Juara Menyanyi, Hapal Lakon Wayang dan Kuasai 300 Lagu Jawa

Menyandang predikat sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK), tidak membuat minder Dadang Tria Handoko, 20 tahun warga Desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang, untuk mengembangkan bakat. Melalui keterbatasan fisiknya sebagai tunanetra, siswa kelas 12 SMALB (Sekolah Menengah Atas Luar Biasa) Bedali-Lawang, justru mampu membuat kagum banyak orang.


Menyanyi, itulah satu dari beberapa bakat yang dimiliki anak ragil dari tiga bersaudara pasangan Sardi dan Sukarsih itu. Meski dalam penglihatan memiliki keterbatasan, banyak prestasi atau tropi dari bakatnya itu dipersembahkan untuk sekolah. Salah satu prestasi atau bakatnya, yakni lomba menyanyi tingkat Provinsi Jatim. Dari hampir seratus peserta yang mengikuti lomba di Kota Batu itu, remaja berpostur besar tersebut mampu memberikan tropi juara 1 untuk sekolahnya.
Dari prestasinya itu, Tria berhak mewakili Jatim di tingkat Nasional Tahun 2013 lalu. Walaupun, hasil yang didapat pada kejuaraan itu, hanya berhak untuk juara harapan II tingkat nasional.
“Untuk menyanyi, sebenarnya banyak kejuaraan yang sudah saya ikuti dalam mewakili sekolah. Terakhir, ya lomba menyanyi tingkat nasional di Medan pada Tahun 2013, yang dalam penjuriannya malah membuat saya bingung,” kata Tria saat ditemui Malang Post di rumahnya.
Ditanya mengenai adaptasinya terhadap beragam jenis musik, Tria mengaku, memang butuh adaptasi secara khusus. Utamanya, untuk lagu-lagu baru yang biasa harus dinyanyikan sebagai lagu wajib dalam setiap lomba.
“Lagu pop biasanya menjadi bagian lagu wajib saat lomba. Untuk bisa menghafal lagu atau syairnya, maka kita harus menulis sendiri syair persyair dari lagu itu. Caranya, dengan menggunakan tulisan braille dan itu juga harus mengulang syair demi syair dengan cara mem-pause lagu,” ungkapnya.
Untuk bisa menghafal satu lagu atau syair, kata remaja vokalis dari grup musik ‘The Spesial Band’ sekolahnya itu, butuh waktu maksimal paling lama sehari untuk menghafal. “Terhadap lagu-lagu baru, sebenarnya yang sulit adalah pada syairnya. Karena, ketika tidak ingat harus membaca kembali teks atau huruf braille hingga hafal. Sementara untuk nada, biasanya cukup dirasakan oleh perasaan akan mengalir dengan sendirinya,” paparnya Tria ringan.
Yang menarik dari bakat yang dimiliki Tria, selain hafal dengan syair dan nada sejumlah grup musik pop. Bahkan remaja yang setiap kali berangkat ke sekolah harus diantar jemput orang tuanya itu, juga sangat hafal dengan lagu-lagu Jawa. Bahkan, jika dibandingkan dengan lagu pop, remaja tersebut malah banyak hafal dan tahu lagu-lagu Jawa.
“Kalau 300-an lagu Jawa, mungkin lebih. Karena dalam lagu Jawa, itu ada istilahnya gending tayub, campursari hingga langgam. Dari beberapa jenis itu, saya tahu dan paham. Termasuk, seperti mocopat dan nembang di setiap pagelaran wayang kulit,” ungkap Tria.
Dia menambahkan kalau bakat aslinya adalah pada lagu-lagu Jawa. Karenanya, koleksi hafalannya lebih kepada lagu itu. Dari bakat terakhir itu pula, nama Tria pun menjadi seolah terkenal. Bahkan, dalam setiap kali acara wayang kulit, remaja ramah dan sopan itu, selalu diminta mendampingi dalang untuk mengisi waktu nembang.
Yang menjadikan diri Tria kian dikagumi, piwai membawakan lakon beberapa tokoh pewayangan. Tidak hanya sinopsis masing-masing lakon yang biasa dibawa pada setiap pementasan wayang. Namun, bagaimana logat bicara permasing-masing tokoh pewayangan yang berbeda-beda, mampu diutarakannya dengan lancar.
“Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi dalang. Makanya, setelah lulus nanti akan meneruskan ke cita-cita itu,” harapnya.(sigit rokhmad e/ary)