Nurul Amanah Pendiri Posko Harapan Bunda

Sebuah dusun kecil di Kota Batu menjadi tempat terapi dan belajar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).  Oase itu didirikan oleh Nurul Amanah warga RT 50/RW 08 Dusun Sabrang Bendo Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kepeduliannya terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) patut diacungi jempol.

Perjuangan Nurul, sapaan akrabnya, tak terlepas dari pengalaman pribadi yang dirasakan Nurul Amanah (42 tahun), sebab anak pertamanya mengalami kondisi yang sama.  Oase yang terletak di Dusun Sabrang Bendo tersebut diberi nama Posko Harapan Bunda. Disana para ABK diberikan terapi dan bimbingan khusus.
Nurul, mengakui bahwa kepedulian terhadap anak ABK bermula dari anak pertamanya, Anang. Putranya itu mengidap Epilepsi dan pernah satu tahun menjalani perawatan di Bakti Luhur Malang. Selama satu tahun, Nurul banyak tahu dan belajar tentang bagaimana  merawat, membina anak ABK.
"Di Bakti Luhur sangat peduli terhadap anak-anak ABK, ini yang mengetuk hati saya dan suami untuk mencurahkan semuanya bagi anak ABK di desa," kata Nurul.
Menurutnya, Posko Harapan Bunda didirikan karena di Desa Giripurno ada sejumlah ABK. Gayung bersambut ketika Bakti Luhur berniat membuat posko terapi, tanpa berpikir panjang Nurul  menawarkan rumahnya dijadikan tempat sementara posko terapi.
Ruangan bekas gudang apel miliknya, disulap menjadi tempat therapi dan belajar bagi siswa ABK. Tepatnya pada tahun 2009 posko ini berdiri. Tercatat ada sekitar 125 anak yang menjadi anggota dari posko ini, 25 diantaranya merupakan warga Giripurno. Baik yang menjalani terapi maupun mendapatkan bimbingan belajar.
Tahun 2011 nama Posko Harapan Bunda diberikan dan diresmikan langsung oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Jauh berbeda saat pertama kali buka, kata dia, peralatan untuk terapi belum ada sama sekali. Hanya sebatas kegiatan belajar mengajar.
Pada perkembangannya, peralatan terapi berhasil dibeli menggunakan dana ADD dan sebagian sumbangan dari donatur.
”Alhamdulillah banyak donatur yang peduli,  termasuk bu Dewanti sendiri menyumbangkan parallel vertical. Selain itu, keseriusan saya untuk mengelola posko ini tidak lain karena senasib dan terpanggil,” terangnya kepada Malang Post.
Posko tersebut sempat tutup lama, lantaran Nurul merasa tidak kuat mengurus dan menjalankan sendirian. Akan tetapi, pihak desa memintanya untuk tetap buka dan diutamakan bagi anak-anak Desa Giripurno. Sehingga pihak desa mengeluarkan SK pengurus, supaya pengurus ini dapat menjalankannya bersama-sama.
Dia mengungkapkan, dulu pihak Puskesmas dan Baptis masih aktif mengecek kondisi anak-anak di Harapan Bunda. Sedangkan untuk proses belajar mengajar dibantu dari Citra Bunda. “Dulu masih banyak pihak yang membantu, kini saya sendiri dan dibantu oleh suami. Karena niat awal saya adalah membantu makanya saya tetap upayakan tetap buka,”ungkap perempuan tiga anak ini.
Anak-anaknya sempat cemburu karena perhatian seorang ibu tercurah untuk anak didik di Harapan Bunda. Perlahan perempuan 42 tahun ini memberikan penjelasan kepada anaknya,  bahwa apa yang dilakukannya murni demi kegiatan sosial.
Para anak didiknya, sudah dianggap layaknya anaknya sendiri. Semuanya dirawat sebagaimana mestinya dan diperlakukan seperti manusia biasa. ”Sebenarnya mereka ingin bermain, tapi kebanyakan masyarakat menjaga jarak. Selain itu, mereka juga ingin berkembang seperti anak normal lainnya dan mendapatkan hak yang sama dilingkungan, ”aku istri dari Choirul Anwar itu.
Sembari menyebut anak yang terapi dan belajar tidak dipungut biaya, alias gratis.
Berkat kerja keras dan dukungan semua orang, akhirnya selama posko berdiri sudah ada beberapa anak sembuh dan dapat berjalan seperti sediakala.
Padahal, awal masuk dan menjalani therapy semua kaki dan tubuhnya kaku serta kecil harapan untuk dapat sembuh. Sementara, murid lainnya yang kaku dan hanya terlentang sejak kecil, kini juga sudah dapat duduk dan melakukan kegiatan secara aktif.
“Semua bukan karena saya, melainkan keinginan besar dari orangtuanya. Memang untuk mengembalikan seperti semula butuh proses lama dan benar-benar dilakukan secara teliti dan telaten,”akunya merendah.
Saat ini, Nurul dan suami rela menyisihkan hartanya untuk dapat mengembangkan posko Harapan Bunda. Meskipun sejak berdiri sampai sekarang banyak tantangan dan isu-isu yang menyudutkan keluarganya.
Sehingga, rumah tangganya sempat berantakan gara-gara isu yang tidak benar. Namun, tekatnya yang bulat dan didasari dengan rasa ikhlas akhirnya posko tersebut tetap berjalan dan mendapat dukungan dari warga sekitar.
Ia berharap, posko bagi ABK tidak hanya terdapat di Desa Giripurno, ke depan setiap desa memiliki posko-posko serupa. Hal ini untuk mempermudah pengawasan serta dapat terpantau perkembangan ABK di setiap desa oleh Pemerintah. “Baru setelah terdapat posko setiap desa, nanti dapat kelihatan desa ini ada berapa anak cacatnya. Dan memudahkan bagi donatur ataupun instansi untuk memberikan bantuan terhadap mereka, misal bantuan biaya pendidikan dan kesehatan,” tandasnya.(Miski bin Jamaluddin/ary)