Helikopter Mini Pembawa Kamera, Terbang Sampai Makassar

Jangan pernah meremehkan mimpi anak desa. Meskipun fasilitas yang dimiliki bagaikan bumi dan langit dengan anak kota, semangat mereka bisa mengalahkan segalanya.  Berkat kemauan dan kerja keras, siswa dan guru SMK Budi Mulia Pakisaji, berhasil menciptakan Hexacopter atau helikopter mini.
 
Boleh jadi di zaman sekarang, Indonesia sedang dilanda krisis melek teknologi. Saat banyak anak-anak dan orang tua hanya mengincar gadget sebagai sarana meningkatkan status sosial, SMK Budi Mulia sudah tuntas dalam hal ini. Barangkali gadget mereka tidak seberapa canggih, namun kecerdasan dan kegigihan mereka patut diacungi jempol.
Adalah Hexacopter BM-02, helikopter mini dengan fungsi mutakhir, mengangkat kamera sampai ketinggian 400 meter. Dikendalikan dengan remote control, perangkat ini bisa memotret sudut pandang tersulit sekalipun dari udara.
“Ide ini mulanya berasal dari siswa-siswi kami di jurusan multimedia. Mereka mengalami kesukaran untuk mengambil potret dari ketinggian,” ujar Wiyono Peetruk, guru SMK di Pakisaji, sekaligus tim pengembangan Hexacopter 02 ini.
Usai berkoordinasi dengan berbagai pihak, muncul niatan bekerja sama dengan jurusan lain di sekolah ini, yakni Teknologi Komputer dan Jaringan (TKJ). Putar otak keras, gagasan baru muncul tuk ciptakan sebuah teknologi yang mampu menjawab kegelisahan siswanya. Dari sini Hexacopter BM-02 tercipta.
Hexacopter BM-02 merupakan pengembangan dari versi sebelumnya, yakni Hexacopter BM-01. Versi tersebut juga bagian dari karya SMK Budi Mulia Pakisaji, namun digagas oleh siswa-siswa tahun sebelumnya.
Pada versi tersebut, Hexacopter masih belum dilengkapi fitur-fitur seperti GPS, untuk mengetahui koordinat pesawat. Jadi saat perangkat sudah terbang, pengendalinya harus mengamati betul letak perangkat di udara. Sedangkan, untuk versi kedua di remote control sudah tersedia penjelasan koordinat, jadi bila ada hambatan dalam mencari posisi perangkat, pengendali tinggal melirik remote controlnya.
Lebih canggih lagi, di versi kedua ini Wiyono bersama tim juga menambahkan fungsi robotik. “Jadi bila dulu pengendalinya itu harus mengendalikan penuh melalui remote controlnya, di versi ini pengendali sudah bisa menggerakan secara otomatis,” jelas pria energik ini.
“Lalu, kalau tidak ingin repot-repot mengontrol hexacopter untuk kembali ke tempat landasannya? Kami sediakan tombol otomatis kembali,” imbuhnya. Dengan tombol tersebut perangkat akan kembali ke tempat dimana dia mengudara.
Kemampuan canggih ini yang membuat Hexacopter BM-02 bisa terbang sampai ke Makasar. Hexacopter BM-02 membawa penciptanya menjuarai kompetisi antar SMK Teknologi tingkat nasional disana.
Awalnya juga tidak disangka, namun berkat usaha dan keikhlasan rekan-rekannya, dengan rendah hati sambil sedikit malu-malu, Wiyono menyimpan kebanggaan pada murid-muridnya.
“Selain membanggakan SMK Budi Mulia, mereka telah membawa nama baik Malang. Gelar juara tersebut tentuntya membuat SMK Budi Mulia dan Malang semakin tidak bisa diremehkan,” sahutnya.
Hexacopter BM-02 bukanlah sebuah produk biasa. Kreatifitas tinggi dibutuhkan untuk menemukan ide ini. Perangkat tersebut telah membuktikan kepada Indonesia, bahwa harta dan status sosial bukan indikator keberhasilan. Namun, akal yang jadi kriteria manusia masa depan.
Bahkan, SMK Budi Mulia tidak berpuas diri, meski telah membuat teknologi inovatif ini, mereka tetap ingin mengembangkan teknologi lain yang lebih canggih, Human X namanya. Sesuai dengan nama sekolahnya, alasan membuat Human-X juga sangat Budi dan Mulia.
Kepadatan penduduk, jumlah kendaraan meningkat, alhasil kemacetan terjadi dimana-mana. Bila tetap menggunakan kendaraan darat, kemacetan juga tak akan teratasi. Inilah asal muasal rencana Human-X tercetuskan.
Hampir sama dengan Hexacopter, namun Human-X dirancang agar kuat mengangkat beban seberat manusia. “Dengan begitu, nanti ini bisa jadi kerangka dasar membuat kendaraan udara. Orang-orang sudah tidak perlu lagi mengeluh karena macet,” tegasnya.
Namun, sayangnya Human X baru selesai pada tahap perencanaan. Untuk melanjutkan tahap selanjutnya, Wiyono mengaku sedang mengusahakan dana. Dia mengklaim, modal untuk membuat Hexacopter saja tidak kecil.
Yakni, Rp 15 juta, itupun dapat bantuan dari dinas koperasi dan UKM Kota Malang. Apalagi untuk menciptakan teknologi semacam Human X, dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit pastinya.
Meski begitu, Wiyono bersama timnnya tetap optimis. Dia bertekad untuk merealisasikan rencananya tersebut. Kepada Malang Post, dia menyampaikan tekadnya dengan berapi-api.
Semangat tersebut diapresiasi oleh seorang pengurus yayasan sekolahnya, Vidya Putra. Pria ini sangat salut dengan kerja keras tim dalam mengembangkan teknologi. “Meski berasal dari SMK desa, prestasi mereka bisa melambung tinggi,” sambutnya.
Saat Malang Post bertanya tentang perasaannya melihat prestasi SMK Budi Mulia, Pemilik sapaan Vidya ini menjawab dengan tenang. “Saya belum pantas merasa bangga dengan karya ini. Bukan karena teknologi ini tidak hebat. Hexacopter adalah karya terbaik SMK Budi Mulia. Namun, bila cepat puas, nanti kami tidak ingin memicu semangat kami untuk berkarya menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya.(Muhamad Erza Wansyah)