Anak Cerdas, Tinggalkan Firasat Tumpeng Pungkur

Korban Petaka Flamboyan, Sang Ayah Tak Tahu Permatanya Meninggal  BATU- Ada permintaan aneh yang diajukan Ayunda Rebbeca Dwira Satya Kurnia, 4 tahun sehari sebelum tewas tertimpa pohon Flamboyan, Selasa dini hari lalu. Yakni, dia minta kepada Sulistyowati, ibunya untuk dibuatkan tumpeng pungkur. Itulah salah satu firasat sebelum petaka yang dialami Aris Kurniawan bersama anak satu-satunya itu. 
 
Bangunan rumah sederhana di Jalan Utomorejo RT 5/RW 03 Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, hingga petang kemarin masih dibanjiri pelayat. Sang pemilik rumah, Aris Kurniawan tidak bisa menemui petakjiyah lantaran kondisinya masih terluka parah di Rumah Sakit. Sebagai gantinya, Sulistiyowati yang sangat terpukul dan terus menangis, terpaksa menemui tamu-tamunya.
Sulistyowati memang merasa terpukul lantaran kehilangan anak semata wayangnya ini. Sedangkan sang suami, kondisinya juga masih kritis. Pihak keluarga sengaja belum mengabari Aris tentang kematian Ayunda, lantaran ditakutkan shock.”Saya dan keluarga memang belum mengabarinya (Aris), nunggu kondisinya membaik baru saya ceritakan langsung,”urai Sulis, sapaan akrabnya.
Semestinya, tahun ini Ayunda masuk TK, setelah tuntas belajar dan bermain di sebuah PAUD. Ayunda tergolong anak pintar dan cerdas, super aktif dan sangat lucu. Selama ini, almarhum paling doyan ngajak orangtuanya untuk jalan-jalan, termasuk paling suka bila diajak sang ayah pergi memancing ikan.
Sehari sebelum musibah ambruknya pohon Flamboyan dekat Makoramil Batu Jalan Imam Bonjol, kata Sulis, memang dia merasakan tanda-tanda yang diluar kebiasaan. Dimana Ayunda meminta Tumpeng Pungkur ketika berada di rumah almarhum pamannya. 
Tumpeng Pungkur sendiri, biasa disajikan pada acara pemakaman pria atau wanita lajang. Jenis tumpeng ini terbuat dari nasi putih yang dipotong dua vertical, lalu diletakkan saling membelakangi untuk memisahkan kehidupan dan kematian. 
Sebelum kejadian, kata Sulis, anak dan suaminya sedang berkunjung ke rumah kerabat di belakang Bank Rinjani Jalan Dewi Sartika. Berangkat dari rumah sekitar pukul 19.00, nah saat perjalanan pulang itulah keduanya tertimpa pohon tumbang. ” Ketika berangkat, kami tak merasakan firasat apapun karena memang suami saya sering keluar mengajak Ayunda,”ungkap perempuan 29 tahun ini. 
Keluarga sudah mengihlaskan kepergian sang buah hati. Meski demikian, belum bisa melupakan apalagi diusianya yang baru 4 tahun tiga bulan, yang notabene masih lucu-lucunya. Kenangan semasa hidup, sangat sulit dilupakan.”Anaknya kalau diajak jalan-jalan paling senang, apalagi kalau diajak foto-foto,”kenang Sulis, matanya berkaca-kaca.
Disisi lain, berkaca dari ambruknya Flamboyan yang membawa korban jiwa itu, Kepala Dinas CKTR, Arif Setyawan mengaku sudah melakukan pengecekan terhadap semua pohon di pinggiran jalan kota ini.Tidak dipungkiri, di sepanjang jalan baik itu jalan protokol dan perkampungan memang banyak sekali pohon jenis Flamboyan.
”Kami tidak bisa menebang semua pohon Flamboyan, karena sampai sekarang belum ada Perwali. Namun bila dilihat pohon sudah tua dan kondisi fisiknya membahayakan, ya ditebang,’’jelasnya. (miski/lyo)