Catatan Malang Post dari Asia Journalism Fellowship di Singapura (2)

Belajar Toleransi Hingga Cara Taliban Memperlakukan Pers

PERS: (ki-ka) Narayan Wagle (Nepal), Nguyen Thao, Arlene Burgos, Fazal Khalik, Watchiranont Thongtep (Thailand), Dewi Yuhana dan Zobaer Ahmad dalam salah satu even AJF.


Tiga bulan tinggal bersama, 16 jurnalis dari 13 negara yang menjadi peserta Asia Journalism Fellowship (AJF) tidak hanya belajar tentang dunia jurnalistik, tapi juga kultur dan perkembangan politik termasuk bagaimana Thaliban memperlakukan insan pers saat mereka berkuasa. Berikut catatan wartawan Malang Post Dewi Yuhana.

Peserta AJF ditempatkan di sebuah public apartment di Village Residence 154 West Coast Road Singapore, sekitar 30 menit perjalanan dari Changi Airport dengan menggunakan taksi dan satu jam lebih jika memanfaatkan MRT. Bangunan apartemen ini menjadi satu dengan West Coast Plaza, yang memudahkan penghuni apartemen untuk berbelanja atau sekadar makan di dalamnya. Mereka bisa pergi ke plaza tersebut melalui pintu di lantai dua yang tembus ke area foodcourt plaza.
Namun, makan di plaza ini tak menjadi pilihan sehari-hari karena harga yang dipatok masih tergolong mahal untuk kantong pendatang seperti kami. Misalnya saja, untuk satu porsi makan dan minum di resto harus merogoh kocek SGD 17 (kurs kemarin Rp 9600, red) atau sekitar Rp 163 ribu. Area food court yang berada di seberang jalan menjadi pilihan karena menawarkan harga lebih terjangkau.
Setiap apartemen berisi tiga kamar yang dihuni tiga jurnalis dari negara berbeda. Saya ‘serumah’ dengan Arlene B. Burgos, Head of Social Media and Mobile di ABS-CBN, news website nomor satu di Filipina dan Nguyen Phuong Thao, jurnalis dan produser di VTC16, TV di Hanoi Vietnam. Meski baru saja bertemu saat itu, kami bisa langsung membaur dan beradaptasi satu sama lain. Kami saling bercerita tentang negara masing-masing, budaya, kebiasaan, makanan, dari hal-hal yang serius sampai curhat yang remeh temeh.
Pengalaman hidup di pondok ketika saya masih remaja dengan ribuan santriwati dari berbagai daerah di Indonesia juga mengajarkan saya bagaimana harus hidup bersama dengan orang yang berasal dari tempat dan budaya yang berbeda. Perbedaan agama juga tidak menjadi penghalang kami untuk hidup rukun, bahkan saling mendiskusikan segala hal tentang agama kami masing-masing. Kekhawatiran malah dirasakan oleh jurnalis dari Bangladesh, Zobaer Ahmad (Maasranga Television) saat mengetahui ada perwakilan dari Pakistan yang menjadi peserta AJF.  
Sejarah bahwa Bangladesh awalnya adalah bagian dari Pakistan (saat itu disebut Pakistan Timur, red), namun mendapat perlakuan semena-mena dari pemerintah hingga menimbulkan perang saudara menjadi alasan. “Kami mendapatkan penindasan dari penguasa Pakistan sebelum akhirnya kami melawan dan menjadi independen, merdeka sebagai Bangladesh pada tahun 1971. Karena sejarah itulah, kami punya kesan negatif terhadap orang Pakistan,” kata Zobaer.
Ia pun berharap tidak mendapatkan apartemen yang sama dengan perwakilan dari Pakistan. Zobaer tidak bisa membayangkan akan hidup selama 90 hari bersama orang dari negara yang sudah membuat nenek moyang mereka kekurangan secara ekonomi. “Bahkan, Pakistan tidak pernah meminta maaf kepada kami atas apa yang sudah mereka perbuat, hingga saat ini,” ujarnya lagi.
Karena itulah, saat mendapati  bahwa salah satu penghuni kamar di apartemennya adalah Fazal Khaliq, warga Pakistan, Zobaer benar-benar kaget. Ia tidak bisa membayangkan, masa-masa tidak nyaman yang akan ia hadapi selama program berlangsung karena akan hidup dengan orang yang dianggap sebagai ‘musuh bebuyutan’ negaranya. Tapi setelah beberapa lama dan mulai mengenal Fazal lebih dekat dan mendapati bahwa jurnalis dari koran Express Tribune di Swat Valley itu memahami sejarah masa lalu mereka dengan baik, dan merasa sedih atas peristiwa tersebut, mereka malah menjadi teman baik. “Fazal menjadi bukti bahwa generalisasi negatif saya tentang orang Pakistan itu salah, kami bersahabat dan hampir selalu menghabiskan waktu bersama selama tiga bulan,” urainya.  
Fazal sendiri mengaku tidak mempunyai masalah harus hidup bersama orang Bangladesh karena menyadari mereka sebelumnya satu negara. Meski ia secara terus terang mengatakan, di awal program ia ingin sekali AJF segera selesai dan berakhir, namun menjelang minggu-minggu terakhir ia berharap hari bisa berjalan lebih pelan karena ia tak ingin meninggalkan keluarga AJF yang baru dikenalnya. “Program ini benar-benar mengoneksikan kami menjadi satu keluarga, menjadi sangat dekat bagaikan saudara,” tandasnya.
Di samping menjalani hidup bersama di apartemen, kami juga harus mengikuti perkuliahan dan seminar yang dipusatkan di NTU Wee Kim Wee School of Communication and Information. Untuk pergi ke kampus, ada bus yang menjemput dan mengantar kami pulang, sebab lokasi kampus lumayan jauh dari apartemen. Jika harus menggunakan transportasi umum, kami harus naik bus dulu ke Clementi MRT station, lalu melanjutkan perjalanan dengan MRT, dilanjut naik bus 179 yang memang beroperasi khusus di NTU. Ya, saking luasnya kampus ini, pemerintah mengoperasikan bus khusus yang berhenti di setiap halte di masing-masing fakultas.  Kami pun mendapatkan peta khusus kampus supaya tidak tersesat di kampus dengan luas 200 hektar ini.
Setiap senin, ada weekly meeting dimana setiap jurnalis berkesempatan untuk melakukan presentasi dengan tema berbeda. Saya mendapat tema tentang Pemilu di Indonesia karena sekarang sedang berlangsung di tanah air, namun tema presentasi yang membuat mata kami terbuka dan merasa beruntung hidup di negara yang damai adalah saat mendengar presentasi dari Fazal tentang kehidupan insan pers di masa Taliban berkuasa.
Taliban sendiri sudah sangat tidak asing di telinga warga Indonesia karena pemberitaan yang terus menerus tentang aksi kelompok ini dalam melakukan kejahatan terhadap warga Pakistan maupun Afghanistan. Saat Taliban masih memiliki kuasa penuh karena didukung pemerintah Amerika, mereka sangat mengendalikan pemberitaan di media massa. Tak ada wartawan atau jurnalis yang berani menulis berita yang bertentangan dengan Taliban, jika mereka masih ingin hidup panjang. Jikalaupun ada jurnalis yang berani menulis sedikit berbeda, mereka harus hidup berpindah-pindah setiap hari, supaya keberadaannya tidak terendus pro Taliban dan dibunuh.
“Kami tidak bisa hidup tenang, sebab Taliban bisa saja setiap hari mengeluarkan pengumuman dalam berupa kertas tentang siapa saja yang akan mendapat hukuman mati, bahkan jika orang tersebut tak tahu kesalahannya,” kata Fazal.
Taliban memang mengendalikan pers, namun mereka juga sangat ‘aware’ tentang kekuatan pers untuk menyebarkan informasi kepada khalayak luas. Tak jarang Taliban menggelar pers conference dengan mengundang jurnalis dari berbagai media untuk menyampaikan berita dan pernyataan dari mereka. Namun jumpa pers ini tentu berbeda dengan yang ada di Indonesia. Para jurnalis tersebut, saat tiba di tempat yang ditentukan oleh Taliban, mata mereka akan ditutup lalu diajak naik kendaran untuk berputar-putar selama satu jam.
“Setelah satu jam, kami tiba di tempat yang kami tidak tahu. Apakah itu tempat baru di daerah berbeda, atau sebenarnya tempat yang sama seperti yang kami datangi di awal, karena mata kami ditutup dan benar-benar tidak bisa melihat,” urainya.
Saat jumpa pers berlangsung pun, ada aturan yang harus dipatuhi wartawan. Mereka tidak boleh memotret pemimpin Taliban yang sedang jumpa pers tersebut dari depan yang akan memperlihatkan wajahnya. Para jurnalis, baik TV maupun cetak hanya diperbolehkan memotret dan menyorot dari bagian punggungnya saja. “Kami tahu wajah mereka, tapi tak bisa mempublikasikannya. Tapi semua itu sudah berlalu sekarang,” tegasnya.
Kekuatan Taliban memang berkurang, namun bukan berarti kondisi Pakistan maupun Afghanistan langsung menjadi baik-baik saja. Hingga Juni ini sudah ada beberapa jurnalis yang tewas tertembak saat bertugas di negara konflik tersebut.(dewi yuhana)