Koleksi Prestasi, Dari Juara Nasional Hingga Dunia

Menekuni dua cabang olahraga menantang dalam waktu bersamaan ternyata mudah bagi seorang Letda Inf Moch Aly. Sebagai atlet paralayang dan paramotor, Danton III Kompi Senapan B, Yonif 512/QY Marabunta ini bahkan mampu menorehkan prestasi nasional hingga internasional. Melalui paralayang dan paramotor, Aly yang beberapa kali memecahkan rekor terbang lama di udara itu tetaplah sosok militer yang ramah.

Perwira pertama TNI AD itu sibuk dengan parasut yang dipanggulnya ketika berada di  puncak Gunung Banyak, Kota Batu, akhir pekan kemarin. Sesekali ia melihat langit biru yang mulai mendung sembari mengukur tekanan udara. Tak berselang lama ia  take off dengan parasutnya lalu mengudara tinggi kemudian mendarat di Songgokerto.
“Lumayan hari ini bisa latihan. Cuaca kurang mendukung, tapi akhirnya selesai. Nanti latihan lagi,” kata Aly.  
Pria 36 tahun ini sedang latihan rutin untuk menghadapi Kejuaraan Asia World Cup dan Kejurnas Paralayang di Gunung Mas, Puncak, Bogor, 10 Agustus nanti.  Ia juga sedang ikut tahapan seleksi nasional (Seleknas) Timnas paralayang dan paramotor untuk mengikuti Asian Beach Games 4 di Thailand, November 2014 mendatang.
Paralayang, paramotor dan kemiliteran adalah dunia Aly. Pria asli Sanan Kota Malang ini bagai tak terpisahkan dengan olah raga menantang itu. Sejak berdinas militer tahun 1997, Aly kemudian memilih olah raga paralayang pada tahun 2004. “Saya memang menyukai petualangan. Saya juga suka panjat tebing dan menyelam,” katanya.
Hobi dengan segala hal yang berbau tantangan, Aly kemudian tertarik untuk belajar dan menekuni paralayang. Awalnya ia belajar dari sahabatnya Rizka, hingga ayah dua anak ini kemudian membeli parasut sendiri.
”Saya beli parasut dari teman saya di Solo. Harganya Rp 14 juta. Sedangkan harnes dan parasut cadangan pinjam dari pelatih, mas Rizka,” kenangnya.
 Rizka, kenalan yang juga pelatih paralayang itu telah meninggal dunia. Namun dia punya andil mengakrabkan Aly dengan paralayang. Apalagi harnes dan parasut cadangan terbilang mahal. Sekadar tahu, satu unit harnes paralayang seharga Rp 10 juta, sedangkan parasut cadangan Rp 6 juta. Bermodalkan parasut dari teman dan alat pendukung milik pelatih, Aly mulai giat berlatih.
Prestasi demi prestasi pun mulai diraihnya. Terakhir ia meraih juara 2 di Indonesia  XC Open Cat 2 tahun 2013 lalu di Sulawesi Tengah. Sebelumnya ia menorehkan sederet prestasi di berbagai even kejuaraan paralayang.
Di antaranya masuk 10 besar kejuaraan dunia paralayang di Selangor Open Malaysia pada tahun 2007. Usai mengharumkan nama Indonesia di even internasional, alumnus SMPN 5 Malang ini kemudian mengangkat nama Jatim di PON Kaltim, tahun 2008. Saat itu Aly menyabet dua medali perunggu untuk nomor ketepatan mendarat tandem dan perorangan.
Tahun 2009, ia memecahkan rekor nasional terbang lintas alam jarak terbuka sepanjang 65,87 Km di Wonogiri Jawa Tengah. Pada 2010, Aly memecahkan rekor terbang lintas jarak terbuka di Australia sepanjang 123,9 Km. Saat itu ia mewakili Indonesia. Dia juga pernah memecahkan rekor terbang sembilan jam di Bali.
Tak hanya itu saja, pemilik 8.000 jam terbang ini sudah pernah ikut kejuaraan di sejumlah  negara. Di antaranya di Austria, Australia,  Serbia, Malaysia dan Turki. Karena prestasi paralayang, atlet yang pernah masuk Pelatnas Sea Games tahun 2011 ini pernah merasakan terbang di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sabang hingga Maluku. Oktober nanti ia bahkan akan terbang di Kaymana, di Maluku dalam suatu Kejurnas. Tak hanya itu saja, ia juga pernah dipercaya mengikuti  pendidikan keamanan terbang paralayang di Turki.
Sering melayang di udara menggunakan parasut, Aly tak luput dari kecelakaan. Ia pernah cidera akibat terjatuh lantaran parasut tak mengembang sempurna. Akibatnya, lengan kanannya mengalami patah tulang.
Alumnus SMA Taman Siswa Kota Malang ini masih ingat betul kejadiannya. Yakni saat latihan di Batu untuk  menghadapi sebuah kejuaraan pada tahun 2011. Kala itu, di atas ketinggian 150 meter selepas take off di Gunung Banyak, mendadak parasutnya tak bisa mengembang sempurna. Ia lalu terjatuh.
Tapi 15 hari kemudian, Aly malah memilih kembali latihan walau tulang lengan kanannya patah. Gips yang semula melingkari tangannya untuk proses penyembuhan  dipotongnya. “Saya potong gipsnya supaya tangan bisa bergerak untuk mengendalikan parasut,” kenangnya.
Kecelakaan memang tak membuatnya trauma. “Latihan lagi itu untuk menghilangkan trauma,” kata dia sembari tertawa.
Kini Aly terus mengasah skill terbang paralayang. Tak hanya untuk diri sendiri, istrinya, Erna Neneng Dyah Utami juga diajari untuk menjadi pilot paralayang. Bahkan dua anaknya sudah diajak ikut tandem.
Karena kecakapannya, Aly belakangan terbang paramotor di langit Kota Malang. Atraksinya itu selalu menghibur warga. Sekretaris Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kota Malang ini juga pernah terbang atraksi di sejumlah kegiatan TNI. Tak heran, Aly pernah terbang di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Sail Banda di Maluku tahun 2010. Sejumlah petinggi TNI  juga pernah menyaksikan atraksinya.
Tekun berlatih dan sibuk ikut kejuaraan,  Aly tetap patuh pada disiplin militer. Ia selalu berusaha tak mengorbankan tugas utamanya sebagai prajurit TNI AD. Apalagi Danyon 512/QY Marabunta, Mayor Inf Erlangga Galih Wisnu Wardhana yang juga Arema itu selalu memberi dukungan.
“Melalui paralayang dan paramotor, saya bisa mengasah prestasi, bisa bersosialisasi dan juga bisa membawa nama baik kesatuan di masyarakat,” pungkasnya. (vandri van battu/han)