Dideklarasikan Sejak 2009, Satukan Santri di Tanah Air

Pernyataan Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) yang akan menjadikan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional saat terpilih nanti, menjadi perbincangan hangat saat ini. Ada yang menilai ide itu 'konyol dan sinting', ada juga yang mempertanyakan ide tersebut. Padahal pencanangan hari santri tersebut bukan dari Jokowi, Lantas berawal dari mana dan dengan alasan apa ide ini muncul ?

Tidak mudah untuk bertemu dengan KH Thoriq bin Ziyad, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam di Desa Banjarejo Kecamatan Pagelaran. Apalagi menemuinya pada siang hari. Harus membuat janji terlebih dahulu untuk bisa bertemu dengannya. Malang Post Jumat kemarin harus datang dua kali untuk dapat bertemu langsung, meski sebelumnya sudah ada janji.
KH Thoriq bin Ziyad yang akrab disapa dengan Gus Thoriq ini adalah orang yang kali pertama memiliki gagasan Hari Santri Nasional pada 1 Muharam. Ide tersebut muncul secara spontanitas pada 2009 lalu. Berawal dari perbincangan antar santri pada grup facebook (FB).
“Dulu di Facebook ada grup bernama ‘Aku Bangga Menjadi Santri.’ Grup tersebut tempat berkumpulnya para santri di seluruh Indonesia. Ada berapa santri yang tergabung saya lupa,” ujar Gus Thoriq.
Saat ngobrol sesama santri, Gus Thoriq dengan guyonan dan iseng-iseng menulis status ide membuat Hari Santri. Status itu mendapat tanggapan luar biasa dari santri lainnya. Beberapa santri mengusulkan tanggal untuk Hari Santri dengan alasannya. “Namun akhirnya muncul usulan yang akhirnya disepakati pada 1 Muharam,” tutur Panglima Berkuda, nama dalam akun Facebooknya.
Meski mendapat dukungan para santri, tetapi kapan waktu pengukuhannya masih belum ditentukan. Namun Gus Thoriq yang berjuang supaya Hari Santri mendapat pengesahan, akhirnya mengadakan doa bersama sekaligus deklarasi Hari Santri bertepatan dengan 1 Muharam pada 18 Desember 2009.
Acara deklarasi saat itu sebetulnya sudah mengundang putra tokoh panutan santri se-Nusantara KH Hasyim Ashari yaitu KH Abdurrahman Wahid sebelum beliau wafat. Tetapi karena kondisi kesehatannya menurun, Gus Dur mewakilkan pada putrinya Yeni Wahid. Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga hadir, termasuk KH Kholil bin As’ad.
“Ketiga tokoh agama tersebut hadir dalam acara deklarasi Hari Santri. Mereka mendukung 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Dukungan diberikan dengan tanda tangan di atas prasasti,” ungkapnya.
Pada 1 Muharam 2010, Hari Santri sempat tidak diadakan. Namun pada 2011, Gus Thoriq yang juga Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Kabupaten Malang, kembali mengadakan kegiatan Hari Santri. Acara kali ini dihadiri oleh Anas Urbaningrum saat masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Anas juga mendukung dan mengapresiasi Hari Santri Nasional.
Kemudian pada 2012 Hari Santri ditempatkan di Universitas Jember, dengan dihadiri KH Said Aqil Siraj yang kini menjabat sebagai Ketua PBNU.
“Beliau juga mendukung Hari Santri dengan memberikan tanda tangan pada secarik kertas. Dan bukti tanda tangan tersebut, kalau tidak salah sampai sekarang masih disimpan dan menjadi dokumen di Universitas Jember,” paparnya.
Selanjutnya pada 2013, peringatan Hari Santri di Ponpes Babussalam dirayakan dengan mengundang sekitar 70 ribu jamaah Riyadlul Jannah. “Peringatan Hari Santri ini tidak dengan meniup terompet. Tetapi diisi dengan doa bersama dan kegiatan yang bermanfaat untuk keselamatan di dunia dan akhirat. Doa bersama juga untuk bangsa juga dihadiri seluruh ulama serta habaib se-Jawa dan Madura,” jelas dia.
Keinginan Gus Thoriq dan para santri lainnya, supaya Hari Santri ini bisa menjadi hari nasional pada 1 Muharam, juga disampaikan kepada Jokowi saat berkunjung ke Ponpes Babussalam pada 27 Juni lalu. Jokowi menyatakan siap menjadikan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional saat nantinya terpilih menjadi presiden. Janji Jokowi dituangkan dalam selembar kertas pernyataan yang ditandatangani dengan disaksikan puluhan kiai dan ribuan santri.
Lalu kenapa memilih 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Para penggagas menginginkan adanya kesatuan gerakan ilmiah dan diniyah di Indonesia, mereka juga mengharapkan adanya kerukuran para santri untuk membangun mental dan Bangsa Indonesia.
“Santri saat ini sudah memiliki banyak organisasi, mulai dari pusat sampai daerah. Hari Santri ini untuk menyatukan santri dengan memakai budaya Islam. 1 Muharam dipilih karena munculnya ide cerdas dari Umar bin Khattab melalui proses musyawarah dengan sahabat untuk menentukan suatu keputusan. Kami tidak menghilangkan sakral Muharam sebagai hari Islam. Tetapi dipilih untuk lebih menguatkan bahwa santri dan Islam tidak bisa dipisahkan,” terangnya.
Alasan lain, lanjutnya, karena ada kecemasan serta kekhawatiran kata santri akan diselewengkan ke arah yang tidak jelas. “Maka sebelum terjadi, maka 1 Muharam kami usulkan dibuat Hari Santri Nasional supaya definisi santri tidak dijadikan komoditi. Karena saat ini saja sudah muncul sarung santri atau lainnya,” sambungnya.
Soal perkatan Fahri Hamzah, salah satu timses Prabowo-Hatta bahwa ide Hari Santri merupakan ide sinting, Gus Thoriq mengatakan perkataan tersebut sangat melecehkan santri. “Itu sangat melecehkan. Saya minta dia belajar terus dan menjadi santri yang baik,” katanya.(agung priyo/han)