Di Balik Perjalanan Hendro Siswanto ke Qatar

Empat pemain Arema Cronus Hendro Siswanto, Samsul Arif, Cristian Gonzales dan Kurnia Meiga Hermansyah berkesempatan menjajal kemampuan Timnas Qatar dini hari kemarin (15/7/14). Namun, ada cerita di balik pertandingan yang dialami oleh gelandang muda Singo Edan Hendro Siswanto. Berikut pengalaman Hendro bersentuhan dengan peradaban serta cuaca negeri timur tengah calon tuan rumah Piala Dunia 2022 ini.
 
Cahaya panas timur tengah menyengat Qatar Airways yang terbang rendah di area pendaratan Hamad International Airport, 13 Juli lalu. Cahaya matahari menyerobot masuk ke jendela kabin. Penumpang pesawat masih lelap tertidur. Suara kapten pesawat samara-samar menggema di koridor penumpang. Itu cuma alarm pagi, pikir penumpang dengan mata masih lengket. Telinga mereka mendengar, tapi mengabaikan suara yang keluar dari speaker pesawat
Beberapa penumpang, menarik selimut menutupi kepala, tanda kantuk dan lelah yang masih terasa. Maklum, mereka mengudara selama 10 jam. Selama itu, mereka tidur terduduk. Tidak nyaman. Tak heran penumpang masih capek. Punggung kaku. Tengkuk, kencang seperti tiang. Ingin rasanya tetap tidur sampai badan lebih segar.
Sejenak kemudian, suara pramugari membangunkan Hendro Siswanto yang lelap. Gelandang Arema Cronus sekaligus pemain Timnas senior itu memaksa matanya untuk terbuka. Para pramugari pesawat sukses mengganggu tidur para pemain Timnas senior, yang masih terkantuk-kantuk karena terlalu lama berada di pesawat.
Tapi, ada pemain yang masih ngotot menutup mata, meski selimut telah disita. Desing mesin pesawat terdengar bising. Sayap pesawat gaduh. Suara kapten dari speaker pesawat seperti siaran radio rusak. Pesawat terbang rendah, makin rendah. Sejenak kemudian, dua ban belakang pesawat menggaruk aspal landing zone. Duk!
Gempa kecil melanda kabin. Mata semua pemain kini terbuka karena gempa pendaratan. Headset musik di telinga, dilepas. Sabuk pengaman dibuka. Pemain bangun. Sinyal handphone dinyalakan. Tapi tulisan no service keluar dari layar. Sebagian pemain berdiri, melakukan peregangan. Duduk 10 jam lebih membuat otot kaku.
Hendro masih duduk tenang. Sambil mengucek mata kantuknya, ia memanjangkan kaki. Telungkup sebentar dan duduk dalam posisi normal lagi. Pesawat berhenti bergerak. Hendro pun bangun dari tempat duduk. Ia membuka bagasi atas, meraih tas kecil yang berisi barang-barang pribadinya.
Ia keluar dari kursi, berdiri di koridor pesawat. Ia melihat jam tangan. Masih pukul 05.20 waktu Qatar. Cukup sah bila Hendro berharap udara subuh yang dingin menyambutnya keluar dari pintu kabin pesawat. Kakinya melangkah keluar ke tangga turun landing zone. Bau panas mencekat hidungnya.
Udara kering Doha mengecewakannya. “Ya sebenarnya saya tahu Qatar dan negara timur tengah itu panas. Tapi saya gak nyangka bahkan udara subuhnya pun panas, hehe. Harusnya subuh itu ada angin sedikit, agak dingin. Di sini gak ada. Subuh pun sudah sumuk,” terang Hendro.
Hendro membuka tabletnya. Suhu Doha 36 derajat selsius saat subuh. Jauh lebih panas dari Jakarta di waktu normal antara 28-30 derajat selsius. Tak ada kabut subuh. Keluar dari bandara, Doha sudah terang benderang. Udaranya jauh dari kata lembab. Hendro hanya lima menit menghirup udara asli Qatar.
Ia menaiki bus tim yang mengangkutnya ke tempat menginap di Doha, Radisson Blu, hotel berbintang jaringan internasional. Dari balik kaca, Hendro melihat bangunan-bangunan modern yang berdiri kokoh di tanah gurun Qatar. Doha adalah ibukota Qatar, salah satu negara minyak yang kaya dan maju.
“Kotanya modern dan bahkan terlihat futuristik. Banyak pencakar langit. Seperti Jakarta, tapi jalanannya lebih teratur dan modern,” tutur pemain kelahiran Tuban itu. Di jalanan, ia melihat para pria Arab yang berbadan tinggi sedang berjalan di trotoar. Sejatinya, Hendro berharap melihat orang-orang bergelung sorban, dengan baju putih yang kedodoran, seperti yang biasa ia lihat di TV, saat pertandingan liga Arab.
“Tidak, di sini orangnya biasa-biasa. Bukan seperti bayangan saya saat nonton tribun di liga Arab. Tidak banyak orang pakai baju putih besar, sambil memakai sorban. Bahkan, setelah beberapa saat di Qatar saya tidak lihat yang seperti itu. Mungkin karena Doha kota yang maju ya,” tandas pemain bernomor punggung 8 di Timnas senior itu.
Bus Hendro melaju tenang selama 22 menit. Tak lama, bus Timnas berhenti di persimpangan Salwa Road, bagian dari C Ring Road Mahmoud Area. Ia melihat hotel Radisson Blu yang terlihat istimewa dan mewah. Tapi, Hendro tidak mempedulikan hal itu. Waktu menunjukkan pukul 06.00 waktu Qatar, saat Hendro masuk kamar hotel dan langsung ambruk di kasur.
“Saya tidak sempat jalan-jalan begitu sampai. Karena kondisi berpuasa. Saya milih tidur saja. Soalnya kita tak ada waktu sebenarnya untuk jalan-jalan. Malam hari setelah tiba, Timnas ada jadwal uji lapangan di stadion untuk lawan timnas Qatar,” tegas mantan pemain Persela Lamongan itu.
Malam hari, skuad asuhan Alfred Riedl menjajal stadion Saoud Bin Abdulrahman. Stadion ini punya nama lain stadion Al Wakrah. Sebab, stadion berkapasitas 12 ribu penonton itu adalah markas tim liga Qatar, Alwakrah SC. Sekitar satu jam, Hendro menjajal rumput stadion Saoud Bin Abdulrahman.
Hasilnya, Hendro terkesima. Pemain berusia 24 tahun itu sangat senang dengan kondisi rumput stadion. “Lapangannya berkelas. Rumputnya berkualitas bagus. Bola bergerak sesuai dengan keinginan saya, baik saat mengumpan, menggiring dan melakukan shooting, bagus sekali kondisinya,” tegas Hendro.
Tidak heran, rekan dekat Dendi Santoso itupun langsung percaya bahwa Qatar sangat layak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebab, dari kualitas rumputnya sudah mencukupi. Belum lagi, banyak hotel-hotel berbintang seperti Radisson Blu yang layak menjadi tempat hunian pemain sepakbola kelas dunia.
“Menurut saya Qatar memang sedang disiapkan untuk jadi tuan rumah Piala Dunia sejak lama. Dengan kualitas rumput seperti ini, mereka cukup layak,” tegas Hendro. Meskipun iri dengan kondisi lapangannya, tapi Hendro sama sekali tidak iri dengan kualitas Timnas Qatar. Hendro menganggap Timnas Indonesia masih bisa bersaing dengan tim arab seperti Qatar.
Terbukti, dalam pertandingan dini hari kemarin, Hendro Siswanto dkk sukses menahan imbang Qatar dengan skor 2-2. Karena kondisi lapangan yang istimewa, permainan Garuda juga membaik. Indonesia sukses menahan imbang Qatar lewat gol Ricardo Salampessy dan Irfan Bachdim.
“Tapi saya dan tim tidak bisa berlama-lama di sini. Setelah pertandingan, kita langsung packing. Sebab, besoknya (kemarin) harus sudah kembali ke Indonesia. Semoga saja, kita masih ada kesempatan kembali ke sini, dengan cara lolos kualifikasi Piala Dunia 2022, amin,” tutupnya.(fino yudistira/han)