Tuna Netra yang Suka Berselancar di Dunia Maya

Keterbatasan panca indra bukan menjadi halangan maupun alasan untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi. Muhammad Wuriono, penyandang disabilitas tuna netra di Kota Malang termasuk yang mahir berselancar di internet. Mulai dari browsing, download, update status di media sosial (Medsos), jual beli di toko online bahkan hingga memasang program di komputer dan gadget bisa dilakukannya.

Sesorang lelaki memakai kemeja bermotif garis-garis, tengah asyik mengoperasikan sebuah gadget android merek Advance berwarna hitam dengan softcase warna merah. Dia adalah Muhammad Wuriono (36) warga Jalan Akordion Kelurahan Tunggulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang dikenal mahir berinternet.
Dia segera bangkit dari tempat duduknya ketika mengetahui kedatangan Malang Post di rumahnya siang itu yang kemudian mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Dengan langkah enerjik dan penuh semangat, pria asal Banyuwangi tersebut masuk ke dalam kamarnya dan mengambil  gadget miliknya yang lain, Nokia dan Samsung.
Ia kemudian mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengoperasikan internet. “Saya menggunakan program Talk Damayanti yang bisa diunduh secara gratis melalui  internet. Program ini dibuat  Herman Aksara atau nama aslinya Herman Nagato dari Jakarta,” ujarnya.
Melalui program itulah, dia dapat mengoperasikan internet. Karena program tersebut mengeluarkan suara yang membimbingnya untuk menjelajahi dunia maya. Cara kerja program itu, ketika jari jemarinya menyentuh salah satu program yang berada dalam gadget miliknya, maka akan mengeluarkan suara nama program tersebut.
Contohnya bila memilih program internet, maka akan mengeluarkan suara internet dari gadget miliknya. “Suara itu yang menjadi pembimbing dan memandu saya untuk menjelajahi internet,” kata dia. Ketika mulai browsing di dunia maya, maka juga akan terdengar suara yang menunjukan situs yang sedang diaksesnya.
Misalnya, saat mengakses situs Facebook, maka suara dari program tersebut akan memandu Wuriono untuk dapat login Facebook, membuat status dan yang lainnya. “Kalau yang tidak paham Bahasa Inggris, bisa diubah menjadi Bahasa Indonesia. Suara yang keluarpun juga Bahasa Indonesia,” imbuhnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kota Malang ini menjelaskan, program tersebut juga bisa dipasang di laptop maupun PC. Sedangkan cara kerjanya sama yakni mengeluarkan suara yang memandunya untuk menjelajahi berbagai situs yang diinginkan.
“Kalau menggunakan laptop maupun komputer, saya lebih cenderung untuk melakukan transaksi di toko online dan membuat catatan di blog. Bila pada gadget android ini, biasanya saya update status di Facebook dan Twitter,” jelasnya sembari menyebutkan ia mengalami cacat buta mata sejak usia 12 tahun akibat penyakit Glukoma.
Wuriono kenal dengan program ini sejak akhir tahun 2013 lalu. Diapun berinisiatif menularkan ilmu yang dimilikinya kepada penyandang tuna netra lainnya. Diapun tidak segan-segan untuk membantu memasangkan program tersebut. Sebab menurutnya, penyandang tuna netra bukan alasan untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi.
Terlebih melalui internet, tuna netra bisa mengembangkan bakatnya. Selain itu, melalui internet pula, mereka juga bisa berkreasi dan bebas berekpresi secara positif. “Saya menginginkan bakat tuna netra tersebut dapat terus berkembang. Mereka tidak boleh pasrah dengan keadaan dan terus saya beri motivasi,” tegasnya.
Untuk itu, dia memberikan pelatihan bagi penyandang tuna netra lain untuk bisa mengoperasikan internet. Menurutnya, melalui internet pula sebenarnya mempermudah aktivitas mereka. Termasuk tidak bergantung terhadap orang lain.
“Saya khususnya DPC Pertuni Kota Malang terus berupaya keberadaan kami tidak menjadi beban orang lain. Melainkan tetap bisa mandiri, maju dan mengembangkan bakat, sesuai keahlian masing-masing,” kata dia. Di samping itu, dia tetap memacu penyandang tuna netra agar semakin mandiri dan dapat berkerasi. (Binar Gumilang)