Musim Panas, Suhu Tetap Dingin 12 Celcius

Perjalanan Arema Cronus selama tiga hari di Sapporo, Hokkaido, Jepang, menyimpan cerita di luar sepakbola. General Manajer Arema Ruddy Widodo berbagi kisah tentang perjalanan manajemen di negeri matahari terbit itu, sekaligus menikmati keramahan Sapporo yang menjadi kota pariwisata andalan.

Bau es menusuk saat GM Arema Ruddy Widodo keluar dari Bandara Chitose, Sapporo, 20 Juni lalu. Matahari Jepang muncul samar. Ia tertutupi kabut tipis. Ufuk timur pun berwarna putih, di antara gedung-gedung beton yang pucat. Aspal hitam terasa kaku.
Jalanan Sapporo sepi. Tak ada orang lalu lalang di trotoar. Mobil-mobil pun tak meraung-raung bising. Mereka berjalan begitu saja, tidak peduli dingin yang mengeringkan bibir. Awan tampak abu-abu menyelimuti pusat kota. Rasa-rasanya, ingin mencair dalam bulir-bulir.
Udara bulan Juni di Sapporo begitu aneh. Walau musim panas, masih saja terasa dingin. Matahari hanya seperti lampu, menerangi tapi tidak memanasi. Uap mulut pun keluar berkali-kali. Tanda betapa dinginnya udara kota pariwisata Jepang tersebut.
Kota terbesar di Pulau Hokkaido tidak begitu hangat menyambut rombongan manajemen Arema. Telinga Ruddy beku. Hidungnya masih kebas karena suhu. Uap mulut yang agak panas, ditakupkan ke tangan dan ditempelkan kembali ke mukanya. Sekadar penghangat darurat untuk melawan udara Sapporo.
Jaket yang dipakai GM Arema ini tak sanggup menahan udara yang merasuk ke pori-pori. Tapi, ia berusaha menghangatkan diri seadanya. Dinginnya Sapporo begitu terasa hingga ke tulang. Ruddy sempat tidak paham, mengapa Sapporo berbeda dengan Tokyo, ibukota Jepang yang pernah dia kunjungi.
Saat gusar dengan dinginnya Sapporo, Manajer Bisnis dan Marketing Arema, Fuad Ardiansyah pun nyeletuk. “Di sini jelas dingin mas. Pulaunya saja sejajar dengan Rusia. Dekat dengan Kutub Utara, coba saja lihat di peta,” celetuk Fuad, sembari membetulkan syal penutup lehernya.
Meskipun Tokyo dikenal karena panas seperti megapolitan lainnya, Sapporo tak seperti itu. Posisinya dekat dengan Kutub Utara, sehingga dinginnya pun cukup terasa. Siang itu, pengatur suhu Ruddy menunjukkan angka 15 derajat selsius. Itu suhu normal Sapporo, saat matahari bersinar, sedangkan suhu dingin saat bulan Juni adalah 12 derajat celsius. Arema beruntung tiba di Sapporo saat musim panas. Sebab, ketika tiba musim dingin, suhu Sapporo bisa mencapai minus 4 derajat celsius. Gusar karena dinginnya Sapporo, membuat Ruddy tak menyadari panggilan dari luar ruang kedatangan bandara.
Pria berambut hitam mengangkat kertas bertuliskan Arema di atas kepalanya. Matanya sipit, badannya tak terlalu besar. Sesekali, ia meneriakkan “Arema” saat penumpang pesawat berlalu lalang di ruang kedatangan internasional. Begitu nama Arema diteriakkan sekali lagi, Ruddy menoleh.
Pria ini adalah Suzuki, Liason Officer Consadole Sapporo. Dia bertugas menjemput rombongan Arema yang hendak menjalin MoU dengan Consadole Sapporo, pada 21 Juni 2014. Selama Arema berada di Sapporo, Suzuki yang mengawal perjalanan Ruddy dkk.
Udara dingin Sapporo, berbanding terbalik dengan orang-orangnya. “Saya kok merasa orang Sapporo ramah-ramah ya, mereka benar-benar memberi servis yang sangat baik untuk Arema. Dengan sopan, LO Sapporo menyambut Arema sejak di bandara,” terang Ruddy kepada Malang Post, sepulangnya dari Sapporo.
Suzuki, memberi sambutan hangat kepada Ruddy dan dua staf manajemen lain, yakni Manajer Bisnis dan Marketing Fuad Ardiansyah dan Media Officer Arema Sudarmaji. Tak seperti udara kejam Sapporo, Suzuki begitu cair dan hangat menyervis rombongan Arema selama di sana.
Ruddy bercerita, Suzuki dan masyarakat Sapporo, besar dalam lingkungan yang jauh dari megapolitan Tokyo. Seperti diketahui, Tokyo berada di Pulau Honsu, sementara Sapporo ada di Hokkaido. Jumlah penduduk Sapporo seperti Malang, sekitar 2 juta jiwa.
Luasnya hanya 1000 kilometer persegi hingga membuat Sapporo cukup padat. Gedung-gedung tinggi berdiri berjajar sepanjang pusat kota. Tapi, masyarakatnya tidak sibuk seperti Tokyo. Sebab, ternyata ada perbedaan kultur antara Tokyo dan Sapporo.
Suku bangsa yang mendiami Sapporo berbeda dari Tokyo. Jika Tokyo dihuni ras yang sudah bercampur-campur, maka Sapporo didiami oleh mayoritas suku dominan asli Jepang, yakni Ainu. Lalu, Suzuki yang menemani Ruddy di perjalanan menuju hotel tempat menginap Arema, bercerita tentang nenek moyang Sapporo tersebut.
 “Dari cerita Suzuki, ras Ainu itu tak gemar geger, tak suka berselisih paham. Adat istiadat Ainu mengajarkan orang Sapporo tentang kerendahan hati. Itu yang saya rasakan.  Suzuki yang selevel LO pun, ramah bukan main kepada kami,” tegas Ruddy.
“Tak cuma LO, staf manajemen Consadole, bahkan hingga presiden klub yang menyambut Arema, begitu ramah dan sangat baik kepada Arema. Saya tidak tahu, apakah ini memang keramahan tulus, atau punya latar belakang lain,” tegas Ruddy.
Lalu, apakah keramahan tersebut benar-benar tulus? Fuad Ardiansyah punya pandangan lain. Sapporo adalah kota pariwisata andalan Jepang. Kota yang pernah jadi salah satu venue Piala Dunia 2002 itu, merupakan tujuan wisatawan asing dan domestik.
“Data terakhir tahun 2013, jumlah wisatawan yang datang ke Sapporo mencapai 20 juta jiwa lebih. Kota ini kota pariwisata. Keramahan dan hospitality dalam menyambut tamu asing menjadi andalan, begitu kata Suzuki kepada kami,” tandas Fuad. (fino yudistira/bersambung)