Dulu Tak Diminati, Sekarang Peserta Ratusan

Pahlawan tidak selalu identik dengan perang dan kemerdekaan saja. Orang yang berusaha keras dan sepenuh hati melestarikan seni dan budaya Indonesia seperti seorang jenderal yang berjuang memerdekakan Indonesia juga layak disebut sebagai pahlawan.  Siyanto, warga  Jalan Regulo No 241 Cempokomulyo layak mendapat julukan itu atas usaha kerasnya selama ini.

Pria 56 tahun ini adalah seorang pejuang seni dan budaya Indonesia. Melalui Sanggar Seni Kartika, ia erjuang melestarikan seni dan budaya Indonesia sejak tahun 1980 lalu. “Saya mendirikan Sanggar Seni Kartika karena merasa prihatin dengan seni dan budaya Indonesia yang kurang diperhatikan oleh masyarakat pada umumnya,” jelasnya saat ditemui di rumahnya.
Menurutnya, seni dan budaya Indonesia akan terus tergilas oleh zaman dan era globalisasi jika tidak ada yang memperhatikannya. “Kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh membiarkan warisan budaya nusantara punah tergilas oleh roda zaman. Kalau bukan kita, siapa lagi?,” tutur bapak dua anak ini. Semua dasar itu memantapkannya untuk terus mengembangkan Sanggar Kartika.
Siyanto menjelaskan, melestarikan warisan bumi pertiwi bukanlah hal mudah. Dalam perjalanannya ia melalui banyak sekali tantangan, namun ia tidak menyerah untuk menjaga warisan itu. “Tidak ada perjalanan yang mulus, semua pasti ada tantangan,” tuturnya kemarin. Perjuangannya tak muda. Awal mendirikan sanggar, hanya sedikit peserta yang mendaftar, tetapi seiring berjalannya waktu, Sanggar Kartika terus berkembang dan saat ini pesertanya sudah banyak.
“Awalnya pesertanya memang sedikit, tetapi seiring dengan prestasi yang kami peroleh, banyak lembaga pendidikan yang mulai percaya dengan kami hingga akhirnya mereka mempercayakan peserta didiknya untuk belajar seni dan budaya, khususnya tari di sini. Sekarang pesertanya sudah ratusan orang,” jelas Yanto, sapaan akrabnya.
Anggota sanggar kebanyakan berasal dari anak-anak SD dari berbagai daerah di sekitar Kepanjen. Menurutnya, sudah banyak guru seni di sekolah, tetapi umumnya tidak mengajarkan tari-tari daerah Indonesia, hanya teori saja. Dengan sanggar ini, para siswa sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kalangan umum dapat belajar tari-tari tradisional Indonesia.
Siyanto mengajar tari ditemani tiga orang asistennya, mulai dari tari klasik, tradisional, dan kreasi baru. Dalam perjalanannya, Yanto mengaku Sanggar Kartika sudah berhasil meraih berbagai penghargaan. “Alhamdulillah sudah banyak penghargaan yang kami peroleh. Kami juga sering menjadi juara di berbagai perlombaan,” katanya.
Mulai dari perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Prestasi tersebut merupakan pencapaian yang bagus bagi Sanggar Kartika yang saat ini berusia 34 tahun. Yanto berharap sanggar miliknya ini dapat menjadi lebih dewasa dan menorehkan banyak prestasi yang dapat membawa nama daerah ke tingkat nasional. Tidak lepas dari tujuan utama, ia juga berharap upayanya kini bersama Sanggar Kartika dapat melestarikan seni dan budaya Indonesia.(asief abdi/han)