Biasa Jadi Imam Masjid Kampung, Tahun Ini Khatib di Kampus

Lebaran Ala Rektor UB Prof Dr M. Bisri
KAMPUNG Penanggungan, Kecamatan Klojen Kota Malang dan masjid kecil di dalamnya menjadi tempat yang tak terpisahkan bagi Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr M Bisri dalam merayakan lebaran. Setiap tahun, rektor yang besar sebagai Arek Malang (Arema) itu biasa menjadi imam dan khatib di masjid yang ada di kampungnya. Tahun ini, kebiasaan bertahun-tahun ini terpaksa berubah. Karena Bisri harus menjadi khatib salat Idul Fitri di Kampus UB yang dipimpinnya.
Seorang wanita ramah mempersilakan Malang Post duduk di ruang tamu bagian samping dari rumah besar milik Bisri yang ada di RT 3 RW 4 Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Malam itu jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Sang pemilik rumah kebetulan baru bisa ditemui usai melaksanakan salat tarawih. Bisri yang sedang menerima tamu di ruang utama tak lama kemudian menyapa Malang Post yang sudah menunggu di ruangan lain. Wanita ramah yang menyapa kali pertama rupanya adalah sang istri, Hj Titik Winarni.
”Tahun ini saya jadi khatib di UB, diminta untuk menggantikan Prof Yogi Sugito (mantan rektor UB, red) yang sedang di luar negeri,” ungkap Bisri membuka obrolan.
Sepanjang percakapan, beberapa kali Bisri dan istri bercanda lepas dan hangat. Mereka mampu menghadirkan suasana betah bagi tamu yang datang ke sana. Sejak ketiga anak mereka beranjak dewasa, Bisri dan istri sehari-hari lebih sering tinggal hanya berdua saja. Apalagi dengan kesibukannya menjabat sebagai rektor UB, rumah tersebut sering sepi. Sang istri sekali waktu ikut mengurusi butik yang ada di depan gang rumah mereka untuk memanfaatkan waktu di kala Bisri sibuk dengan tugasnya.
Sembari menyilakan menikmati suguhan di meja tamu, Bisri mengisahkan bagaimana kebiasaan berlebaran di keluarga tersebut. ”Karena saya ketua takmir masjid di kampung sini, jadi kalau lebaran ya salatnya di masjid itu. Tak jauh dari sini, hanya sekitar 200 meter saja dari rumah,” kata Bisri disambut anggukan sang istri.
Usai salat dan menjadi imam di masjid tersebut, biasanya ia menggelar open house dengan tetangga kampungnya. Rumah besarnya pun tak pernah sepi hingga malam hari di lebaran pertama. Tetangga datang bersilaturahmi sambil mencicipi aneka masakan sang istri yang dihidangkan spesial. Biasanya ada hidangan soto dan ketupat untuk para tamu yang datang. Tak lupa minuman kesukaan Bisri juga dihidangkan, yaitu es teler.
”Kalau lebaran saya suka disiapkan es teler, bisa dimakan rame-rame,” kata dia.
Selain minuman segar, buah kurma juga selalu tersedia. Tetangga kanan kiri pun akan beramai-ramai memakan buah yang khas di bulan puasa itu. Anak ke 6 dari 10 bersaudara ini juga punya agenda khusus berkumpul dengan keluarga besarnya. Karena orang tua Bisri maupun sang istri sudah tiada, tak ada agenda khusus ke kota lain. Hanya saja ada tradisi kumpul keluarga besar yang dilaksanakan di tempat berbeda setiap tahunnya. Tahun ini rencananya Bisri dan keluarga besar akan berwisata ke kota pahlawan.
”Saya malas pergi jauh, jadi tahun ini ingin kumpul di Surabaya saja. Hobi saya memang mengajak keluarga jalan-jalan, makan dan santai. Momen lebaran biasanya kami manfaatkan untuk ngumpul,” bebernya. Sayangnya ada satu adik Bisri yang seringkali tak bisa ikut berkumpul saat lebaran karena kesibukannya, dialah Gus Lukman yang mengasuh pondok pesantren Bahrul Maghfiroh.
Sosok orang nomor satu di UB ini memang tak berubah meski sudah menduduki jabatan tinggi. Ia tetap sederhana dan merakyat. 40 tahun besar di Penanggungan, melahirkan perasaan sayang yang amat dalam dengan area tersebut. Meski akses jalannya kurang nyaman untuk kendaraan roda empat, toh Bisri tak pernah punya keinginan untuk pindah dari sana. Setiap sudut yang ada di kampung itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya dari dosen biasa yang pernah mencicipi bisnis perumahan, hingga memimpin kampus sebesar UB.
”Bagi saya tinggal di kampung ini lebih berharga, saat saya tua masih banyak tetangga kanan kiri yang bisa diajak bicara. Kalau di perumahan sulit bertemu tetangga,” kata dia.
Meski secara kepribadian tak ada yang berubah, namun tak bisa dipungkiri kalau ada banyak perubahan jadwal rutinitas yang dilakukan Bisri. Termasuk kebiasaan menjadi imam salat tarawih di masjid dan musala yang ada di dekat rumahnya, tak bisa dilakukan lagi tahun ini. Kebiasaan lain yang berubah adalah rutinitasnya pulang di siang hari untuk sekadar makan masakan sang istri dan istirahat salat.
”Sekarang belum bisa adaptasi, beberapa rutinitas jadi tidak bisa dilakukan lagi. Memimpin kampus sebesar UB membutuhkan waktu ekstra,” tukasnya.
Meski tantangannya besar, Bisri justru merasa bahagia. Karena tak ada waktu untuknya bersantai dan lengah. Itu artinya ia berpeluang membuat UB menjadi lebih besar lagi. (lailatul rosida)