ditempati pemondokan,” jelasnya.
Sama halnya dengan yang dirasakan Suratun. Meski mendapat berkah dengan adanya peserta Penas yang mondok di rumahnya, dia setiap hari harus memasak dua kali. Dan karena rumahnya ditempati pemondokan peserta Penas, sekeluarga memilih mengungsi sementara di rumah ibu yang mepet dengan rumahnya.
“Kalau masak menunya sudah ditentukan jadwalnya. Tetapi karena menunya tidak enak, kadang saya membuatkan menu tambahan sendiri. Karena kasihan sekali mereka datang dari jauh. Apalagi yang memondok di rumah kami orangnya baik dan sopan,” papar Suratun.
Andik Iskandar, Ketua Kontingen Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa menu masakan di Sulsel dan Jawa sangat beda sekali. Di Sulsel setiap harinya selalu masak sayur asam. “Tetapi di Jawa ada masakan santan yang berlemak. Lauknya juga tempe dan tahu. Kalau di tempat kami lauknya selalu ikan. Tetapi kami berusaha menyesuaikan,” katanya.
Hamid SP MSi, salah satu peserta Penas asal Kabupaten Luwu juga menyatakan bahwa menu masakan berbeda dengan tempat asalnya. Tetapi dia mengatakan bahwa kondisi di Malang bagus dan enak ketimbang di tempat asalnya. Di Malang (Kepanjen) kondisinya dingin dan dekat dengan perkotaan. “Sedangkan di tempat saya, dari kota menuju ke kampung halaman (Kabupaten Luwu) sekitar 300 kilometer,” papar Hamid.
Di rumah lain, juga ada satu rumah ditempati sekitar 14 peserta Penas perempuan. Mereka makannya sehari dua kali. Menu masakan juga diakui sangat berbeda, dengan mengatakan menu masakan bersantan banyak mengandung lemak. Kadang ketika masih lapar, mereka memilih memasak mie instant sendiri.
Di Kecamatan Kepanjen, sesuai data ada 1.821 rumah yang terdata di 18 desa/kelurahan yang sudah disewa oleh peserta Penas dari beberapa daerah. Setiap rumah, ada 5 hingga 15 orang yang menyewa dengan harga Rp 60.000 plus makan dua kali.
Rumah untuk pemondokan, tidak sembarang rumah. Tetapi pemondokan harus benar-benar memenuhi syarat. Yaitu minimal memiliki dua atau lebih kamar tidur. Kamar mandi harus dan ruang tamu harus standar dan keberadaan air bersih mencukupi.(agung priyo/habis)