Jadi Berkah Ramadan, Pendapatan Pekerja Lebihi UMK

Warga dua kecamatan di Kabupaten Malang harus rela menaiki perahu penyeberangan (getek) untuk terhubung satu sama lain. Yakni Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran dan Desa Kemiri Kecamatan Kepanjen. Kondisi itu terjadi jembatan penghubung dalam proses perbaikan, namun pembangunan justru menjadi berkah bagi warga dua desa tersebut.


Ramadan, bulan penuh dengan berkah. Setidaknya itu yang dirasakan oleh warga dua desa di dua kecamatan yang berbeda. Puluhan warga di dua desa ini, mendapat pekerjaan dadakan sebagai penarik perahu getek, sejak awal Juli lalu. Jika ditotal, pendapatan mereka dari profesi pekerja penyeberangan itu, bisa melebih angka Upah Minimum Kabupaten (UMK) Malang sebesar Rp1.635.000.
Siang itu jarum jam di tangan baru menunjukkan pukul 11.45. Tetapi kondisi cuaca di Kecamatan Kepanjen cukup panas sekali. Matahari berada tepat di atas kepala. Meskipun memakai jaket untuk melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari, namun masih terasa panas.
Sejumlah kendaraan sepeda motor, terlihat berlalu-lalang di Desa Kemiri Kepanjen. Mereka keluar masuk jalan menuju arah sungai (bendungan). Kendaraan itu, baru saja menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar 50 meter, dengan menggunakan jasa perahu getek.
Perahu getek ini berbentuk persegi panjang. Ukurannya sekitar 3 x 8 meter. Alas perahu ini adalah kayu dan bambu yang diikat di atas pelampung dari tong. “Semua peralatan untuk pembuatan perahu getek ini dari PT Jasa Tirta,” ungkap Hadi Kristiono, koordinator penarik perahu getek di Desa Kemiri Kepanjen.
Perahu ini dijalankan dengan tenaga manusia. Ada sekitar 5 – 6  orang yang terlihat menarik perahu getek ini. Dua orang lainnya menunggu di pinggir sungai atau sandaran perahu getek. Tugas dua orang ini menahan perahu, supaya tidak kembali ke tengah sungai ketika bersandar. Seorang lagi dengan terlihat santai membawa omplong bekas kaleng biskuit khong guan. Omplong itu, untuk menarik biaya pada penumpang perahu getek.
“Biayanya tidak mahal, hanya Rp 2 ribu untuk satu orang sama kendaraannya sekali menyeberang. Setiap kali jalan, maksimal perahu getek hanya berisi 12 motor. Kalau berboncengan, ya maksimal hanya 10 motor,” ujar Hadi.
Perahu getek ini ada sejak 1 Juli lalu. Keberadaan perahu getek, setelah jembatan belly (jembatan gantung) yang menghubungkan dua dua desa dan dua kecamatan dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Rencananya jembatan belly akan dilebarkan, sehingga bisa dilewati mobil. Selama jembatan dibangun warga memilih naik perahu getek. Sebenarnya mereka bisa memutar ke Gondanglegi, namun kebanyakan malas, karena jaraknya harus membengkak belasan kilometer untuk menuju Kepanjen.
Sehingga penyeberangan dengan perahu getek, difungsikan untuk memudahkan masyarakat sekitar. Sebab, masyarakat yang dari Desa Kemiri Kecamatan Kepanjen ke Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran atau sebaliknya, tidak harus memutar jauh dan memerlukan waktu sekitar satu jam. “Tetapi hanya lima menit, sudah sampai,” katanya.
Perahu ini setiap harinya selama 24 jam dioperasikan oleh 84 orang. Rinciannya 54 orang dari Desa Kemiri dan 30 orang dari Desa Kanigoro. Untuk menghindari rebutan mengoperasikan, sebelumnya sudah melalui rapat. Yaitu tiga hari dioperasikan masyarakat Desa Kanigoro dan tiga hari masyarakat Desa Kemiri.
Setiap harinya dioperasikan tiga shift. Satu shitt untuk Desa Kemiri sebanyak 18 orang, sedangkan Desa Kanigoro sebanyak 10 orang. Shift pertama pukul 06.00 - 12.00, shift kedua pukul 12.00 – 18.00 dan shit ketiga pukul 18.00 – 06.00.
Penghasilan bersih yang diterima setiap orang untuk sekali mengoperasikan, lumayan cukup besar. “Kalau di Desa Kemiri karena 18 orang, maka satu orang rata-rata mendapat Rp 60 ribu. Itu kalau kebagian shift pagi sampai sore. Tetapi kalau shif malam, rata-rata hanya Rp 25 ribu, karena jumlah orang yang menyeberang malam tidak terlalu banyak. Tetapi sebelum dibagi rata, penghasilan yang terkumpul dipotong 10 persen untuk biaya perawatan perahu,” paparnya, sembari mengatakan bahwa ini berkah di bulan Ramadan, karena sebagian yang bekerja ada kuli serabutan dan pengangguran.
“Dulu sekitar tahun 1998, penyeberangan dengan perahu getek ini pernah dilakukan. Itu sebelum ada jembatan belly. Namun setelah ada jembatan, perahu tidak lagi ada. Dan sekarang ketika jembatan dilebarkan, perahu getek difungsikan. Perahu beroperasi kalau kondisi cuaca baik. Tetapi ketika kondisi cuaca buruk, hujan deras lalu banjir kami hentikan,” sambung pria berusia 41 tahun ini.(agung priyo/ary)