Memudahkan Tuna Rungu dalam Memilih Calon Idaman Mereka

Anda mengikuti debat Capres dan Cawapres beberapa lalu? Pasti Anda melihat sosok di pojok kiri bawah dalam monitor TV yang selalu menggerakkan tangan diikuti dengan ekspresi wajah sesuai dengan intonasi Capres maupun Cawapres. Ya, mereka inilah para interpreter (penerjemah) yang mengartikan semua perkataan dalam debat ke dalam bahasa isyarat. Tapi, sejauh mana kah para tuna rungu maupun tuna wicara yang juga punya hak pilih memahaminya?

Sebuah sekolah khusus penyandang Tuna Rungu berdiri di Jalan BS Riadi 126, di sekolah milik Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB)  ini, para siswa tuna rungu belajar mulai dari TK hingga SMA.  Secara fisik memang tidak ada yang berbeda antara  sekolah khusus ini dengan sekolah regular, ada beberapa ruangan untuk belajar mengajar lengkap dengan bangku serta kursi dan papan tulis. Sementara di sisi lain terdapat beberapa gedung yang berfungsi sebagai perkantoran. Ada pula kantin yang menyediakan jajanan untuk para siswa. Semuanya terlihat biasa, dan layaknya  sekolah regular.
Namun jika Anda tinggal lebih lama di sekolah ini akan menemukan sesuatu yang berbeda. Suasana sekolah lebih tenang dari riuh rendah canda dan teriakan anak-anak sebab para siswanya berbicara dengan menggerakkan tangan saat mengobrol dengan lawan bicaranya. “Ya begitulah mereka di sini. Mereka tidak menggunakan bahasa verbal yang keras layaknya orang-orang normal, tapi bahasa isyarat  untuk mengobrol,’’ kata Kepala Sekolah  SMA LB-B YPTB Minatsir S.Pd.
Dia menjelaskan, penderita tuna rungu berbeda dengan orang normal. Memiliki pendengaran sangat minim bahkan terkadang tidak bisa mendengar secara total memaksa mereka untuk membuat bahasa sendiri dengan menggerakkan tangan.  Bahasa tersebut kemudian dinamakan sebagai bahasa isyarat.
“Ada kamus, namanya Isando singkatan dari Isyarat Indonesia. Dalam kamus tersebut  memuat berbagai  gerakan tangan, untuk arti sebuah kata atau kalimat,’’ katanya.
Secara umum bahasa isyarat yang digunakan memang sama dengan kamus tersebut. Namun ada juga yang tidak. Bahasa isyarat yang tidak sama seperti dalam kamus itu dibuat oleh sekelompok siswa untuk memudahkan. “Nah yang tidak umum ini, atau bahasa lokal mereka  sulit untuk diartikan,’’ katanya, sembari mencontohkan tangan kanannya diarahkan ke mulut sebagai bahasa umum untuk makan bagi anak yang mengalami tuna rungu.
Tidak terkecuali saat interpreter di debat calon presiden memperagakan bahasa isyarat. Tidak semuanya dimengerti oleh siswa.  Terutama untuk kata-kata benda yang dijadikan kata kerja atau sebaliknya. “Seperti kata kemampuan, dalam bahasa isyarat yang diperagakan di TV tersebut tidak dapat dimengerti oleh anak-anak. Mereka hanya mengerti kata mampu. Namun itu bisa tertolong karena kalimat lanjutannya,’’ urai bapak dua anak ini.
Terlepas dari kemampuan mereka untuk mengerti satu persatu bahasa isyarat yang diperagakan tersebut, yang jelas dengan adanya peragaan bahasa isyarat dalam debat, membantu penyandang tuna rungu. “Pemilihan  presiden kan tidak hanya untuk mereka orang normal, mereka yang cacat juga memiliki hak sama. Untuk tuna rungu, bahasa isyarat seperti yang diperagakan itulah yang dimengerti mengingat mereka betul-betul tidak dapat mendengar. Itu sebabnya, dengan adanya peragaan bahasa isyarat tersebut sangat membantu dalam memberikan pengertian pada mereka untuk memantapkan pilihan,” kata pria yang mengajar di YPTB sejak 1980 ini.
Dia pun mengatakan peragaan bahasa isyarat tersebut seharusnya tidak hanya untuk debat calon presiden atau calon wakil presiden. Tapi juga ada di setiap siaran berita. Karena penyandang tuna rungu juga ingin tahu apa yang terjadi di luar sana. “Saya sempat bertanya, kepada siswa apakah senang dengan adanya peragaan bahasa isyarat pada tayangan debat capres di TV, mereka menjawab iya. Saat saya tanya mereka memilih siapa? Mereka menjawab dengan gerakan tangan menutup bibir yang artinya rahasia. Ini kan sudah menunjukkan bahwa mereka antusias, serta mengerti bahasa isyarat tersebut,’’ kata pria berusia 56 tahun ini.
Minatsir mengatakan, tuna rungu merupakan cacat lahir, yang bisa diketahui  saat bayi berumur 1-2 bulan. Untuk mengetahuinya cukup mudah, saat bayi tidak memberikan respon meskipun ada bunyi-bunyian.  Jika terjadi seperti ini, peran orang tua sangat penting, yaitu langsung membawa anaknya ke dokter untuk melakukan konsultasi.
Alat bantu dengar memang sedikit membantu mereka. Hanya saja, untuk anak-anak yang sudah besar alat ini justru mengganggu. Sebab anak-anak tuna rungu tidak memiliki perbendaharaan suara, sehingga mereka pun tidak  bisa membedakan suara. “Jika alat bantu dengar itu diberikan saat masih kecil mereka bisa membedakan antara suara satu dengan yang lain. Tapi kalau sudah besar tidak bisa, justru mengganggu,’’ urai suami Nur Sieha ini.  
Namun begitu, tidak semua anak penyandang tuna rungu atau tuna wicara belajar di sekolah khusus. Beberapa anak juga bersekolah si sekolah regular. Minatsir menyebut nama Mohammad Rizal Yahya sebagai salah satu siswa SD LB-B YPTB, yang kemudian melanjutkan di sekolah regular, dan mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa Tehnik Industri di Universitas Merdeka Malang. Yahya cukup mampu menerima pelajaran meskipun tidak mendengar dan tidak bisa berbicara. Kini, Yahya pun memilih mengajar di SMA LB-B YPTB.  
“Selain Yahya juga banyak penyandang tuna rungu yang berprestasi. Mereka umumnya  mendapatkan dukungan orang tua,’’ tandas Minatsir sambil mengatakan, orang tua memiliki peran sangat penting untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.(ira ravika/han)