Kekeluargaan Tinggi, Pertahankan Suasana Religius

Kekeluargaan dan religius. Dua kata itulah yang kerapkali disampaikan karyawan Malang Post saat menyampaikan kesannya selama berkarya dan bergabung dengan koran yang lahir 1 Agustus 1998 ini. Namun tak sedikit juga yang mengungkapkan kebahagaaiannya karena mendapat pengalaman berharga untuk pertama kali karena difasilitasi oleh media yang merupakan anak perusahaan Jawa Pos ini.


Tak semua orang tua bangga anaknya menjadi wartawan. Bahkan melarang dan tak mengizinkan mereka untuk terjun di dunia tulis menulis ini. Salah satu yang merasakannya adalah Abdul Halim, Redaktur Pelaksana Malang Ekspres, anak perusahaan Malang Post yang terbit sejak 20 Mei 2014 lalu.
Halim kala itu dipersiapkan orang tuanya untuk menjadi ustadz. Bahkan alumnus Pondok Pesantren di Paciran Lamongan ini sempat akan diberangkatkan ke Mesir untuk menimba ilmu, namun rencana tersebut berubah 180 derajat saat ia bergabung dengan Malang Post. “Ayah saya awalnya memang sangat menetang, lulusan pesantren kok mau jadi wartawan. Namun kemudian berubah pikiran,” ujar bapak dua anak ini.
Perubahan tersebut setelah sang ayah mendapat ‘brainstorming’ dari Direktur Utama Malang Post Juniarjo Djoko Purwanto. Dalam sebuah obrolan ringan, Purwanto memberikan contoh wartawan-wartawan santri sukses yang salah satunya adalah Husnun N Djuraid, Komisaris Malang Post yang kala itu menjabat Pemimpin Redaksi. Husnun merupakan anak dari ustadz yang sangat disegani di Surabaya yang setelah dirunut ternyata guru ngaji dari ayah Halim. “Sejak mendengar kisah itu, ayah langsung setuju dan bangga karena saya menjadi wartawan. Saya pun bisa berdiri tegak saat pulang ke rumah,” ujar Halim yang juga pernah menjadi Koordinator Liputan Malang Post.
Insan media memang seringkali diidentikkan dengan kebebasan dan liberal, namun suasana di Malang Post sangat berbeda. Cukup banyak personil yang ‘berperan ganda’ sebagai ustadz, imam, khatib di daerahnya masing-masing. Jika dari kalangan Muhammadiyah ada Husnun N Djuraid, dari NU pun ada Mahmudi Muhith yang merupakan Sekretaris PCNU Malang dan takmir Masjid Jamik Kota Malang.
“Dalam satu bulan bergabung dengan Malang Post, saya merasakan suasana yang religius, berbeda dari tempat kerja saya sebelum-sebelumnya,” kata Muhammad Dhani Rahman.
Suasana kekeluargaan yang tak membedakan jabatan dan mengelompokkan karyawan berdasarkan ‘kasta’ juga diungkapkan Ahmad Mujamil, tim artisik Malang Post. Jamil, panggilan akrabnya mengisahkan, ia mengawali karier di Malang Post dari magang sekolah, namun disambut hangat oleh awak redaksi. “Saya ingat orang pertama yang mengajak saya ngobrol waktu itu Pak Nugroho (sekarang Pemimpin Redaksi, red). Obrolan itu singkat dan biasa saja, tapi karenanya saya merasa diterima di sini meski masih pelajar,” ujarnya.
Setelah lulus dari SMK Grafika, pria bertubuh tinggi besar inipun melamar ke Malang Post dan ditempatkan di tim lay out (sekarang disebut tim artistik, red). Kala itu, lanjut Jamil, ia seringkali berangkat ke kantor dengan menggowes sepedanya. Namun suatu hari ia dibuat kaget karena melihat sepedanya raib dari tempat parkir. “Ternyata saya dikerjai, sepeda saya digantung di dinding belakang kantor. Wah, itu benar-benar tak terlupakan. Cara teman-teman Malang Post untuk menunjukkan keakraban memang luar biasa unik,” urainya kala diminta berbagi kisah di acara tasyakuran HUT Malang Post.
Lain lagi kisah Agung Priyo Lestari, wartawan yang ngepos di desk Kabupaten Malang ini mengawali pengalaman kerjanya di pos Kriminal. Ia ditempatkan di Pengadilan dan RS Saiful Anwar, tepatnya di kamar mayat untuk memonitor korban kecelakaan ataupun pembunuhan. Saat masih yunior, ia memutuskan diri untuk mengakrabi pos-pos tersebut dengan menyambanginya setiap hari. Namun sial, ia pernah dikerjai saat liputan di kamar mayat. Agung dikunci di dalam selama dua jam. “Saya keluar langung pusing dan mual sampai muntah,” ungkapnya.
Selain suasana kekeluargaan dan religius serta pengalaman-pengalaman unik selama bekerja, banyak karyawan yang merasakan pengalaman pertama karena fasilitas Malang Post. Salah satunya adalah Redaktur Foto Guest Gesang yang merasakan ‘kehebohan’ dan asiknya naik Hercules pada 2011, setahun setelah bergabung.
Ketika itu, ia harus memotret pemberian bantuan yang dijatuhkan dari Heli box ke pesisir selatan Jawa Timur. “Yang saya ingat, saya tidak bisa duduk dengan tenang, tapi ‘dicancang’ supaya tetap bisa berdiri dan bisa memotret,” ujarnya.
Pengalaman pertama naik pesawat komersil baru ia rasakan di 2013 lalu ketika meliput pertandingan Arema ke Samarinda. Sejak saat itu, ia pun mulai sering bolak balik berganti pesawat karena liputan pertandingan away Arema, hampir setiap bulan atau bahkan lebih. “Saya pertama kali pergi ke luar pulau karena Malang Post, ke luar negeri pun karena Malang Post,” ucap Guest yang baru pulang dari Maldives ini.(dewiyuhana/habis)