Paul Sastro Larikan Investasi ke Surabaya (habis)

Gubernur Sempat Kuatir Pemakaian Nama Jatim

Andaikata rasa nasionalismenya tidak tinggi, mungkin Paul Sastro akan melarikan investasinya ke luar Provinsi Jawa Timur. Tetapi karena cintanya kepada Jatim, tawaran pemda-pemda lain di Indonesia ditolaknya. Berikut catatan Wartawan Malang Post Hary Santoso.


Pesatnya bisnis wahana pariwisata yang dikelola Jatim Park Grup ternyata mengundang iri berbagai pihak dari Jawa Barat. Berbagai cara dilakukan untuk membujuk Sastro agar mau berinvestasi di Bandung.
‘’Tapi saya tidak mau. Saya tetap cinta Jatim. Meski prospek bisnis di Bandung cukup bagus, tapi saya tidak mau,’’ ungkap Sastro, yang mengaku dirinya bisa seperti sekarang ini karena tingginya kepercayaan masyarakat Jatim.
Sastro kemudian mencoba mengenang sejarah berdirinya Jatim Park Grup, yang dimulai dari Jatim Park. Kala itu, pemberian branding  image ‘’Jatim’’ sempat diragukan mantan Gubernur Jatim dua periode, Imam Utomo. Gubernur kuatir pemakaian nama Jatim bisa mengurangi hebatnya Provinisi Jatim.
‘’Dan ketika itu saya anggap wajar, kalau pak Imam kuatir. Tetapi setelah saya jelaskan dan datang sendiri ke lokasi, akhirnya diperbolehkan menggunakan nama Jatim,’’ kenang Sastro sembari tersenyum mengenang peristiwa antara dirinya dengan Imam Utomo kala itu.
Setelah mendapat lampu hijau dari Imam Utomo, tidak berarti awal bisnis Sastro berjalan mulus. Bank Jatim sebagai banknya pemerintah yang juga memiliki fungsi agent of development tidak percaya bisnis yang akan digarap Sastro. Sampai-sampai, mitra kongsi bisnis Sastro sempat bingung. Beberapa kali meeting tetapi proyek tidak bisa segera dimulai karena modal kerja tidak didapat dari Bank Jatim. Bank menganggap parameter bisnis yang akan dikelola Sastro tidak jelas jluntrungnya. Tidak seperti mendirikan pabrik.
‘’Pihak bank omong kalau ukuran bisnis Jatim Park tidak jelas. Mungkin secara pembukuan, pendapatan dan pengeluarannya tidak meyakinkan. Makanya Bank Jatim kala itu menolak,’’ paparnya dengan menyebut nama Dirut Bank Jatim kala itu. Namun semua keraguan kala itu bisa dijawabnya dengan begitu populernya Jatim Park saat ini di mata masyarakat Indonesia.
Sebelum menjatuhkan Surabaya sebagai pilihan lokasi pembangunan Surabaya Carnival, Sastro juga sempat melirik kawasan Prigen Pasuruan. Kawasan yang posisinya berada di tengah-tengah antara Surabaya dan Malang itu secara bisnis juga cukup menguntungkan.
‘’Kalau di Pandaan, tentu sangat strategis. Tapi, dari berbagai pertimbangan dan saran kawan-kawan, akhirnya saya pilih Surabaya. Bisnis tidak bisa mengandalkan emosi, tapi filosifi matang juga harus digunakan,’’ ujarnya.
Dari pantauan Malang Post di arena Surabaya Carnival, semua fasilitas yang akan dijual belum terselesaikan. Tetapi, dari 50 wahana permainan yang ditawarkan hanya satu wahana saja yang masih dalam tahap finishing yaitu Bledex Coaster.
Upaya Sastro menjual Surabaya Carnival lebih menarik, tidak sekadar membangun wahana wisata begitu saja. Guna menghormati kearifan budaya lokal, Surabaya Carnival pun banyak diisi dengan sejarah kota Surabaya.
Selain menggunakan nama-nama Suroboyoan, Sastro juga membuat beberapa miniatur gedung bersejarah di Surabaya, misalnya Hotel Oranje. Di hotel ini pula ditempatkan Galery Surabaya yang isinya Surabaya tempo dulu, sekarang dan akan datang.
Areal wisata di pintu masuk dari Selatan kota Surabaya itu berdiri di atas lahan 8 hektar. Di dalamnya antara lain berisi Dremolen, Gondola Cinta, Adult Bumper Car, Lampion Garden, Rumah Hantu Kapal, Rumah Kinclong, Shooting Gallery, Ferris Wheel Plaza, Beskop 360, Children Rides hingga Kid Kingdom.
Selain itu, aneka suku yang ada di Surabaya dikreasikan antara lain dalam bentuk Kampung Arab dan kampung Cina. Sesuai namanya, ornamen dan suasana di kampung Cina sengaja dimiripkan suasana kampung Pecinan di kawasan Kembang Jepun. Warna merah, lampion dan tulisan huruf Cina menjadi ikon utamanya.
‘’Meski baru trial opening tapi minat warga Surabaya cukup besar. Saat awal buka (setelah lebaran 2014) pengunjung mencapai 8000 orang sehari. Sekarang rata-rata per hari antara 2.500 sampai 3.000 orang,’’ kata Slamet Budi Wahono, Direktur Operasional Surabaya Carnival. (hary santoso/habis)