Paul Sastro Larikan Investasi ke Surabaya (1)

TIDAK seriusnya Pemda se Malang Raya mengatasi kemacetan, mulai berdampak buruk. Salah satu investor kelas kakap asal Malang, Jatim Park Grup terpaksa melarikan investasinya ke Surabaya. Berikut catatan Wartawan Malang Post Hary Sansoto.

Bagi Paul Sastro, owner Jatim Park Grup, membangun investasi taman rekreasi di Surabaya, bukan impian. Apalagi menjadi pilihan utama. Kota Wisata Batu yang telah membesarkan jaringan bisnisnya di Malang Raya sebenarnya tetap prioritas utama.
Hanya saja, karena infrastruktur khususnya akses jalan keluar masuk Batu tidak ada perkembangan, Sastro pun harus melakukan rescheduling investasinya di Malang Raya, khususnya Batu.
‘’Saya bukan mengeluh. Tapi ini kenyataan. Lihat, saat musim libur atau liburan. Mulai Lawang sampai Batu macet. Terus belum ada solusi siginifikan sampai hari ini,’’ papar Sastro ketika ditemui di Jungle Food Jatim Park.
Bagi pengusaha, juga Sastro, kemacetan tentu saja dihitung secara bisnis. Apalagi, mereka yang terjebak kemacetan di jalur Lawang-Batu itu mayoritas adalah calon pengunjung kota Batu. Mereka berasal dari berbagai penjuru kota di Indonesia yang ingin menyaksikan hebatnya pembangunan pariwisata di Batu.
Mereka sudah sangat rela sekali tidak ke luar daerah atau ke luar negeri untuk menikmati indahnya pariwisata. Karena cintanya ke karya anak bangsa, mereka pun memilih Kota Wisata Batu bersama keluarganya.
‘’Tidak gampang menarik calon pengunjung. Apalagi dari daerah yang jauh-jauh. Kalau minat mereka itu tidak difasilitasi dan diperhatikan, suatu saat jadi masalah. Bayangkan kalau mereka itu sampean dan keluarga. Jauh-jauh ingin ndelok Batu, tapi macetnya minta ampun,’’ ungkapnya serius.
Sastro menilai, jika dibiarkan berlama-lama dikuatirkan tidak hanya sektor bisnis wahana hiburan saja yang terdampak. Tetapi perhotelan pun akan melambat pertumbuhannya. ‘’Karena itu, saya harus mengambil sikap. Saya realistis saja melihat situasi dan kondisi ini,’’ katanya.
Sastro tidak ingin menyalahkan pemerintah. Sastro pun tidak mau mengeluh karena tidak berkembangnya infrastruktur, utamanya akses jalan di Malang Raya. Sebaliknya, Sastro justru membantu memberi solusi jangka pendek mengatasi persoalan ini.
Pengusaha gaek berusia 65 tahun ini pun mulai melirik Surabaya sebagai alternatif bisnis wahana wisatanya. Dipilih Surabaya karena mayoritas pengunjung Jatim Park Grup adalah warga Surabaya.
Akhirnya, sekitar Mei 2013, Sastro mulai mendirikan Surabaya Night Market Carnival. Surabaya Carnival, begitu biasa disebut, diharapkan bisa menjadi alternatif masyarakat Surabaya dan sekitarnya mengalihkan kegiatan wisatanya dari Batu ke Surabaya.
‘’Saya ingin membagi konsentrasi kunjungan, utamanya di hari Sabtu, Minggu dan saat liburan. Warga Surabaya saya sediakan wahana wisata yang sama bahkan lebih bagus dari yang ada di sini,’’ ujarnya berfilosofi.
Warga Surabaya bisa menikmati berbagai wahanan permainan yang ditawarkan Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan Batu Night Spectaculer (BNS) cukup di Surabaya. ‘’Kalau butuh suasana sejuk memang hanya Batu. Tapi, jika ingin sekeluarga menikmati wahana wisata mungkin cukup di Surabaya saja. Ketimbang bermacet-macet ke Malang,’’ ungkapnya.
Sikap realistis bisnismen seperti Sastro tentu menjadi Pekerjaan Rumah (PR) yang harus difikiran Pemda se Malang Raya. Karena invetasi miliran rupiah dari kantong Sastro dan rekan bisnisnya dari Malaysia, bukan sebagai bentuk protes terhadap kurang bijaknya pemerintah mengatasi solusi kemacetan.
Sastro dan para pengusaha, tentu ingin bisnisnya terus dan terus berkembang.  Ketika pemerintah belum bisa memberi fasilitas bagus, otak bisnis pengusaha tidak bisa berhenti. Dua bidang bisnis, lebih baik ketimbang satu bisnis saja. Begitu seterusnya.
Melihat pola pikir yang ditunjukkan Sastro harusnya pemerintah merasa malu. Malu karena tidak mampu memberi yang terbaik untuk para investor. Kemudahan berinvestasi tidak sebatas mempermudah perizinan saja. Infrastruktur pun menjadi bahan feasibility penting sebelum membenamkan investasinya di sebuah daerah. (**/bersambung)