Berkunjung ke Kampung Strawberry RW 03 Rampal Celaket

Berawal dari keinginan untuk mengubah wajah kampung agar lebih hijau dan asri, warga RW 03 Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen memilih membudidayakan buah Strawberry (baca Stroberi, red). Tak hanya menghijaukan kampung, budidaya itu justru memberikan pemasukan bagi warga.


Cukup mudah untuk menjangkau kawasan RW 03 Rampal Celaket atau yang dikenal sebagai Kampung Strawberry.  Berada di Jalan Mahakam, atau pertigaan di barat RS Lavalette. Dari situ terdapat plang Jalan Mahakam, yakni kawasan ke arah LP Lowokwaru. Jika anda dari arah selatan, tengok ke kanan jalan, maka akan terlihat spanduk berukuran besar bertuliskan “Welcome Kampung Strawberry”, terpajang di gapura pintu masuk Kampung Rampal Celaket ini.
Kampung yang warganya mayoritas adalah pensiunan pegawai negeri ini terlihat asri dan sejuk. Sepanjang jalan kampung terlihat poly bag berukuran kecil berderet di halaman depan rumah setiap warga. Foto kegiatan warga mulai dari memulai tanam hingga kunjungan dari pemerintah terpampang di sekitar kawasan buah strawberry yang menggunakan halaman depan gedung veteran.
Ketua RW 03 Kelurahan Rampal Celaket, Nunung Muhammad Buchori mengatakan, dinamakan sebagai kampung strawberry atas kesepakatan dan kemauan masyarakat. Sebab, di Rampal Celaket mulai tanaman seperti jambu, mangga, sirsak, toga, bunga sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat.
“Warga minta untuk menambah penghijauan di kampung, sebaiknya tanaman produktif. Makanya dipilih tanaman strawberry,” kata dia saat dijumpai di rumahnya.
Berkat kerja keras warga,saat ini sudah ada 5.000 bibit strawberry yang dibudidayakan oleh warga. Padahal akhir Mei tahun 2014 lalu, bibit yang dihasilkan warga baru sekitar 2.500 bibit. Namun kini mencapai 5.000, baik yang berada di sekitar halaman rumah sampai di pusat budidaya. Idealnya, setiap rumah minimal ada 20 - 25 bibit strawberry.
Pengelolaannya, kata dia, langsung ditangani oleh ibu-ibu PKK, mulai dari perawatan sampai pemasaran.  Buah strawberry dijual berkisar Rp 40 – Rp 45 ribu/kg tergantung masa tanam. Sebagian penghasilan dimasukkan kas RW, sebagian lain untuk pengembangan budidaya strawberry.
Selain itu, dipilihnya buah strawberry lantaran di Kota Batu dan Kabupaten Malang, kerap kali menjadi jujugan wisatawan, dengan daya tarik buah strawberry.
”Kalau di daerah lain bisa dan tersedia, kenapa di Kota Malang tidak. Dan wisata strawberry tidak hanya di kebun atau ladang, tetapi di perkampungan juga bisa diwujudkan, dan kami telah mengawalinya, ” terang pria yang sehari-hari berdagang bumbu pecel ini.
Dia menyebut, selama Bulan Ramadan warga bersama-sama membuka bazar di sekitar kampung. Mulai dari aneka makanan, kue sampai buah strawberry. Hasilnya pun menggiurkan, setiap hari ada sekitar 10 -15 kg buah strawberry yang habis terjual hanya dalam waktu dua jam. Jika harganya Rp 40 ribu perkilogram, maka dalam dua jam, warga bisa meraup sekitar Rp 600 ribu.
Kendati demikian, ke depan buah strawberry tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar. Melainkan, berbagai inovasi akan dilakukan guna meningkatkan nilai ekonomis terhadap warga.
Warga juga berencana untuk membangun outlet atau toko khusus aneka macam produk dari strawberry.
“Saat bazaar kami telah menyajikan buah strawberry berbagai varian, mulai dari kue strawberry, jus sampai selai strawberry. Semua produk diminati masyarakat, ini peluang untuk mengembangkan usaha,” paparnya pria 50 tahun itu.
Tidak hanya itu, sejak dikukuhkan sebagai Kampung Strawbery sudah ada beberapa wisatawan yang mampir serta memetik langsung dari pohonnya. Selain itu, warga mulai merambah pasar lebih besar untuk mempromosikan kampungnya, yakni dengan membidik pelanggan bakso Presiden dan pusat oleh-oleh Sanan. Serta memasang spanduk dan billboard di beberapa jalan strategis guna memberikan informasi bagi masyarakat luas.
Bapak dua anak ini menambahkan, kampung strawberry bisa berkembang lantaran mayoritas warga RW 03 adalah lulusan jurusan pertanian.  “Makanya kami sangat beruntung memiliki warga yang satu visi dan mendukung percepatan konsep kampung wisata ini. Sehingga mudah membagi peran ada yang meningkatkan produk strawberry, ada yang mengolah serta memasarkannya,” akunya.
Nunung berani mengklaim bahwa konsep kampung wisata strawberry ini masih menjadi satu-satunya di Kota Malang. Kampung berbasis wisata ini bisa dikembangkan di setiap kampung atau daerah yang ada di Kota Malang. Tinggal bagaimana komitmen dari masyarakatnya.
Buktinya dalam penilaian Kampung Bersinar beberapa waktu lalu, kampung strawberry naik peringkat. Dari sebelumnya masuk kategori kampung dengan predikat 96, kini naik menjadi peringkat 40 kampung terbaik se-Kota Malang.
”Kami mewujudkan ini bukan untuk lomba semata, tapi jangka panjang dapat dirasakan oleh masyarakat semuanya,” tuturnya.
Sementara itu, kader lingkungan Rampal Celaket, Dwita Nirmala menambahkan bila konsep kampung berbasis nilai ekonomis ini sebagai salah satu inovasi yang patut terus dikembangkan. “Warga juga berencana membuka pasar sore setiap minggu sekali, terutama memasarkan produk strawberry,” tambahnya.(miski bin jamaluddin/ary)