23 Tahun Buat Gitar, Langganan Musisi Nasional

KOTA MALANG tak hanya terkenal gudangnya musisi. Namun juga memiliki perajin gitar skala nasional. Salah satunya Andi Oding, perajin gitar Jalan BS Riadi Gang 8 No 178 Kota Malang. Gitar buatan Andi sudah diakui musisi nasional, sebut saja Bondan Prakoso hingga band manajemen Ahmad Dhani.


Beberapa waktu lalu, Malang Post bertandang ke tempat produksi milik Andi Oding, yang sekaligus menjadi rumah tinggalnya. Penuh sejarah, sebab dia mengaku mulai merintis usaha yang sekaligus hobinya ini dari tempat tersebut. Tepatnya, dari tahun 1991. Awalnya, dia hanya membuat untuk koleksi pribadi saja.
“Ya beginilah tempat usaha sekaligus rumah keluarga saya. Sederhana, tetapi banyak sejarahnya,” ungkap Andi, mengawali cerita.  “Saya membuat gitar untuk dipakai sendiri, sebab jaman dulu, gitar termasuk barang mewah, walaupun harganya Rp 200 ribu,” imbuh Andi.
Andi memang seorang musisi. Sejak masih muda, dia sudah memiliki grup band, walaupun masih dalam tingkatan anak sekolah. Dia mengoperasikan gitar, dan mengakui suka musik aliran rock. Akan tetapi, dia bisa memainkan berbagai genre sebagai pembuktian seorang gitaris yang andal.
“Akhirnya, ketika gitar pertama saya mulai usang, coba-coba untuk membuat sendiri. Setelah bosan, buat lagi yang lain,” jelas dia kepada Malang Post.
Setelah itu, kerabatnya pun mulai mendukung Andi untuk memproduksi gitar dan dijadikan sebuah bisnis. Apalagi, pria lulusan SMAN 8 Kota Malang ini baru saja berhenti dari pekerjaannya. “Daripada tidak memiliki pemasukan, akhirnya saya pun memutuskan  hobi membuat gitar dijadikan pekerjaan. Sebab, selama tujuh tahun juga beberapa koleksi saya sudah diminati oleh orang lain,” paparnya panjang lebar.
Dia mengungkapkan, sudah 16 tahun membuat gitar tersebut menjadi pekerjaan tetapnya. Dari hasil pekerjaan rumahan itu pula, dia bisa menafkahi anak dan istrinya. “Mereka mendukung pekerjaan saya. Memang lebih enak bekerja untuk diri sendiri, pasti selalu berusahan melakukan yang terbaik. Jika jelek, pelanggan kan lari,” terang pria yang kerap malu-malu ketika bercerita tentang pekerjaannya itu.
Andi pun menceritakan, membuat gitar banyak sekali kendalanya. Terlebih, ketika 10 tahun yang lalu. Produksi rumahan seperti miliknya, tidak memiliki cetakan gitar layaknya pabrik besar yang memproduksi alat musik. Sehingga, dulu pun dia sempat berkeliling dari studio satu ke studio lain untuk mendapatkan model gitar agar produksinya bervariasi.
“Proses membuat bentuk atau mal pada matras itu yang susah. Harus pinjam ke orang lain. Berbeda dengan sekarang, ketika ada model baru, dia tinggal browsing di internet,” tambahnya.
Awalnya, dia pun hanya membatasi dua pemesan dalam sebulan. Sebab, untuk memperoleh hasil maksimal, dia membutuhkan waktu hingga sebulan pula untuk membuat gitar. Menurut bapak dua anak ini, membuat gitar harus dari sepenuh hati. Bila hati terasa kurang pas, Andi memutuskan sejenak berhenti dan menghibur diri.
Memancing, salah satu solusi baginya ketika dia merasa mentok untuk membuat gitar. Beberapa jam setelah itu, moodnya pun muncul lagi. “Makanya, dulu sebulan ada pesanan dua gitar saja sudah cukup. Sekarang, sudah enam gitar dalam sebulan,” urai pria berjenggot ini.
Dia pun menceritakan, bila produksinya dipakai oleh artis tanah air. Satu nama yang paling melekat, Bondan Prakoso. “Bondan pernah pesan disini, yang mengenalkan temannya. Kebetulan, dia dulu kan tinggal di Malang,” terangnya.
Selain Bondan, grup band yang selalu bersama dengan dia yakni Fade to Black. Masih ada lagi dari grup band Melayu yang lagu-lagunya hits. “Gitarnya Ibanez ada lambang Garuda. Saya hafal sekali, itu buatan saya. Yang pesan mungkin teman dia,” tandas dia.
Sementara, untuk artis lain seperti Noldi dari Erwin Gutawa Orchestra dan gitaris yang tergabung dalam manajemen artis Ahmad Dhani. Yang lain, gitaris atau bassis grup band lokal Malang juga kerap memesan gitar pada Andi.
Selain itu, dia mengakui gitarnya kerap dipesan hingga luar kota seperti Balikpapan, Lombok hingga Makassar. Ternyata, terkenalnya produksi dari Andi ini berkat mahasiswa luar kota yang tinggal di Malang selama berkuliah. Ketika balik ke kampung halaman, mereka coba sampaikan kepada kerabatnya. “Jadinya, banyak pesanan dari luar kota,” imbuh pria berdarah Madura dan Sunda ini.
Satu produksi gitarnya, dibandrol antara Rp 2,5 juta hingga Rp 7 juta. Itu untuk harga normal. Bila permintaan dengan spesifikasi dan kesulitan yang tinggi, bisa menembus belasan juta. Terkadang, ada pemesan yang juga membawa perlengkapan sendiri.
“Hanya butuh body stang dan badan gitar saja. Tetapi, bentuknya pasti aneh-aneh,” tegasnya.
Untuk saat ini, dia menjanjikan waktu tiga bulan untuk pembuatan gitar atau bass. Bisa lebih cepat dari itu jika modelnya sudah familiar. Andi pun enggan mengajak orang lain lebih banyak lagi untuk memproduksi gitar. Cukup satu orang yang kini menjadi partnernya.
Sebab, dia mementingkan kualitas produksi gitarnya. Andi tidak ingin kejar target memproduksi banyak gitar, tetapi tidak berkualitas. Dia pun turun tangan sendiri untuk pengecekan kualitas suara, menyesuaikan tipe dari gitar. “Harus di check sound, sesuai dengan permintaan pelanggan atau tidak. Gitar cenderung untuk bermain rock, blues, jazz atau rock and roll, pasti memiliki ciri dan karakteristik tersendiri,” pungkas dia.(Stenly Rehardson)