Jam Kerja Berubah, Bantu Sosialisasi Wisata Kabupaten

Kesan polisi yang akrab dengan tugas memeriksa, mengatur arus lalu lintas hingga menangkap pelaku kejahatan ditepis jauh-jauh oleh delapan anggota Polres Malang, yang stand by di Bandara Lanud Abd Saleh. Sejak H-6 atau Selasa (22/7/14) lalu, delapan anggota yang di antaranya Sat Lantas Polres Malang, menjalankan kerja yang sedikit berbeda dari tugas polisi. Apakah itu?

Mulai tahun ini, pemandangan berbeda terlihat di area luar Bandara Lanud Abd Saleh-Pakis. Di beberapa sudut pintu kedatangan dan keberangkatan, tertera pamflet bertuliskan pos pelayanan masyarakat (Posyanmas) Polres Malang. Sementara tidak jauh dari pintu atau tulisan itu, didapati mobil operasional Posyanmas lengkap dengan anggota polisi.
Ya. Di lokasi itulah, delapan anggota Polres Malang, per Selasa lalu ‘terpaksa’ pindah kantor karena mendapat amanah untuk memberikan pelayanan terhadap pemudik di bandara, anggota pun seolah dibebas-tugaskan. Baik apel pagi dan siang, sampai jam pulang dinas anggota selama bertugas.
Sebaliknya, selama menjalankan tugas di pos pelayanan, jam kerja anggota polisi juga menyesuaikan. Jika pagi sekitar pukul 07.00 anggota harus melaksanakan apel dengan dipimpin Kapolres atau setingkat di bawahnya, maka selama di pos pelayanan, masing-masing anggota setiap pagi sudah harus berada di mobil operasional. Yakni, sebelum pesawat pertama mendarat di Bandara Lanud Abd Saleh.
Sementara jam pulang kerja, jika biasanya setelah apel siang sekitar pukul 16.00 anggota bisa langsung pulang, maka sejak di Posyanmas harus menunggu pesawat terakhir berangkat atau tiba. Tidak terkecuali, ketika pesawat yang akan membawa pemudik mengalami delay (tunda), maka jam pulang juga harus mundur.
“Karena tugas, semua harus dijalankan dengan maksimal. Termasuk, saat pesawat delay. Kebetulan, Jumat (1/8) lalu kami mengalaminya. Namun, semua itu bukan menjadi masalah. Termasuk, tidak ada tanggal merah atau libur untuk anggota yang bertugas,” ujar Perwira Pengendali (Padal) Polres Malang, Iptu Nanang Singgih.
Selain jam masuk dan pulang yang berbeda, tugas lain yang dilakukan selama di pos pelayanan juga membantu promosi tempat-tempat wisata di Kabupaten Malang. Melalui buku kecil pesona wisata Kabupaten Malang setebal 60 halaman, pemudik yang baru tiba bisa mendapatkan secara cuma-cuma informasi mulai wisata, hotel dan penginapan, kuliner, travel hingga restoran.
“Yang membedakan kami dengan anggota di pos pengamanan, kami lebih melayani kepada orang-orang yang butuh informasi mengenai Malang. Seperti tempat wisata, ibadah dan ikut memberikan pelayanan surat kehilangan terhadap pemudik. Sehingga pemudik tidak harus repot-repot ke polsek membuat surat laporan kehilangan,” ujar Nanang.
Sementara itu, selama pos pelayanan dibuka, hampir tidak satu pun pemudik yang mendatangi mobil Posyanmas. Penumpang yang baru tiba atau turun dari pesawat, langsung meninggalkan lokasi bandara. Kalau pun ada, hanya satu orang yakni mengaku kehilangan ATM. Itu pun, setelah membuat laporan di mobil yang dilengkapi dengan meja untuk layanan masyarakat di dalamnya, ia langsung meninggalkan area bandara.
Selama beroperasinya Posyanmas yang baru tahun ini ada, petugas juga melakukan kerjasama dengan PM AU yang mengamankan bandara untuk membantu menginformasikan keberadaan pos pelayanan terhadap pemudik yang membutuhkan informasi atau telah kehilangan tanda pengenal atau identitas.
Jika dalam pelayanan itu ada pemudik yang menjadi korban tindak pidana, maka pengaduan pun juga akan dilayani. Karenanya, dari delapan anggota yang ditugaskan, terbagi atas anggota Sat Lantas, anggota Bimas, anggota Sabhara dan anggota Polsek. Khusus polsek, membantu penanganan tindak kejahatan. (sigit rokhmad/han)