Tak Pulang Tiga Hari, Tidur Beralaskan Kotak Suara

Suka Duka Polisi Mengamankan Pilpres 2014
Menjadi Polisi Republik Indonesia (Polri) bukan hal yang mudah. Seorang polisi tidak hanya dituntut untuk menjaga keamanan dan menegakkan hukum, tapi juga harus mengorbankan kebahagiaan mereka untuk tidak berkumpul bersama keluarga seperti yang terjadi saat pengamanan Pilpres pada bulan puasa kali ini.
Menjaga keamanan di wilayah supaya terhindar dari aksi kriminalitas, memang merupakan tugas dan kewajiban polisi. Saat tugas pengamanan Pilpres bertepatan dengan Ramadan, tentu rasanya jauh berbeda.  “Namanya juga tugas, mereka harus siap melaksanakannya. Saya juga bertugas keliling ke desa-desa untuk mengecek kondisi keamanan saat proses rekapitulasi Pilpres,” ujar Kapolres Malang AKBP Adi Deriyan Jayamarta SIK kepada Malang Post.
Orang nomor satu di lingkungan Polres Malang ini memang tampak mobile berkeliling ke desa-desa, saat proses pemilihan hingga rekapitulasi saat ini. Tentunya tugas itu tidaklah mudah. Mengingat Kabupaten Malang mempunyai wilayah yang sangat luas. Polres Malang sendiri, bertanggungjawab atas situasi keamanan di 30 kecamatan. Praktis, Kapolres harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memantau kondisi keamanan yang berada di wilayahnya. “Pekerjaan saya ini tidak seberapa. Yang hebat itu adalah jajaran yang ditempatkan di desa-desa. Apalagi mereka yang bertugas di desa-desa terpencil dan sulit dijangkau,” kata mantan Kapolres Madiun Kota ini.
Dalam kondisi seperti itu yang jauh dari keluarga, dia tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada jajarannya. Sebagai bentuk merasakan penderitaan para anggotanya tersebut, yakni tetap konsisten berkeliling memantau situasi keamanan di daerah-daerah.
Mantan penyidik Komisi Pembereantasan Korupsi (KPK) ini menjelaskan, seluruh jajaran yang bertugas di daerah-daerah telah dilengkapi dengan peralatan pendukung. Termasuk persenjataan dan juga satu paket perlengkapan kesehatan. Selain itu juga, mereka telah dilatih untuk menghadapi situasi gangguan keamanan.
“Seluruh anggota Polres Malang selalu mengedepankan sikap melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat. Kami juga melakukan pendekatan secara persuasif, bila mendapati kondisi yang berpotensi maupun memicu gangguan keamanan,” kata Perwira Menengah (Pamen) dengan dua melati di pundaknya tersebut.
Pendekatan dengan cara tersebut, dia menilai ampuh untuk mengantisipasi potensi terjadinya gangguan keamanan. Termasuk dia percaya dan mempunyai keyakinan, rangkaian rekapitulasi suara Pilpres di Kabupaten Malang berlangsung sukses. Yakni diharapkan dengan tidak terjadinya gangguan keamanan yang mencolok.  
Lain lagi pengalaman Brigadir Parsuji, anggota unit Reskrim Polsek Pujon yang punya pengalaman unik saat bertugas menjaga logistik Pemilu sebelum maupun sesudah Pilpres. Saking khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Parsuji takut pulang ke rumah saat kotak suara dalam pengawasannya. Ia takut terjadi apa-apa jika kotak suara yang penuh berkas-berkas penting tersebut ditinggalkan.
Bahkan Parsuji sampai menggunakan deretan kotak suara itu sebagai alas tidurnya. Dengan begitu, ketika ada yang mendekati kotak suara, dalam waktu cepat Parsuji bisa mengetahuinya. “Saya tidak berani kemana-mana, karena tugas negara menjaga kotak suara ini. Sebelum kotak suara digeser lagi ke PPK, saya harus tetap ada di sini,” ujar Parsuji yang kebagian tugas menjaga 8 TPS di wilayah Desa Pandesari Pujon.
Ia merasa ada tanggungjawab yang harus dijaga, hingga untuk meninggalkannya saja ia khawatir. Meski berat karena harus menjaga logistik Pemilu yang begitu penting serta dalam waktu yang lama, Parsuji merasa senang karena bisa bertemu dengan banyak kalangan.
Selain itu, ia merasa bangga karena mendapatkan tugas menyukseskan Pilpres. “Suasana Desa Pandesari sebenarnya kondusif, tetapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, mending mencegah dari pada mengobati,” tuturnya.
Karena itulah, ia memilih tidur berteman dengan kotak suara. Distribusi logistik ini, kadang terpaksa harus dilakukan pada saat berbuka puasa atau setelah sahur, tapi itu semua dijalaninya dengan senang hati.
Rela mereka berada di kelurahan 1x24 jam selama berhari-hari. Menjaga pantauan agar kotak suara tak lepas dari pandangan. Bisa saja mereka meninggalkan tugasnya dan bersantai di tempat lain, namun apa jadinya bila kotak suara bermasalah sewaktu-waktu? Bagi mereka, hal itu jadi penghambat pesta demokrasi terbesar ini.
Sementara itu Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suhariyanto mengatakan polisi yang rela berada di kelurahan selama 1x24 jam selama berhari-hari merupakan  tekad seorang aparat. “Tekad para polisi tahun ini sangat tinggi. Bahkan, sampai tahan tidak pulang ke rumahnya selama tiga hari,” tegasnya kepada Malang Post kemarin. Tekad para polisi ini, lanjut Totok, patut diapresiasi. Pengorbanam tersebut baginya tidak lain demi demokrasi.
Ia mengatakan, strategi pengamanan disusun secara maksimal. Mulanya polisi diluncurkan ke PPS (Panitia Pemungutan Suara), kemudian dilempar ke TPS setempat. Dua polisi bertanggung jawab atas enam TPS kecuali di TPS rawan yang dijaga satu polisi. TPS ini berada di dekat kampus, sebab gesekan antar mahasiswanya cukup besar.
“Pemuda sekarang sudah cerdas-cerdas. Tapi semoga saja mereka tidak melakukan bentrokan di sini,” ujar Totok. Dia berharap dengan segenap kemampuan yang telah dikerahkan polisi, masyarakat jadi lebih cerdas menyikapi Pilpres di tahun-tahun mendatang. Dia mengaku, senang dengan iklim Pilpres tahun ini.
Dalam pengamanan Pilpres tahun ini, Totok menerjunkan 658 polisi yang disebar ke 1276 TPS di lima Kecamatan Jawa Timur. Polisi tersebut mengikuti kemana pun kotak suara dipindahkan. “Mereka tidak pulang lagi ke rumah, yang penting kotak suara aman,” ujarnya diiringi tawa (big/muh/erz/han)