Sumbangkan Gaji demi Transportasi Gratis Para Siswa

Langkah guru SMKN 13 Malang patut ditiru sekolah lainnya. Para guru di sekolah itu, rela menyumbangkan sebagian gaji untuk kebutuhan siswanya. Sekolah di Villa Bukit Tidar No. 13 Lowokwaru, Kota Malang, memiliki siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga prasejahtera.


Kenyataan tersebut menggugah hati guru di SMKN 13. Mereka tak sekedar menjadikan pekerjaan di sekolah sekedar profesi saja, tapi juga sebagai ladang mencari amal. Mereka menyisihkan sebagian gaji untuk siswa. Terutama untuk kebutuhan transportasi siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah, namun tidak memiliki kendaraan pribadi.
SMKN 13 Malang merupakan salah satu lembaga pendidikan inspiratif yang layak menjadi panutan bagi sekolah-sekolah lain. Sekolah yang terletak di Villa Bukit Tidar tersebut adalah sekolah gratis, sehingga sebagian besar siswa berasal dari keluarga prasejahtera.
Meski gratis, pelayanan yang diberikan oleh guru SMKN 13 Malang kepada siswanya, terbilang jempolan. Tidak hanya melayani bidang akademik di kelas, guru juga peduli proses siswa untuk sampai ke sekolah. Untuk itu, setiap bulan guru di sekolah ini menyisihkan sebagian gaji untuk membiayai transportasi siswa.
“Awalnya, antar-jemput siswa kami yang berdomisili jauh seperti Kebonagung, Dau, Pakis dan Bumiaji berasal dari keluarga miskin, dibiayai oleh Zakat Infaq Sodaqah (ZIS) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang,” ujar Kepala SMKN 13 Malang, Husnul Chotimah kepada Malang Post.
Dengan menggunakan fasilitas tersebut, lanjut Husnul, ia dan guru merasa tidak nyaman. Melalui musyawarah, akhirnya guru sepakat untuk ‘patungan’ menyewa angkot. Jadilah sejak April lalu guru menyediakan satu unit angkot yang mengantar-jemput siswanya, dengan biaya Rp 750.000 perbulan.
Nominal sumbangan yang diberikan oleh guru setiap bulannya, tidak sama. Bagi PNS golongan IVA, nominalnya Rp. 80 ribu, Rp.70 ribu bagi golongan IIIC, Rp.67.500 bagi golongan IIIB, Rp.65 ribu bagi golongan IIIA, dan Rp.115 ribu bagi kepala sekolah. Sedangkan bagi non PNS tidak ada jumlah minimal yang ditentukan.
“Di sekolah kami ada lima guru PNS golongan IVA, satu orang golongan IIIB, lima orang golongan IIIA dan satu orang golongan IIIC. Dari sumbangan tersebut kami mengumpulkan sedikitnya Rp. 977.500, ditambah dengan sumbangan-sumbangan insidentil dari sekitar 30 guru non-PNS,” jelas Husnul.
Dengan Rp.750 ribu per bulan, secara tidak langsung SMKN 13 Malang sudah menghemat Rp. 200 ribu per siswa atau Rp.2,4 juta untuk 12 siswa.  Selain mencover transportasi, menurut Husnul, dana tersebut juga digunakan untuk keperluan siswa lainnya. Misalnya untuk Praktik Kerja Industri (Prakerin) dan diklat-diklat siswa, khususnya jurusan Pelayaran yang memakan dana tidak sedikit. Namun karena sisa dari penyewaan angkot tidak banyak, seringkali guru kembali iuran.
Terdapat 12 siswa yang menggunakan jasa antar-jemput angkot sewaan itu. Setiap pukul 05.30 WIB mereka berkumpul di depan Kantor Disdik Kota Malang Jalan Veteran menuju sekolah. Demikian pula saat pulang sekolah, sopir angkot mengantar mereka hingga ke depan kantor Disdik Kota Malang.
Salah satu siswa yang memanfaatkan fasilitas gratis itu adalah Evi Rizki Amalia Putri. Siswi kelas XI Keperawatan tersebut bertempat tinggal di Asrikaton, Pakis, Kabupaten Malang. Setiap pukul 05.00 pagi ia menuju Disdik dengan diantar orangtua atau jika terpaksa menggunakan angkot AL. Tanpa angkot sewaan sekolah, Evi harus mengeluarkan biaya transportasi sebesar sebesar Rp.200 ribu perbulan.
“Bukan hanya mahal, tapi juga lama karena angkot jalur JDM (Joyogrand – Dinoyo – Mergan) sangat jarang lewat,” ungkap gadis berjilbab itu.
Evi bersyukur, di tengah keterbatasan materi, ia tidak kehabisan perhatian dari guru. Menurutnya, pengorbanan gurunya ini menjadi salah satu cambuk baginya untuk semakin berprestasi.
Hal senada diungkapkan oleh Cahaya Karunia Suci. Siswi kelas X Keperawatan tersebut malah memiliki pengalaman mengesankan selama menggunakan angkot. Seringkali sopir angkot sewaan sekolah itu menasihatinya untuk belajar lebih tekun.
“Kata pak sopir, kami beruntung memiliki guru yang luar biasa. Karena itu saya bersemangat, meski harus jalan kaki dari Betek ke kantor Disdik di pagi buta untuk mengirit ongkos, saya tidak merasa capek,” ujarnya.
Menurut data yang disampaikan pengelola dana sumbangan, Wiwik Wijayanti, SH, dana dialokasikan untuk membantu biaya operasi siswa di Rumah Sakit, bantuan untuk siswa yang berada di asrama, menambah gaji tenaga sekolah, dan prakerin siswa.
“Untuk itu, kami bersyukur saat sopir angkot itu mengatakan tidak akan minta ongkos, hanya sekadar uang bensin saja. Jadi jika ada tambahan siswa yang harus menggunakan angkot di tahun ajaran baru nanti, kami bisa menambah angkot,” ujarnya.
Salah satu guru SMKN 13 Malang, Dra Tri Endarwati, MM, mengungkapkan, ia tidak terbebani dengan sumbangan bulanan tersebut. Pasalnya, di kalangan guru SMKN 13 Malang, membiayai siswa sebagai anak asuh bukan hal yang langka. Nyaris setiap guru membantu setidaknya satu siswa miskin.
“Kami tidak keberatan. Malah, dengan begitu hubungan kami dengan siswa semakin erat, dan mereka juga semakin bersemangat untuk meraih prestasi. Seperti yang terbaru yaitu juara I nasional piala coca cola,” terang guru Biologi tersebut.(Layli Shalima)