Catatan Malang Post dari Asia Journalism Fellowship di Singapura (4/habis)

Pajak Mobil 200 Persen dari Harga Mobil

NYAMAN: Wartawan Malang Post Dewi Yuhana, Ifham (Sri Lanka) dan Ko Ko Gyi saat naik MRT di Singapura.

Singapura merupakan negara yang sangat rapi, tertata dan aman. Transportasi publik yang nyaman menjadi bukti nyata dari betapa well planned-nya negara yang sering menjadi jujukan selebriti dan pejabat untuk berobat ini. Untuk ‘memaksa’ warganya menggunakan transportasi publik, Singapura tak hanya menyediakan sarana dan armada yang memadai, namun juga membuat aturan ketat dalam kepemilikan mobil. Wartawan Malang Post Dewi Yuhana menuliskan catatannya berikut ini.

Transportasi utama di Singapura adalah bus dan MRT yang mulai beroperasi sejak jam 5 pagi. Bagi Anda yang bepergian dan berwisata ke Singapura, saya merekomendasikan kedua transportasi ini untuk dipilih, selain murah meriah jika dibandingkan biaya taksi, armadanya gampang ditemui dengan bus stop ataupun MRT station yang dibangun dekat dengan titik-titik atau daerah yang akan dituju oleh penumpang.
Setiap peserta Asia Journalism Fellowship (AJF) mendapatkan kartu EZ Link untuk kami gunakan sebagai alat pembayaran saat naik bus atau MRT. Anda sendiri bisa membeli kartu ini di setiap MRT station seharga SGD 5 atau Rp 48.400 (posisi Rp 9680 per SGD 1 kemarin, red) lalu melakukan top up atau isi ulang di mesin-mesin yang disediakan di tiap stasiun MRT, dengan minimal top up SGD 10.
Jika Anda berniat tinggal lama di Singapura dan memutuskan untuk selalu menggunakan transportasi publik, EZ Link card menjadi pilihan karena lebih murah, namun jika Anda hanya ingin bepergian ke beberapa tempat saja, Anda bisa membeli tiket sekali jalan di mesin yang sama di stasiun. Kita tinggal memilih tujuan stasiun tempat berhenti lalu membayar sesuai harga tiket. Biaya perjalanan dari satu stasiun ke stasiun berikutnya cukup bervariasi, tergantung jauh dekatnya lokasi. Namun biasanya hanya SGD 1,7. Bandingkan dengan taksi yang rata-rata SGD 10 untuk jarak yang sama. Belum lagi jika kita naik taksi di jam-jam sibuk, akan ada tambahan charge sekitar SGD 5 atau bahkan lebih.
Saya dan teman-teman pernah merasakan perbedaan biaya taksi tersebut. Saat naik taksi dari Changi Airport ke West Coast road tempat apartemen kami di siang hari, kami hanya perlu membayar SGD 22, namun ketika ada teman lain yang naik taksi di sore hari sekitar pukul 19.00 ia harus membayar SGD 45, dua kali lipat karena jam tersebut adalah saat traffic jam-nya Singapura. Meski tentu saja, jam-jam macet ala Singapura tidak bisa disamakan dengan Malang, Surabaya, apalagi Jakarta. Deretan mobil berjajar di jalan raya dengan lama berhenti sekitar 3-5 menit saja sudah dikatakan ‘sangat macet’ dan membuat sopir gelisah. Bagi mereka, jalan lancar itu ya harus selalu moving, bergerak, tidak sampai membuat mobil berhenti.
Naik bus atau MRT di Singapura juga sangat gampang, bahkan bagi mereka yang baru pertama kali datang ke negara ini, karena di setiap stasiun atau bus stop, selalu ada peta atau papan yang menginformasikan tujuan keberangkatan MRT atau bus. Petunjuk arah juga dipasang diberbagai titik. Dipastikan, Anda tidak akan hilang.
Saat pertama kali tinggal di Singapura, saya lebih memilih MRT dibandingkan bus karena lebih cepat, jarak kedatangannya juga lebih pendek hanya 4 menit, sementara bus sampai 10an menit. Meski jarak kedatangan kedua transportasi tersebut dibuat sangat pendek, namun selalu dipenuhi penumpang, khususnya MRT. Karena itu, seiring dengan perjalanan waktu, saya memilih bus karena terasa ‘lebih nyaman’ dan memungkinkan kita untuk melihat pemandangan.  
“Iya, naik bus lebih enak, kita nggak perlu jalan jauh saat harus transfer dari MRT satu dengan yang lain. Tinggal menunggu di bus stop saja, kalau MRT kan kita harus cari lagi, yang lokasinya terkadang berada di lantai berbeda,” kata Anggi Oktarinda, wartawan Bisnis Indonesia.
Singapura memang membagi jalur MRT menjadi beberapa line sesuai dengan daerah yang dilewati, ada East West Line (green line),  North South Line (red line), North East Line (purple), Circle Line (yellow) , Downtown Line (blue line). Penyebutan warna tersebut hanya untuk memudahkan penumpang karena jalur di peta dan penunjuk arah dibuat dengan warna tersebut. Nah, saat harus berganti line inilah, terkadang kita harus berjalan sangat jauh, berlomba-lomba dengan puluhan hingga ratusan penumpang lain yang bergerak secara bersamaan. Misalnya, dari apartemen saya menuju Little India, saya harus naik green line dan berhenti di Outram Park lalu berganti MRT di purple line, namun jika ingin ke Orchard Road saya harus berhenti di City Hall dan berganti di red line.  
Bus dan MRT pun didesain untuk bisa dinaiki oleh orang cacat atau yang sudah berusia lanjut, karena itu di masing-masing stasiun biasanya ada lift khusus untuk mereka yang berkursi roda. Sedang untuk bus, saat mendapati calon penumpang berkursi roda di bus stop, sopir akan menutup pintu masuk penumpang di bagian depan lalu membuka pintu tengah (yang biasanya dipakai untuk keluar) dan menyiapkan jalan untuk kursi roda. Baru setelah itu ia mempersilakan penumpang lain masuk.
Pemerintah Singapura membangun semua fasilitas transportasi publik tentu dengan harapan warganya memanfaatkannya dengan baik, dan itu sudah terbukti. Namun bukan hanya itu saja, pemerintah juga membuat aturan yang sangat ketat untuk kepemilikan mobil. Sebelum membeli mobil, warga Singapura terlebih dahulu harus mendaftar untuk mendapatkan surat kepemilikan mobil atau Certificat of Entitlement (COE) yang digelar dua kali sebulan. Biayanya juga tidak murah. Untuk membeli mobil 1600 cc ke bawah, pendaftar harus membayar SGD 61.899 (Rp 599.182.320), sedangkan untuk di atas 1600 cc sebesar SGD 65.700 (Rp 635.976.000).
Bukan hanya itu saja, warga Singapura juga harus membayar pajak impor mobil yang tidak sedikit. Penghitungan biaya pajak ini lebih rumit karena didasarkan dengan jenis mobil, bahan bakar, sampai dengan tahun pembuatan. “Untuk memudahkan penghitungannya, ya kira-kira begini, pajak impor mobil plus additional registration fee (ARF) yang harus kami bayar sekitar 180 persen sampai 200 persen dari harga mobil,” kata Serene Quek, Chief Sub-editor koran berbahasa China LIanhe Zaobao.
Bisa dibayangkan, jika mereka ingin membeli mobil seharga seharga Rp 500 juta, maka uang yang harus dikeluarkan untuk memilikinya bisa mencapai Rp 2 miliar. Bisakah aturan ini membendung warga Singapura untuk tidak membeli mobil? Ternyata tidak juga. Di bulan Juni ini saja, data Land Transport Authority (LTA) menunjukkan ada 3290 permohonan COE. Ini bisa terjadi karena tingkat kesejahteraan dan ekonomi yang bagus memungkinkan mereka untuk membeli mobil, apalagi beberapa tahun terakhir jumlah pekerja asing yang berdatangan di Singapura sangat banyak (sekitar 42 persen dari total warga asli Singapura, red) hingga membuat sesak transportasi publik.
Di Indonesia, kita masih memiliki aturan yang cukup fleksibel untuk membeli mobil, bahkan tak sedikit mobil murah hingga membuat jalanan macet. Lalu, kita akan memilih yang mana, jalanan lancar namun dengan aturan ‘mahal’ untuk membeli mobil, atau bisa punya mobil tapi harus terbiasa dengan kemacetan setiap saat?. Anda yang menentukan.(dewiyuhana)