Catatan Malang Post dari Asia Journalism Fellowship (3)

Air Hujan Milik Pemerintah, Warga Dilarang Menampung

Banyak orang yang menjadi kreatif saat kepepet dan terdesak, begitu juga yang dibuktikan oleh Singapura. Negara kecil yang juga sering disebut little red dot ini menjadi bukti nyata keberhasilannya dalam menaklukkan ketiadaan sumber daya alam. Berikut catatan wartawan Malang Post Dewi Yuhana.

Bisa dipastikan Singapura mengimpor hampir semua kebutuhan dan produk bagi masyarakatnya, tidak heran jika harga barang di negara ini sangat mahal karena mereka tidak memproduksi sendiri. Salah satu yang diimpor adalah air dari Malaysia untuk memenuhi konsumsi air masyarakat yang mencapai 400 juta gallon per hari. Impor ini mencapai hampir 60 persen dari total kebutuhan.
Kondisi tersebut tentu tidak ‘aman’ karena hubungan kedua negara ini pun sering mengalami fluktuasi, naik turun. Jika Malaysia ngambek dan menyetop ekspor air, maka habislah Singapura. Masyarakat akan dehidrasi berkepanjangan. Namun, sekali lagi, Singapura menyikapi situasi ini dengan super kreatif dengan melakukan perencanaan jangka panjang untuk memastikan kelangsungan suplai air tetap terjaga dengan aman.
Nah, salah satu kegiatan Asia Journalism Fellowship (AJF) adalah mengajak kami untuk melihat proses produksi air yang dilakukan PUB, Singapore’s National Water Agency. PUB, jika di Indonesia semacam PDAM namun tingkat nasional dan apa yang dilakukannya pun sangat jauuuuh dari apa yang sudah dikerjakan oleh PDAM. Sebagai perusahaan air nasional, PUB bertanggung jawab untuk mengumpulkan, memproduksi, mendistribusikan hingga melakukan reklamasi air.
Salah satu cara untuk mengumpulkan air tersebut adalah dengan menampung air hujan yang didapat dari sungai, kanal dan saluran drainase lalu disimpan dalam 17 waduk yang tersebar di Singapura. Kerennya, waduk-waduk ini terkoneksi satu dengan yang lain melalui saluran pipa, sehingga jika ada kelebihan air di salah satu waduk bisa dipompa dan dipindahkan ke waduk lain. Singapura begitu tak ingin kehilangan air setetes pun, sehingga langkah tersebut dilakukan untuk memaksimalkan daya tampung waduk. Bandingkan dengan waduk-waduk yang kita miliki, penuh dengan sedimen karena perawatannya yang kurang maksimal, sehingga kapasitas tampung air pun menyusut.  
“Kami memang mendesain supaya air hujan tidak jatuh dan terbuang sia-sia. Air hujan yang jatuh di sungai, di jalan dan masuk saluran air pun akan dialirkan ke waduk,” kata George Madhavan, PUB 3P Network Department Director.
Karena itu, masyarakat Singapura dilarang keras untuk menampung air hujan karena semua yang turun dari langit adalah milik PUB alias pemerintah. Bagi mereka yang nekat menampung air hujan, maka dapat dikategorikan sebagai tindakan ilegal dan bisa dihukum.
Air mentah yang ditampung itu kemudian dialirkan untuk mendapatkan treatment melalui teknologi canggih mereka sebelum disalurkan ke konsumen, baik dunia industri maupun rumah tangga. Masyarakat Singapura pun bisa meminum air langsung dari kran sejak empat dekade terakhir. Namun bagi saya yang lidah ndeso ini, tak bisa meminumnya langsung dari kran, saya memilih untuk membeli air mineral yang disana dibandrol SGD 1 atau SGD 1,5 untuk 1,5 liter.  
Untuk menampung air hujan dari drainase, pemerintah Singapura memang membangun sistem saluran air yang sangat memadai, supaya tidak ada endapan air yang menyebabkan banjir. “Jika sampai ada genangan air semata kaki, itu sudah dinamakan banjir di Singapura. Orang-orang sudah heboh,” kata salah satu penjaga di Village Residence.  
Nah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang Wasto, termasuk yang terkagum-kagum dengan bentuk drainase mereka saat berkunjung ke sana akhir Mei lalu. “Untuk membuat saluran air semacam ini dibutuhkan ratusan juta rupiah per titik, (pemerintah) kita yang belum bisa menyiapkan dana sebesar itu,” katanya saat melihat drainase di sekitar Merlion Park.   
Pelajaran dari Singapura sekaligus melihat kondisi banjir di Malang yang sering datang saat hujan inilah yang semakin menguatkan DKP dan Malang Post untuk terus menggencarkan gerakan Menabung Air melalui pembangunan sumur injeksi di titik-titik strategis di Kota Malang. Saat ini masyarakat Malang memang bisa berbangga dengan suplai air yang berlimpah, namun jika hal tersebut tidak dijaga sejak dini, anak cucu dan generasi di masa mendatang lah yang akan mendapat imbas karena kekurangan air bersih.  
PUB sendiri tak hanya memproduksi air dari yang sudah terkumpul di waduk, air bekas atau limbah rumah tangga (used water) pun ditampung melalui sistem saluran yang sangat besar, untuk kemudian di-treatment menjadi air yang didistribusikan ke dunia industri. Bahkan, melalui teknologi canggih mereka, air limbah ini diolah hingga mempunyai kualitas air yang bagus dan diberi nama NEWater. Saya dan para jurnalis disuguhi NEWater yang dapat diminum dalam kemasan botol kecil seperti air mineral kemasan.
Meski merasa agak ‘gimana gitu’ saat membayangkan proses pembuatan dan pengolahan used water menjadi NEWater, kami pun meminumnya. Rasanya seperti air mineral biasa, segar-segar saja. Tapi ketika menceritakan pengalaman meminum NEWater kepada teman saya warga asli Singapura, ia berkomentar singkat sambil tertawa. “Lho, kamu kok mau minum racun?”. (dewiyuhana)