Catatan Malang Post dari Asia Journalism Fellowship di Singapura (1)

AJF 2014 : Dewi Yuhana (depan, tiga dari kiri) bersama 15 jurnalis dari 13 negara dan AJF Director, Dr Cherian George (paling kanan, deret kedua).

Temasek Foundation dan Nanyang Technological University (NTU) Singapore menginisiasi program Asia Journalism Fellowship (AJF) sejak 2009 lalu. Sebuah program yang menghadirkan jurnalis dari berbagai negara di Asia untuk tinggal bersama selama tiga bulan di Singapura. Wartawan Malang Post Dewi Yuhana terpilih menjadi salah satu peserta dari 16 jurnalis yang berasal dari berbagai negara di Asia.

Tahun ini merupakan angkatan keenam AJF dan ada 13 negara yang berpartisipasi, mulai dari Afghanistan, Bangladesh, Buthan, Filipina, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Srilanka, Singapura, Thailand dan Vietnam. AJF hanya memilih satu perwakilan jurnalis dari masing-masing negara, kecuali Indonesia, Filipina dan India. 2014 ini, ada dua jurnalis dari ketiga negara tersebut, termasuk saya yang mewakili Indonesia bersama Anggi Oktarinda dari Bisnis Indonesia.
Sama seperti fellowship-fellowship yang diselenggarakan oleh institusi dan lembaga berbeda, para peserta sebelumnya harus memasukkan aplikasi dan bersaing dengan pemohon dari negara-negara lainnya. Apalagi selama tiga tahun terakhir, pendaftar di AJF mencapai lebih dari 150 orang setiap angkatan.
AJF Director, Dr Cherian George mengatakan, reputasi AJF bertumbuh dalam waktu yang sangat singkat, tidak heran jika kemudian banyak jurnalis yang tertarik dan mendaftar. Selama program berlangsung, peserta akan mengikuti kelas dan seminar tentang jurnalistik dan berbagai isu lain di Asia yang dipusatkan di NTU Wee Kim Wee School of Communication and Information serta seminar atau even di kampus dan lembaga lain di Singapura. Peserta juga akan diajak untuk mengunjungi berbagai tempat dan institusi-institusi yang berperan dalam kemajuan pembangunan di Singapura, untuk belajar, menyerap ilmu yang kemungkinan bisa dishare untuk pembangunan di daerah atau negara asal peserta.  
Namun ada beberapa negara di Asia yang memiliki sedikit jurnalis yang mendaftar di program ini karena industri media di negara tersebut yang kurang berkembang. “Atau, bisa jadi karena tak banyak jurnalis yang bisa berbahasa Inggris dengan baik,” katanya.  
Dari Indonesia sendiri, menurut Cherian, AJF menerima banyak pendaftar dengan kualifikasi yang bagus, namun pihaknya harus memutuskan hanya menerima maksimum dua peserta untuk memberikan kesempatan pada negara lain. “Kita memilih peserta yang mempunyai kinerja bagus di tempat masing-masing dan berpotensi untuk bisa berkembang lebih baik lagi, tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk profesi jurnalis, perusahaannya dan masyarakat. Karena itu, kami selalu berusaha mengidentifikasi calon-calon peserta yang memenuhi kualifikasi dan open minded,” urainya panjang lebar.
Ya, saya dan semua applicants memang harus dapat meyakinkan penyelenggara supaya mereka memilih kami menjadi bagian dari program ini, menunjukkan kualifikasi kami dengan rekomendasi dari relasi yang terpercaya. Sama seperti mahasiswa yang sedang mencari beasiswa dari institusi atau dari kampusnya sendiri, saya dan jurnalis-jurnalis lain harus bisa ‘me-marketingkan’ diri kami untuk dapat lolos AJF. Jawaban tersebut saya terima akhir 2013 lalu, saat AJF Committee mengirim email dan meminta saya untuk melengkapi semua persyaratan lain yang dibutuhkan.
Meski sudah dipastikan diterima, ada satu pernyataan dalam email tersebut yang masih membuat dag dig dug, panitia belum menjamin saya bakal diloloskan Minister of Manpower (MOM) Singapura untuk mendapatkan Training Employment Pass (TEP) sebagai izin tinggal di negara berpenduduk 5 juta jiwa itu untuk rentang waktu Maret-Juni 2014. TEP dibutuhkan meski sejak ASEAN menyepakati perjanjian bilateral pembebasan biaya visa kunjungan, semua warga negara-negara di Asia Tenggara memang hanya perlu membawa passport untuk berkunjung tanpa harus ribet mengurus visa, namun lama kunjungan  di tiap negara tetap saja terbatas, rata-rata sekitar 30 hari.
Untuk memastikan semua persyaratan kami sudah lengkap dan sesuai permintaan, pihak NTU terlebih dahulu mengeceknya dengan detil. Mereka juga yang membuatkan janji wawancara dengan MOM dan masing-masing dari kami mendapatkan waktu interview yang berbeda keesokan harinya. Terus terang, saat itu wajah-wajah kami, para AJF fellows, terlihat tegang saat memasuki kantor MOM di 1500 Bendemeer Road Singapore 339946, karena tak bisa membayangkan apa yang akan kami hadapi untuk mendapatkan TEP.
Memasuki kantor MOM, ada dua staf yang berdiri di dekat pintu, menanyakan apakah kami sudah mempunyai janji wawancara, menanyakan passport untuk mengecek data sekaligus membantu kami check in melalui mesin berbentuk seperti mesin anjungan tunai mandiri (ATM), ada sekitar enam mesin check in kiosk yang tersedia sehingga meminimalisir antrean. Setelah memastikan semua sudah check in, staf tersebut mempersilakan kami masuk di ruang berikutnya dan menunggu di sofa-sofa yang disediakan.  “Silakan duduk dan lihat di monitor, jika nama kamu muncul langsung datangi meja yang kosong,” katanya.
Meja para staf MOM yang akan mewawancarai kami berbentuk seperti meja-meja di teller bank, namun kali ini dibuat kotak segi empat, dimana para staf tersebut berada di bagian dalam meja dan bisa menerima kami dari berbagai sisi. Delapan layar LED dipasang di tiap sisi untuk memudahkan pengunjung melihat nama mereka saat ‘dipanggil’ melalui tulisan tanpa suara.
Kebetulan, saya adalah peserta dari AJF yang dipanggil pertama kali. Saya mendatangi meja staf, menyerahkan berkas yang tertata rapi dalam map kepada staf perempuan dengan nama yang sangat melayu (saya lupa nama lengkapnya, namun jika tidak salah ada kata Noor-nya, red). Ya, banyak yang mengidentikkan Singapura dengan warga keturunan China, namun sebenarnya Singapura dulu adalah pusat pemerintahan kerajaan Melayu, sebelum Sir Stamford Raffles datang dan mendirikan pelabuhan Inggris di sana hingga menjadi pelabuhan besar karena lokasi Singapura yang sangat strategis, berada di tengah-tengah jalur perdagangan antara India dan China. Sekarang pun, pelabuhan di negara ini masih menjadi salah satu yang tersibuk di dunia.
Melihat sejarahnya, wajar jika kita masih bisa menemui banyak warga keturunan Melayu di sana, yang sebagian besar beragama Islam. Apalagi, Singapura juga sempat bergabung dengan Malaysia pada 1963 lalu memerdekakan diri di tahun 1965.  Bahkan, bahasa nasional Singapura sebenarnya adalah Melayu walaupun Inggris kemudian menjadi bahasa percakapan sehari-hari.  
Noor, staf MOM itu kemudian memeriksa berkas saya dengan cekatan, meneliti satu per satu dokumen, memasukkan data lalu  meminta saya pergi ke bagian lain di samping meja untuk difoto. Klik. Semua proses tersebut tak lebih dari 7 menit. Sangat cepat dan efisien.
Pelayanan yang cepat tersebut menjadi surprise tersendiri bagi kami, menghilangkan rasa was-was yang muncul di awal, sambil membayangkan jika pelayanan administrasi di Indonesia bisa secepat itu. Ah, tapi yang terpenting adalah, kami semua lolos dan berhak mendapatkan TEP. “We are officially legal, kita bukan penduduk gelap di Singapura, hehehehe,” kata Thao Nguyen, jurnalis TV asal Vietnam mewakili kegembiraan kami semua. Dan, cerita tiga bulan para jurnalis lintas negara pun dimulai. (dewi yuhana)