Manfaatkan Ludah Sebagai Bioactivator Alami

SMA Darul Ulum Agung memiliki halaman yang luas dan ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Sekolah ini juga berdekatan dengan lokasi pondok pesantren, sehingga sampah yang dihasilkan baik dari tanaman maupun kegiatan siswa dan santri sangat banyak. Untung saja, siswa SMA Darul Ulum Agung tidak kehabisan akal. Mereka memanfaatkan sampah untuk membuat kompos, yang istimewanya, salah satu komposisinya ialah air ludah.
“Air ludah, apa lagi air ludah yang dihasilkan pada saat bangun tidur, mengandung banyak micro organisme pengurai yang sangat bermanfaat untuk proses fermentasi sampah,” ujar Nurul Zaffiroh, S.Si, pendamping program agro industri, mengawali penjelasannya tentang inovasi yang dilakukan siswa.
Berawal dari fakta tersebut, Firro, sapaan akrab Nurul Zaffiroh, bersama siswa Agro Industri mengadakan penelitian tentang penggunaan air ludah untuk membantu mempercepat proses fermentasi atau pembusukan sampah. Prosesnya sangat sederhana. Sampah yang sudah dikumpulkan dalam komposter dijaga kelembabannya dengan menambahkan air kumur, setiap kali sampah dirasa terlalu kering.
Dengan demikian, selain memanfaatkan micro organisme dalam air ludah, air yang digunakan untuk berkumur juga bermanfaat dan siswa tidak perlu menambahkan air lagi.  Tidak ada takaran yang pasti, berapa liter air kumur yang mengandung ludah yang dibutuhkan untuk satu tong sampah dalam komposter.
“Yang penting harus selalu lembab. Jadi setiap bangun tidur, siswa terutama anggota program Agro Industri Kompos berkumur dan menampung air kumurnya di komposter. Mereka juga bertanggung jawab untuk menjaga supaya air tidak sampai menggenang,” jelas wanita berparas ayu tersebut.
Percobaan tersebut berhasil. Normalnya, untuk satu kali proses pengomposan dibutuhkan waktu setidaknya tiga bulan. Tapi dengan bioactivator alami dari air ludah, proses pengomposan dapat dilakukan hanya dalam waktu tiga minggu. Selain mudah dan memanfaatkan limbah, pembuatan kompos dengan komposisi ini juga mengurangi biaya pembuatan kompos. Sebab, siswa tidak perlu lagi menambahkan bioactivator buatan yang normalnya dijual dengan harga Rp40 ribu – Rp 80 ribu per botol.
Pembuatan bioactivator seperti yang dijual di pasaran pun, menurut pecinta bunga ini, relatif rumit. Salah satu komposisi utamanya ialah kotoran hewan yang masih segar.  “Hewan yang baru dipotong diambil kotorannya yang masih ada di dalam perut, bukan kotoran yang keluar sendiri. Lalu ditambah dengan komposisi lain seperti terasi, gula dan sebagainya. Sangat sulit dibuat sehingga siswa butuh alternatif lain yang lebih mudah dilakukan,” jelas wanita berjilbab ini
Ada enam tong komposter yang dimiliki SMA Darul Ulum Agung. Masing-masing maksimal berkapasitas 50 kg sampah dari tanaman dan sisa makanan siswa dan santri. Dengan inovasi bioactivator alami, mereka dapat membantu anggota ekskul agro industri bidang lain seperti kebun percobaan yang juga dikembangkan di SMA Darul Ulum Agung. Sisa dari penggunaan tersebut kemudian dipacking dan dijual di bazar dan pengajian setiap tiga bulan sekali di sekolah.
Karena pembuatannya tanpa biaya pembelian bioactivator buatan, otomatis kompos produksi SMA Darul Ulum Agung juga jauh lebih murah dibanding harga pasar. Umumnya, per 5 kg kompos dijual dengan harga Rp 10 ribu, namun kompos produksi SMA Darul Ulum Agung dijual dengan harga separuhnya saja.
“Sebenarnya sempat terlintas di pikiran kami untuk mengolah bioactivator alami dan mengemasnya dalam botol. Tapi kami masih kesulitan manajemen dan pemasarannya. Jadi untuk sementara, kami fokus untuk konsisten menekuni inovasi ini di kalangan sendiri,” jelas guru mapel Kimia tersebut.
Kemudahan dan keefektifan inovasi tersebut tidak hanya diakui oleh siswa saja, tapi juga oleh pakar lingkungan dari Australia. Percobaan ini meraih juara I pada event Science Competition yang diselenggarakan oleh Australia Education Center. Nilai plus yang dimiliki, menurut wanita pecinta warna pink ini, adalah kemudahannya untuk diterapkan dimana saja. Sehingga penelitian SMA Darul Ulum Agung dapat mengalahkan sekolah-sekolah ternama di kota besar lain seperti SMA Ciputra dan SMA Mahatma Gandhi.
“Padahal pada presentasi, sekolah lain menggunakan Bahasa Inggris dan kami menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi inovasi kami sederhana, dengan komposisi air ludah yang dimiliki semua orang,” ujarnya dengan nada bangga.
Satu-satunya masalah yang dihadapi dengan kompos ini, menurutnya, ialah bau tak sedap yang dapat dihilangkan dengan menyiramkan ekstrak empon-empon. Ekstrak empon-empon adalah campuran serai, kunyit, dan lengkuas yang ditumbuk, ditambahkan air dan disiramkan ke kompos.
“Inovasi ini dapat dilakukan tak hanya di sekolah, tapi juga di kampung, perumahan bahkan apartemen,” pungkasnya. (ily/han)