‘‘Berantem” dengan Besan Hingga Rela Cukur Gundul

AKADEMISI satu ini memang  tak pernah bertemu langsung dengan calon presiden RI Joko Widodo. Tapi ia gigih di garda depan membela presiden terpilih versi quick count yang populer disapa Jokowi itu. Setelah  ‘berjuang’ demi jagoannya, kini dia penuhi semua nazarnya, dari cukur gundul, mengenakan kemeja kotak-kotak selama seminggu hingga mentraktir teman-temannya sepanjang hari. Itulah kegigihan Dr Achmad Habib, MA.


Tanggal 9 Juli 2014 bagai hari kemenangannya. Jelang sore, Habib, begitu sapaan akrab Dr Achmad Habib MA bersorak sorai. Ia merasakan kemenangan menyusul pengumuman penghitungan cepat yang memenangkan pasangan Capres-Cawapres, Jokowi-JK. Deretan selebrasi pun dihelat Habib.
Usai bersorak kemenangan, malam  selepas salat  tarawih, Habib bergegas menuju sebuah tempat cukur rambut di Jalan Gajayana. Malam itu, dosen FISIP UMM  ini mencukur gundul rambutnya. Pria 66 tahun ini pun botak plontos. “Ini salah satu nazar saya. Dan ini pertama kalinya saya gundul seperti begini,” ucapnya  kepada Malang Post sembari menunjukkan kepalanya yang sudah tak berambut lagi. Itu adalah salah satu cara Habib merayakan kemenangan mantan Wali Kota Solo ini.
Habib sebenarnya bukan simpatisan, juga tak tercatat sebagai kader partai politik yang mengusung Jokowi-JK di Pilpres kali ini. Dia pun bukan seorang anggota maupun pengurus relawan Jokowi.
Sehari-hari  ia  adalah akademisi murni di bidang ilmu sosiologi. Kadar keilmuannya  tak diragukan. Ia alumni S2  lulusan University Of Michigan, Amerika Serikat. Juga seorang doktor alumni  Unair, Surabaya. Pengalamannya di bidang akademik  sangatlah luas.
Sejak Jokowi dicalonkan sebagai presiden RI  yang akan menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono, Habib bagai tim sukses walau pun sebenarnya tak termasuk dalam daftar tim sukses.
Aksi gundul memenuhi nazar hanyalah salah satu. Hingga saat ini, sejak 9 Juli lalu, ia mengenakan kemeja kotak-kotak yang menjadi identitas kubu Jokowi. Memenuhi nazar berkemeja kotak-kotak  selama seminggu, ia pun terus mengenakannya dalam kesempatan apapun. Saat ke kampus, hingga untuk semua urusannya di luar rumah. “Kemeja kotak-kotak ini diberi teman. Saya punya tiga stel,” katanya bersemangat.
Meyakini kemenangan pasangan Capres Jokowi-JK, kini  Habib masih memenuhi nazarnya yang lain. Yakni mentraktir teman-temannya sekaligus merayakan kemenangan idolanya.
Hari-hari ini memang sedang jadi hari bahagianya. Habib merasa menang seperti Jokowi setelah sebelumnya ikut ‘tempur’ di tahapan Pilpres. Ia lalu bercerita getirnya bertarung di medan Pilpres.
“Saya membela Jokowi di Facebook (FB). Padahal sebelumnya saya bukan facebooker, buka FB hanya iseng-iseng saja. Ya baru aktif di Pilpres ini,” katanya.
Ia memilih FB sebagai medan laga lantaran memiliki ribuan pertemanan untuk mengenalkan sekaligus memperjuangkan gubernur non aktif DKI Jakarta itu agar menjadi RI 1. Untuk meyakinkan publik tentang siapa Jokowi, Habib selalu up date status tentang kelebihan, keunggulan dan alasan mengapa harus memilih Jokowi-JK. Sekali memasang status, ratusan komentar  pun mengalir. Mulai dari mendukung, protes hingga menghujat. Ia bahkan terbiasa diserang para lawan Jokowi di Facebook. Namanya juga loyalis, Habib berasa semakin tertantang. Bahkan kian  aktif mengampanyekan sang idola. Kisah pilu jadi loyalis diserang lawan politik menimpa Habib.
“Saya diserang, dihabisin di Facebook,” katanya.
Ia dikatai dosen tak bernalar lantaran lantang membela  Jokowi. “Saya sampai dikatai PKI. Dianggap antek Amerika. Saat dihabisi, saya hanya tertawa. Saya anggap itu biasa, itu risiko,” sambungnya sembari tertawa.
Semua risiko yang terjadi  memang biasa bagi sang dosen ini. Namun ada satu kisah yang tak bakalan dilupakannya selama mendukung Jokowi. Yakni  ‘berantem’ dengan  besannya di Bandung yang aktif di salah satu parpol pengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Diserang berkali-kali, Habib pantang mundur. Pria ramah ini justru semakin aktif di Facebook untuk membela Jokowi. Setiap malam sampai subuh online di FB untuk up date status tentang sisi positif Jokowi. Bahkan ia rajin mengikuti berita Jokowi setiap saat.
Habib pun rela merogoh dalam-dalam isi dompetnya untuk membeli iPad agar bisa online kapan pun dan dimana saja berada. “Ini iPad mini 2 retina yang saya beli agar bisa online kapan pun. Harganya Rp 9 juta. Saya beli dengan uang sendiri,” terangnya.
Tak hanya eksis di FB, dosen yang memiliki jaringan HAM  luas itu juga berjuang di darat. Ia kerap mengenalkan sosok dan gagasan Jokowi kepada sesamanya. Seperti di FB, Habib pun kerap diserang. Tapi, lagi-lagi, ia tak  pernah  gentar.
Mengungkapkan ekpresi terhadap  jagoannya, Habib tak sendirian. Ia selalu didukung oleh istri dan anak-anaknya. Apalagi semua yang dilakukannya berdasarkan alasan yang rasional, ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu pula, ia menjelaskan tentang sosok dan gagasan Jokowi secara ilmiah pula.
Salah satu alasan  mendukung Jokowi karena ada revolusi kebudayaan politik. Menurutnya, Jokowi telah menjadi bagian dari revolusi kebudayaan politik dimana rakyat biasa bisa menjadi presiden. Selama ini, presiden selalu berasal dari keturunan elit. “Nah sekarang rakyat biasa bisa tampil, bisa jadi presiden asalkan berprestasi. Jokowi sudah membuktikannya,”  terangnya.
Menurut Habib, Jokowi memang layak jadi presiden. Apalagi visi misi yang diusung lebih realistis dan bisa mengatasi persoalan bangsa. Salah satu contohnya yakni tol laut dan pengawasan laut menggunakan pesawat tanpa awak.
Pria asal Banyuwangi ini juga bersikukuh membantah kampanye hitam yang diberikan kepada Jokowi. Salah satunya serangan kepada Jokowi yang disebut sebagai boneka. “Itu tidak benar. Pak Jokowi sudah membuktikan saat menjadi Wali Kota Solo dan gubernur DKI Jakarta tidak menjadi boneka. Ia juga tidak dibayangi oleh Megawati. Dia tunduk kepada rakyat,” bela Habib.
Militan dan bergerak sendirian untuk Jokowi, ternyata Habib belum pernah bertemu dengan sang idolanya itu. Juga tak ada target tertentu yang ingin dicari. Semua yang dilakukan karena yakin Jokowi-JK bisa mengatasi persoalan bangsa. Namun demikian, dia yakin, suatu saat akan bertemu secara langsung dengan Jokowi.Semua kisah perjuangan Habib segera didokumentasikan  dalam bentuk karya ilmiah. Rencananya ratusan status di FB miliknya dan ribuan komentar terhadap status di FB itu akan dibukukan. (vandri van battu/han)