Di Balik Perburuan Lisensi Klub Arema Cronus

Arema Cronus sedang berburu lisensi klub dari PT Liga Indonesia dengan predikat sangat memuaskan. Lisensi itu akan menjadi “SIM” untuk berlaga di ISL 2015. Di balik perburuan lisensi klub itu, Divisi Media Officer, menjadi staf klub yang paling sibuk. Bahkan para staf harus lembur hingga pukul 3 pagi untuk menyusun berkas lisensi. Seperti apa kerja kerjas para staf, di balik keseriusan berburu lisensi?

Jalan Kertanegara tak lagi riuh redam. Dinginnya udara malam Kota Malang menyeruak. Lampu Taman Bentoel Trunojoyo seakan enggan berpijar. Taman di depan kantor Arema biasanya berisik oleh suara tawa anak-anak. Tapi, malam itu ayunan hanya berdecit-decit ditiup semilir angin.
Jayanto, penjaga kantor Arema, masih terjaga. Matanya merah, tapi dipaksa tetap terbuka. Televisi menjadi pengalih perhatian dari rasa kantuk yang menyerang. Jaket tipis yang dikenakannya tak mampu menahan dingin. Udara yang menyelip masuk dari celah-celah pintu juga yang mencegahnya tidur.
Suasana yang lebih gaduh, terdengar di lantai 2. Di situ, terletak kantor Divisi Media Officer Arema. Musik punk indie mengalun keras dari lantai 2. Lampu-lampu neon putih masih menyala sebagian. Di tengah suara hentakan musik, staf Media Officer tampak sibuk di depan komputer masing-masing.
Ryan Meidi “Ambon” Wijaya tampak sibuk memilih berkas-berkas. Taufik “Oyex” menghembuskan nikotin dari lubang hidungnya dan meneruskan ketikan di depan monitor. Begitu juga Taufik Soleh, Sinyo dan Heru Tri Mulyono yang tampak sibuk di dalam kantor Divisi Media Officer.
Malam hari tidak menyurutkan atmosfer kerja. Suasana lembur membuat udara sedikit terasa pengap. Oyex melepas kaus dan bertelanjang dada sambil terus mengetik. Segelas kopi yang telah terminum separuh, juga jadi minuman terbaik malam itu.
Mata mereka merah semua, terasa pedas. Mungkin, tengkuk juga sudah terasa diganjal kayu. Keringat tipis yang membasahi dahi tak dihiraukan. Semua fokus pada komputer dan berkas-berkas yang berceceran di meja. Kring, kring, kring. Alarm berbunyi.
Jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. “Waktunya sahur,” begitu ujar Ryan. Para staf lainnya langsung menghentikan gerakan tangannya. Hembusan napas besar keluar. Seperti lega, para staf langsung berhenti dari pekerjaannya. Staf Media Officer bergerak dari kursi duduknya.
Berdiri sambil melakukan gerakan senam. Peregangan karena duduk terlalu lama di depan komputer. Lima staf Media Officer sangat sibuk dan dikejar waktu. Sebab, Arema sedang berburu lisensi klub dari PSSI/PT Liga Indonesia dengan predikat sangat memuaskan.
Para staf Media Officer, kebagian tugas untuk menyelesaikan berkas yang harus diserahkan kepada tim penilai dari PSSI dan PT Liga Indonesia. Divisi Media Officer diserahi tugas ini, karena ahli dalam hal desain dan publikasi. Berkas-berkas lisensi klub, disusun dengan gaya yang lebih menarik untuk memberi kesan yang lebih baik ketimbang klub lain. Karena diburu waktu, para staf bekerja lembur hampir setiap hari, selama satu minggu. Bahkan, lembur kerja untuk finishing berkas lisensi klub, dilakukan hingga pukul setengah tiga pagi.
“Sekitar semingguan, kita kerja dari siang sampai pagi. Kalau siang, kita kerja normal, lalu dilanjutkan dengan finishing lisensi klub. Kita sering sahur di kantor, karena memang harus mengerjakan tugas hingga dini hari,” tegas Ryan kepada Malang Post.
Menurut alumnus ITN Malang itu, kerja lembur dilakukan karena Arema harus berangkat ke Jakarta Senin lalu (21/7) untuk menyerahkan berkas lisensi ke PT Liga Indonesia, melalui Direktur Arema Ruddy Widodo. Sampai hari ini, Ruddy masih berada di Jakarta.
Divisi Media Officer diberi mandat karena berkas lisensi lebih banyak menampilkan foto-foto. “Foto-fotonya lengkap, mulai dari infrastruktur stadion, inventaris, pemain, akademi, lalu administrasi personel sampai foto kantor pun kami pasang di berkas lisensi, harus selengkap dan sebagus mungkin,” sambungnya.
Saat kondisi badan sudah tidak memungkinkan, para staf pun selonjoran di kursi atau sofa kantor Divisi Media Officer hingga pagi hari. Setelah itu, bangun dan langsung melanjutkan pekerjaan normal. Tidak heran, sebagian staf Arema sempat kurang tidur karena harus lembur tiap hari.
Kerja mereka juga bertambah di malam hari, karena harus membagi energi dengan finishing Aremagazine. “Kita juga bagi tugas untuk menyelesaikan majalah Arema. Untung saja semuanya sudah finish sesuai deadline, meskipun mengorbankan waktu tidur,” tambahnya.
Meski demikian, tugas mereka sudah selesai. Sekarang, Arema sedang menantikan penilaian dari PT Liga Indonesia terkait lisensi untuk main di ISL 2015 tahun depan. “Semoga saja, lemburan kami sampai malam hari terbayar lunas dengan nilai sangat memuaskan,” tutupnya.(fino yudistira/han)