Tekan Tombol, Pesan Terkirim ke Server, Bantuan Datang

Pelecehan seksual dan penganiyaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), khususnya wanita, membuat resah sekelompok mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) asal Universitas Brawijaya (UB), Ema Lutfiana dan Hanifah Rosyada. Keduanya lalu berdiskusi hingga memunculkan ide brilian untuk menciptakan alat yang mampu meminimalisir kekerasan dari majikan.

Saat mendapat majikan yang bagus, hidup TKI di luar negeri bisa terjamin dengan baik. Tak hanya dari segi upah, mereka pun terkadang memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui kursus atau media yang lain. Hanya saja, jarang ada majikan yang begitu baik. Sebaliknya, yang sering terdengar adalah majikan semena-mena dan suka menyiksa TKI.   
"Banyak TKI yang kesulitan menghubungi orang lain melalui ponsel. Malah, beberapa orang kami dengar dilarang menggunakan ponsel ataupun dirampas majikannya," ujar Hanifa kepada Malang Post kemarin.
Belum lagi, ponsel menyulitkan mereka karena untuk menggunakannya, dibutuhkan upaya lebih. Harus mengetik lebih dulu ketika ingin SMS, butuh waktu bicara saat menelepon, tempat dan waktu pun terkadang tidak bisa terdeteksi kalau para TKI hanya menggunakan ponsel. Bagaimana orang lain bisa membantunya dengan segera, bila butuh waktu lama untuk mengetahui keberadaannya?.
"Akhirnya muncullah ide untuk membuat alat dengan bentuk kecil, dengan efisiensi dalam penggunaan yang akan mempermudah TKI menggunakannya," tegas gadis asal Lamongan  ini. Menurutnya, diskusi sekitar awal tahun 2013 itu hanya angan-angan di luar keinginan untuk menjadikannya kenyataan.
Alat pendeteksi itu berbentuk mini dan dibuat mudah dalam menggunakannya. Majikan dibuat tidak tahu menahu, kalau pekerjanya memiliki alat yang bisa menghubungi seseorang. Berarti, harus ada tempat aman, bebas dari jangkauan orang lain. Ditemukanlah jawabannya, celana dalam!
Bila di dalam celana dalam, para TKI tidak perlu repot-repot menggunakan ponselnya. Majikan pun tidak mungkin memeriksa sampai ke wilayah privasi itu. Apalagi, alat pendeteksi TKI itu hanya perlu dioperasikan dengan satu tombol. Jadi, ketika TKI menekan tombol tersebut, koordinat tempat dan waktu saat dia menekan tombol tersebut akan dikirimkan ke servernya.
Server pun bisa disetting. Menurut Hanifa, lebih baik server ditaruh pada kedutaan besar (Kedubes) Indonesia di negarat terkait. Hingga, Kedubes bisa terus memantau keberadaan para TKI. “Jadi, ide kami baru sampai di situ saja. Tidak terpikir akan melanjutkannya sampai tahap pematangan, apalagi pembuatan,” sahut gadis berkerudung ini.
Sangat kebetulan, tiba-tiba diskusi mereka bertepatan dengan waktu pendaftaran PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa) di UB. Muncullah ide dari sepasang sahabat itu untuk membawa ide mereka ke PKM, mereka sepakat lalu membentuk tim sebagai prasyarat mengikuti PKM.
“Jelas kami tidak bisa menjadikan angan-angan tersebut jadi kenyataan bila tidak ada tenaga ahli lain, khususnya di bidang elektro. Karena itulah, kami minta bantuan teman lain dari Fakultas Teknik (FT) UB jurusan elektro untuk membantu,” sahutnya.
Muhammad Irfan Maulana dan Septian Iswanjaya, jadi pilihan. Keduanya menjadi partner yang mengurusi pembuatan mesin. Selain itu, direkrut pula seorang lainnya, Deviana Hadriati, adik tingkat Ema dan Hanifa. Mulailah kelima anak muda ini, dengan rasa optimis mematangkan ide tersebut.
Sesaat setelah tim terbentuk, disusun proposal rancangan pembuatan alat yang akhirnya dinamai Error (Emergency Reporter on Underwear). Sekilas namanya menunjukkan kejanggalan, karena lebih berkonotasi negatif. Tapi siapa kira, justru Error bisa membuka lebar kesempatan bagi tim yang diketuai Hanifa itu meraih juara di Pimnas (Pekan Imiah Nasional) 2014. Proposal Error diterima Dikti dan mereka didanai untuk mewujudkan ide, sehingga tak berhenti dalam angan-angan.
“Dikti memberikan kami dana sebesar Rp 9.250.000 untuk mulai membuat Error pada Februari 2014 lalu. Kami langsung mulai pembuatan,” sahutnya bersemangat. Evaluasi, pengumpulan informasi, pencarian komponen dan tibalah saat perakitan.
Rupanya, proses yang harus dilalui tidak semudah yang dibayangkan. Kendala demi kendala bermunculan. Hebatnya, hal itu tidak menyurutkan semangat lima calon penerus bangsa ini. Justru mereka semakin terpacu mewujudkan angan-angannya.
Berkali-kali timnya harus melakukan perbaikan alat. Kendala terbesar ialah mencari komponen alat di pertokoan. Sebab untuk menciptakan alat sebesar chip, dibutuhkan komponen yang hanya dimiliki militer. "Akhirnya kami memilih komponen elektronik kategori toys. Komponen tersebut berukuran makro. Jadi alat kami juga tidak bisa sekecil yang kami harapkan," jelas Hanifa.
Akibat kesulitan mencari komponen dengan ukuran kecil, akhirnya Error berukuran agak besar. Meski begitu, tidak berarti Error jadi tidak efisien. Ukurannya tetap pas untuk para TKI dan menyembunyikannya di celana dalam. Chip itu berukuran sekitar 5x5 cm dengan tebal kurang dari 1 cm. Hanya membutuhkan tempat berukuran saku, untuk menaruhnya di celana dalam.
Cara kerjanya, lanjut Hanifa, Error ditaruh di bagian pinggir celana dalam, sehingga otomatis tertutup oleh pakaian. Ketika dalam keadaan mendesak, TKI tinggal menekan tombol yang ada pada Error. Selanjutnya, dalam 10-15 detik, koordinat tempat beserta waktu penekanan akan terkirim ke server. Sistemnya seperti SMS, jadi pengiriman informasi tidak membutuhkan waktu lama.
Hingga sekarang, Error tetap masih dalam perbaikan. Khususnya untuk memadatkan ukuran agar lebih kecil. Untuk kemampuan, Error sendiri sudah melalui uji coba. Mesin inovatif tersebut, beroperasi dengan baik. Sesuai dengan rencana tim Hanifa di awal.
"Rencana pengembangan akan selalu kami lakukan. Bila memang berhasil, rencananya akan kami buat sekuran chip, kemudian menggunakan sensor. Jadi TKI lebih mudah menggunakannya bila dalam kondisi terdesak," kata Hanifa.
Error masih dalam tahap monitoring evalusi dari Dikti. Bila lolos pada tahap tersebut, karya yang bermanfaat meminimalisir jumlah kekerasan TKI ini, akan dikompetisikan di Pimnas 2014. "Pengumumannya Agustus tahun ini. Kami tetap optimis bisa melaju ke Pimnas, meski persaingannya pasti sangat berat," pungkas wanita berusia 22 tahun itu. (Muhamad Erza Wansyah/han).