Bonanova Akustik, Grup Musik Asal Malang

Kota Malang selama ini dikenal sebagai produsen musisi dan band dengan kemampuan unggulan. Tatkala Ramadan, banyak musisi atau anak band mengalami perubahan peruntungan. Ada yang job berkurang, tetapi ada pula yang justru laris manis. Salah satu yang laris manis adalah Bonanova, band akustik yang sudah berusia 15 tahun.

Selama Juli ini atau ketika Ramadan tepatnya, seakan tidak ada momen liburan bagi grup band beranggotakan Donny, Caecilia, Christopher, Cecep dan Hachi tersebut. Bonanova, setiap Senin-Sabtu mempunyai jadwal manggung. Praktis, hanya hari Minggu saja mereka beristirahat.
"Kami punya jadwal tetap sebulan penuh, kecuali hari Minggu. Jadi, kami termasuk yang kejar setoran untuk Ramadan ini," ujar Donatus Purbandono, yang merupakan koordinator Bonanova.
Namun, grup yang mengakui lebih beraliran oldies untuk lagu-lagunya ini, tidak bermain di kandang sendiri atau di Kota Malang. Tetapi, justru manggung di hotel berbintang di Surabaya, yakni Sheraton.
"Ya, kontrak di Sheraton sampai tanggal 27 Juli. Setelah itu, normal lagi menunggu job di Malang," beber pria yang akrab disapa Donny tersebut.
Donny pun bercerita, bagaimana grup yang membawa serta Wahyu sebagai additional player ketika manggung di hotel bintang lima di Surabaya tersebut. Manajemennya mengajukan diri kepada manajemen Sheraton sejak awal tahun. "Akhirnya, selain di bulan puasa ini, kami sudah tampil di sana di bulan Februari lalu," tegas dia kepada Malang Post.
Secara kebetulan, di Malang pun saat ini sedang ada peraturan larangan live music hingga larut malam sekalipun di perhotelan. "Di Sheraton, kami mulai manggung pukul 20.30 WIB hingga pukul 00.15 WIB di hari Senin sampai Kamis. Sedangkan Jumat-Sabtu, sampai pukul 00.45," ujar pria yang didapuk sebagai pemain perkusi di Bonanova.
Suka duka pun menjadi bagian dari grup band yang sebagian besar personilnya alumnus Universitas Merdeka Malang tersebut. Salah satunya, jauh dari keluarga. Apalagi, beberapa sudah menikah dan memiliki anak. Sementara, mereka mesti menjadi anak kos di Surabaya.
Selain itu, duka lain yakni harus melayani tamu di Sheraton yang sebagian besar warga negara asing. Lagu-lagu yang diminta lebih aneh-aneh. Tidak jarang, personil kesulitan, terutama sang vokalis. "Harus cari referensi kesenangan orang Tiongkok, Jepang, Amerika, atau Perancis. Mereka berbeda selera, dan menyukai lagu-lagu country serta jadul banget," papar Donny.
Ketika manggung, tidak ada waktu belajar. Terlebih, bermain di hotel besar dengan tamu heterogen, permintaan yang beragam menjadi tantangan. Bila berhasil, tamu senang. Bila gagal, taruhannya kontrak ke depan.
"Bisa jadi gak dikontrak lagi atau ketika kami mengajukan diri lebih diacuhkan. Tetapi, nilai lebihnya, mental personil semakin kuat. Tidak jarang, ada tawaran dari tamu untuk manggung di tempat lain. Bisa sampai luar negeri," urainya panjang lebar.
Dia melanjutkan, hari Minggu menjadi kesempatan bagi grup yang berdiri sejak 1999 ini untuk balik ke Malang. Bila ada even diterima, bila tidak menjadi ajang liburan. Seperti di pertengahan puasa ini, sudah ada permintaan untuk tampil di salah satu resto eksklusif di Kota Malang. "Karena tidak bentrok dan masih bisa mengatur jadwal dengan di Sheraton, kami terima," lanjut Dhonny.
Mengenai tarif, Dhonny mengaku ada perbedaan antara kontrak reguler dengan even. Seperti di Sheraton, dengan sistem kontrak penuh harga lebih rendah, ketimbang permintaan even satu hari.
"Selama 24 hari tampil di Surabaya, kontraknya di atas Rp 25 juta. Sementara, untuk even bandrolnya antara Rp 3,5 juta sampai Rp 7 juta. Tetapi, tergantung nego, bisa diatur," ungkapnya, lantas terkekeh.
Sebelum full manggung di Sheraton, Bonanova memiliki jadwal reguler di Best Wester OJ Hotel Malang. Jauh sebelumnya, juga ada jadwal di Aria Gajayana Malang. Sementara, di Hotel Tugu Malang yang merupakan tempat yang membuat nama Bonanova dikenal luas, kontrak reguler telah berakhir di awal tahun lalu.
"Sudah jarang di Hotel Tugu kecuali ada even," tukasnya. (Stenly Rehardson/ary)