Manfaatkan Hasil Bank Sampah untuk Membangun Masjid

Sampah, tidak selamanya menjadi barang yang kotor dan harus dibuang. Sebaliknya sampah dapat diolah menjadi benda-benda bermanfaat, bahkan keberadaannya bisa memberikan nilai ekonomis untuk pembangunan rumah ibadah. Di RW06 Kelurahan Tasikmadu salah satunya, saat warga memanfaatkan hasil dari penjualan sampah untuk merenovasi musala menjadi masjid Al Mustaqim.
Mendatangi masjid Al Mustaqim memang tidak sulit. Masjid ini terletak di area Perum Puskopad. Seperti perumahan pada umumnya, lingkungan perumahan Puskopad terlihat sepi. Tidak banyak orang yang lalu lalang di perumahan yang dibangun sejak awal  tahun 1994 ini. Namun begitu, saat masuk di lingkungan RW 06, Malang Post melihat adanya aktivitas warga yang tampak sibuk melakukan renovasi masjid Al Mustaqim.
Takmir masjid Al Mustakim, Widji mengatakan rumah ibadah ini berdiri sejak 1995 lalu. Merupakan fasilitas dari pengembang perumahan, yang diberikan kepada warga sebagai fasilitas umum (Fasum). Kala itu, musala Al Mustaqim hanya memiliki luas bangunan 6x6 meter. Namun keberadaan musala inipun langsung dimanfaatkan warga yang mayoritas beragama Islam untuk menjalankan salat lima waktu berjamaah.
“Pertama berdiri memang tidak ada kendala. Bangunan seluas 36 meter persegi ini bisa menampung warga yang menjalankan salat lima waktu,’’ katanya.
Namun seiring dengan perkembangan dan banyaknya warga yang menetap, bangunan musala pun tidak dapat menampung mereka. Beberapa warga harus berada di luar untuk bisa salat berjamaah. Dari situ lah kemudian warga mulai berinisiatif untuk melakukan renovasi. Diawali dengan membuat teras di samping kiri serta depan, juga menambahkan atap di atasnya.
“Tahun 1995 akhir pertama dilakukan renovasi. Tidak mengubah bentuk bangunan, tapi dilakukan penambahan teras berikut atapnya, membuat sumur serta tempat wudhu,’’ kata pensiunan TNI AD ini, sembari mengatakan untuk biaya renovasi, warga mendapatkan dari para donatur.
Kondisi yang semakin bagus, membuat warga semakin bersemangat datang ke musala untuk beribadah. Terutama saat ramadan. Bangunan musala ini betul-betul tidak lagi muat untuk semua jamaah. Warga yang tarawih harus melaksanakan salat hingga di luar bangunan sehingga renovasi kedua pun dilakukan.
Hingga akhir tahun 2011 lalu. Warga berniat untuk memperluas dan mengubah musala menjadi masjid. Alasannya sepele, jamaah yang datang kian banyak, dan warga ingin bangunan masjid ini bisa digunakan salat Jumat. Namun begitu, keinginan tersebut tidak bisa langsung terkabul, lantaran untuk renovasi membutuhkan biaya yang sangat besar. “Pak Wagimin orang yang berjasa saat itu. Ketika rapat warga dia mengusulkan untuk mendirikan Bank Sampah Malang (BSM). BSM ini menampung sampah-sampah dari masyarakat yang bisa dijual kemudian hasilnya digunakan untuk mendanai renovasi masjid,’’ katanya, yang saat ditemui Malang Post didampingi H Paiman, Ketua RW 06, Kelurahan Tasikmadu.
Meminjam tanah makam milik warga RW05, bangunan BSM didirikan. Di bangunan yang berhadapan dengan Masjid Al Mustaqim inilah, sampah-sampah yang bisa dijual dikumpulkan. “Setiap hari ada tim dari BSM yang berkeliling untuk mengambil sampah di rumah-rumah warga. Kemudian dikumpulkan di BSM,’’ katanya.  
Sampah-sampah itu lalu dijual kepada pengepul yang datang sebulan sekali. Begitulah setiap bulan. Dari hasil penjualan sampah itu langsung dimasukkan ke kas masjid untuk biaya renovasi.  “Sekarang sudah berjalan 2.5 tahun. Tahun pertama terhitung mulai Januiari-Desember 2012 BSM berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 15.877.600, Januari-Desember 2013 BSM berhasil mengumpulkan dana Rp 17.391.650. Sedangkan dari Januari-Juni 2014 BSM sudah mengumpulkan dana Rp 10.184.250. Total dana yang disumbangkan dari BSM sejak awal sampai saat ini adalah 45.253.000. Sementara renovasi sendiri sejak awal hingga kemarin pihak panitia sudah mengeluarkan dana Rp 333.579.650.
“Sisa dana ditanggung oleh warga dan donatur,’’ kata Widji yang mengatakan, sampai saat ini Masjid Al Mustaqim telah memiliki saldo Rp 53.511.500.
Widji dan warga sekitar pun mengaku puas, meskipun renovasi ini berjalan lambat. Kepuasan tersebut karena bangunan yang masih 40 persen ini sudah bisa digunakan untuk salat Jumat. “Kami salat jumat pertama Jumat (27/7/14) lalu. Kami sangat puas. Dan salat tarawih saat ramadan juga bisa dilaksanakan dengan khidmat di masjid ini,’’ kata Widji, yang mengatakan dari 6x6 meter, bangunan masjid diperluas menjadi 14x17 meter.
Ke depan, bangunan ini dibuat dua lantai. Dimana lantai dua dimanfaatkan untuk keperluan TPQ serta perkantoran atau sekretariat masjid. Saat renovasi usai nanti, masji Al Mustaqim akan terlihat megah, karena memiliki 12 pilar utama dan 10 pilar tambahan berbentuk bundar.
“Dengan adanya masjid ini, kami berharap warga bisa memanfaatkannya dengan baik, dan meningkatkan ibadah. Selain bisa digunakan untuk beribadah, nantinya warga juga bisa memanfaatkan masjid ini untuk menggelar kegiatan-kegiatan lain, seperti pengajian, atau kegiatan ibadah lainnya,’’ kata Paiman.(ira ravika/han)