Dari Diskusi Gerakan Menabung Air (Habis)

Setiap RW Bisa Bangun Sumur Injeksi
Pembuatan sumur injeksi atau sumur resapan yang dipaparkan Dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Dr Ery Suhartanto ST MT saat diskusi pemantapan Gerakan Menabung Air (GEMAR), di Kantor Redaksi Malang Post, tidaklah mahal. Setiap RW bisa membuat sumur resapan. Lokasinya pun tidak terlalu sulit karena bisa dibangun di gang-gang kecil seperti yang dicontohkan di wilayah Kelurahan Penanggungan dan RW 23 Purwantoro.

Ery Suhartanto juga memberikan desain sumur injeksi yang sangat sederhana. Persyaratan sumur injeksi ini diantaranya ditempatkan di lahan yang relatif datar. Air yang masuk ke dalam sumur resapan atau sumur injeksi merupakan air hujan yang tidak tercemar.
‘’Penempatan sumur resapan juga memperhatikan keamanan bangunan sekitarnya serta memperhatikan peraturan daerah setempat. Selain itu hal-hal yang tidak memenuhi ketentuan harus mendapatkan ijin dari instasi yang berwenang,’’ kata Ery dalam diskusi.
Selain itu Ery juga memaparkan manfaat sumur injeksi. Diantaranya bisa mengurasi aliran permukaan sehingga dapat mencegah serta mengurangi terjadinya banjir dan genangan air. Mempertahankan dan meningkatkan tinggi permukaan tanah, mengurangi erosi dan sedimentasi, mengurangi dan menahan instrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan kawasan pantai, bisa mencegah penurunan tanah serta mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.
Sedangkan persyaratan teknis pembuatan sumur injeksi yakni kedalaman air tanah minimum 1,5 meter saat musim hujan. Struktur tanah yang digunakan memiliki nilai permeabilitas tanah lebih dari 2,0 sentimeter per jam serta jarak minimal penempatan sumur resapan terhadap air hujan.
Tubuh sumur injeksi terbuat dari batu bata porus yang dapat meresap air. Di dalamnya diberi pasir dan kerikil yang berukuran kecil atau ijuk serta batu berukuran sedang.
Sementara intake sumur terdiri dari beberapa lubang dan saluran pipa yang mengarah ke tubuh sumur. Penutup lubang sumur yang terbuat dari beton dengan beberapa lubang. Tangga inspeksi terbuat dari beton berlapis paralon. ‘’Tangga ini berfungsi memeriksa sumur jika sewaktu-waktu dibersihkan. Tangga terbuat dari pipa PVC karena bisa tahan lama dan tidak karatan. Beda dengan besi yang bisa rusak,’’ katanya.
Selain memberikan contoh desain sumur injeksi atau sumur resapan, Ery Suhartanto juga tujuan dan manfaat resapan biopori, tempat pembuatan bipori, alat yang digunakan hingga bahan pembuatan hingga langkah pembuatannya. Baik biopori maupun sumur resapan ini diharapkan bisa disadari masyarakat dan akan diterapkan di masing-masing RW sebagai bentuk riil Gerakan Menabung Air. Pembuatan biopori ini lebih sederhana dan biayanya tidak terlalu mahal. Selain itu, setiap rumah bisa membuat biopori di sekitar rumahnya.
Dalam diskusi yang digelar di Kantor Redaksi Malang Post itu dihadiri juga Dekan Fakultas Teknik yang sekarang sudah menjadi Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr M Bisri, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Wasto, Saiful Husni dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim, Dosen Fakultas Teknik UB Dr Ery Suhartanto ST MT, Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah Kota Fakultas Teknik UB Mustika Anggraeni ST MSi, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Malang M Arif, wakil Perhimpunan Mahasiswa Pengarian UB, perwakilan mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota UB, Mahasiswa Teknik Pengairan FT UB, Ketua RW 23 Purwantoro Ir Bambang Irianto beserta warganya. (Soeparijono-Habis)