Berisi 2000 Koleksi, Ada Kitab Asli Tulisan Sunan Kalijaga

Museum D'topeng Kota Batu mempunyai 2000 lebih koleksi yang bisa dinikmati pengunjung. Untuk mengumpulkan berbagai jenis pusaka dan seni ini, sang kolektor membutuhkan waktu yang panjang, sekitar 20 tahun.

Reno Halsamer, pemilik dan pelopor Museum D'Topeng langsung tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat saat Malang Post mampir di museum yang terletak di Jalan Terusan Sultan Agung 2 ini. Lantas tanpa basa basi dia mengajak untuk mencari tempat duduk supaya dapat bercerita seputar berdirinya D'Topeng dengan lebih mengalir dan santai.

Sebelumnya, museum yang memiliki aneka ragam jenis benda pusaka mulai dari Sabang sampai Merauke ini telah beroperasi kali pertama di Simpang Siur yang berada di jantung Kuta dan sangat dekat dengan Bali Galleria Mall. Dibangun di atas tanah seluas 1,7 hektare,  D’Topeng Kingdom Indonesian Heritage Art Museum mampu menarik minat turis dan wisatwan untuk masuk, melihat dan mengagumi koleksi yang dihadirkan.
Melihat animo yang sangat bagus dan potensi ke depan, museum ini pun akhirnya melakukan ekspansi ke Kota Batu yang tengah menggeliat sebagai salah satu destinasi wisata favorit di tanah air. Museum D’Topeng pun menjadi pelengkap dibukanya Museum Angkut Movie Star.
"Di Bali, Museum D'Topeng ramai dikunjungi para turis asing dan wisatawan domestik yang berkunjung ke Pulau Dewata itu, makanya saya bawa ke Batu supaya masyarakat lokal khususnya Jawa Timur dapat menikmati langsung benda pusaka dan seni ini,"kata Reno (50).

Meski saat ini menggeluti bisnis di bidang museum dan mempunyai koleksi ribuan, namun pria berpenampilan sederhana ini mengaku tidak memiliki garis keturunan kolektor, orang tuanya bukan pengoleksi barang-barang antik. Sampai sekarang pun, Reno tak bisa menjelaskan dengan pasti kenapa dia akhirnya menyenangi dunia koleksi seni ini.
Namun ada satu hal yang diingatnya hingga kini, sedari kecil dirinya sudah terbiasa melihat koleksi keris milik eyangnya yang diperoleh dari pemberian orang-orang.  “Tapi eyang hanya punya koleksi keris,” tandasnya.
Kepada Malang Post, Reno mengakui dirinya memang penggemar seni, khususnya seni Jawa, yaitu topeng. Karena topeng, menurut dia, merupakan simbol untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dirasakan, dari topeng pula digambarkan raut wajah dan ungkapan hati masyarakat.  Apalagi  seni ini dibuat oleh orang zaman dulu, dimana  kemampuan dalam menciptakan karya seni harus dilewati melalui perenungan panjang dan penuh filosofi yang mendalam. Pengerjaannya  pun sangat detail dan butuh proses yang lama.
Banyak orang meyakini benda-benda kuno ini seolah-olah memiliki ‘nyawa’ dan hidup. Namun, dia lebih berfikir rasional dan melihat dari segi kualitas karya tesebut dari pada sisi gaib dan keyakinan. "Seniman terdahulu mengerjakan dengan kesungguhan hati, tentunya berbeda dengan sekarang, karya dihasilkan hanya untuk souvenir yang pengerjaannya kilat, pasti bisa diketahui hasil akhirnya," urainya kepada Malang Post.
Saat berada di Bali, Reno seringkali memergoki langsung begitu banyak benda pusaka dan seni asli Indonesia diperjual belikan. Oleh karenanya, dia pun bertekad agar benda dan seni peninggalan nenek moyang tidak sampai ke luar negeri sehingga selama 20 tahun dia berburu benda-benda tersebut. Barang antik ini tidak hanya didapat dari penjuru Indonesia, namun ada beberapa yang diperoleh di luar negeri, baik dari museum maupun para kolektor.
“Dari niat untuk menjaga benda pusaka dan warisan leluhur inilah akhirnya sampai terkumpul banyak koleksi,” ujarnya.
Selama perjalanan mengumpulkan benda-benda seni tersebut, Reno ternyata juga ikut berproses. Dari awalnya hanya menggemari seni topeng, akhirnya ia mulai menyukai dan mencintai benda-benda seni lain. Sebab, lanjutnya, Indonesiia memiliki begitu banyak budaya dan aneka ragam kesenian.
"Akhirnya saya mencoba berburu benda-benda lain seperti senjata tradisional masyarakat, perhiasan, seni pahat kayu dan batu (wayang, topeng dan patung) sekaligus kebudayaan di setiap daerah," jelasnya ramah.
Pria berkacamata ini menuturkan,  kesenian Nusantara memiliki keunikan tersendiri atau ciri khas masing-masing daerah. Ia mencontohkan, karakteristik topeng Madura, topeng Jawa (Jawa Timur dan Jawa Tengah) dan topeng Kalimantan serta Sumatera  sangat berbeda. Itu belum berbicara patung, alat rumah tangga dan senjata di zaman terdahulu sebelum Kerajaan Majapahit, dan kerajaan lainnya.
Dibanding negara lain, yang menurutnya, hampir semua daerah di negara tersebut memiliki kesamaan budaya antara satu dengan yang lain.”Di Indonesia, antara daerah satu dengan lain memiliki perbedaan, namun maknanya sebenarnya sama,” jelas penghobi sepak bola semasa kecil ini.
Perjuangannya dalam mengumpulkan benda pusaka dan seni tak selamanya mulus, ada beberapa rintangan yang harus dihadapinya. Mulai dari segi harga yang sangat mahal, sehingga dibutuhkan kejelian dan pemahaman tentang visi barang tersebut, keaslian dan kelayakannya untuk dipamerkan, hingga sulitnya mencari barang yang bagus dan berkualitas. Apalagi bukan satu orang saja yang mengejar benda-benda pusaka ini, tetapi begitu banyak para kolektor yang berhasrat mendapatkannya. Bukan hanya kolektor lokal, tetapi juga kolektor asing turut memburu untuk dikoleksi di negaranya.
Seperti salah satu koleksi miliknya, kitab pewayangan yang diyakini adalah hasil karya dan tulisan langsung oleh Sunan Kalijaga. Dulu, kitab ini mau dibeli orang untuk ditaruh di Museum Australia. Namun, karena karya tersebut mengandung sejarah dan dari kualitas tulisan tangan di atas kertas zaman dulu begitu rapi dengan seni kaligrafi super indah dan  bagus, ia tak melepaskannya.
Contoh lain, patung Letti yang diyakini dibuat sebelum masehi. Patung yang harus digotong 10 orang saat dipindahkan ini, merupakan seni pahat batu luar biasa. Dulu belum mengenal besi, maka para seniman memahat dengan batu dan medianya dari batu pula, namun estetika dan anatominya sangat detail sekali. Patung ini ia dapat dari orang asing yang tinggal di Bali. Sebetulnya, patung Letti ini sudah lama ingin dibawa ke luar negeri, tetapi ada keraguan di hati pemiliknya.
”Saya baru bisa mendapatkan patung Letti ini setelah enam tahun lamanya, karena sang pemilik mau pindah rumah. Sehingga patung ini dijual dengan harga jutaan,” papar suami Elly Tumiwa ini.
Dia menyebut, tidak semua benda antik yang dikoleksinya berharga mahal. Meski kebanyakan didapat dari lelang, tak jarang juga ada kolektor yang menjual dengan misi untuk dipamerkan. Dan saat ini sudah terwujud misi tersebut, yakni adanya D'Topeng yang menjadi jendela benda pusaka milik Indonesia.
Menurutnya, pemilihan Kota Batu sebagai daerah kedua dibukanya Museum D’Topeng, karena Batu menjadi tempat yang sangat unik. ”Dulu di Bali, visi saya mengenalkan kebudayaan dan benda pusaka peninggalan nenek moyang kepada turis, namun hal itu saya pikir belum saatnya dan itu merupakan tugas negara. Sehingga saya memilih Batu untuk mengenalkan kebudayaan lokal kepada bangsa sendiri, khususnya generasi muda saat ini,” tambah pria lima anak ini.
Saat ini, Reno masih terus melakukan penelusuran akan asal usul benda seni yang dimilikinya. Namun, Reno kesulitan untuk mendapatkan nama setiap benda dan seni yang dimiliknya, sehingga masih banyak benda dan seni yang belum ada namanya.
Ia saat ini sudah menyiapkan berbagai program untuk Museum D’Topeng ke depan, sehingga pengunjung tidak hanya sekali datang ke museum, tidak sekadar jalan-jalan, tetapi betul-betul menanamkan kecintaan dan rasa bangga serta kagum terhadap budaya Indonesia.
Sebab, lanjutnya, museum di luar negeri selalu penuh pengunjung karena sedari kecil anak-anak di sana sudah diajak oleh orangtuanya untuk mengenal dan mencintai kebudayaan negaranya.”Sebentar lagi kami juga akan membuat wahana baru, seni tekstil dengan salah satu koleksi yang usianya 200 hingga 400 tahun, dan ada beberapa kain cikal bakal dari batik,”tandas Reno sembari menutup pembicaraan.(Miski Bin Jamaluddin/han)