beruntung memilih tetap di Indonesia

TANPA adanya pahlawan, tidak mungkin Indonesia bisa merdeka. Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang, Indonesia memperingati hari ulang tahun ke-69, Minggu, 17 Agustus 2014 (hari ini). Rachmat  Shigeru Ono, adalah warga Jepang yang tidak boleh dilupakan terkait Kemerdekaan Indonesia karena dia juga ikut berjuang menghadang Belanda datang kembali pasca kemerdekaan 1945.

Sesosok pria terbaring lemah di rumahnya Jalan Cemara Kipas Desa Sidomulyo Kota Batu, kemarin. Pria yang lahir di Hokaido Jepang tahun 1918 tersebut kini berumur 96 tahun. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidurnya karena habis opname di RS Etty Asharto Kota Batu.
Dengan kondisi itu, dia tidak bisa mengikuti kegiatan upacara atau undangan panitia dalam perayaan HUT Kemerdekaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, Ono selalu aktif dalam kegiatan yang biasa dilakukan oleh Pemkot Batu.
Salah satu puteranya, Agoes Sutikno Ono mengatakan bahwa bapaknya
sudah tidak dapat berbicara seperti biasa. Sebab, selama satu minggu
mengalami opname dan mendapatkan bantuan medis di RS Etty Asharto.
“Baru dua hari ini ada di rumah, saat ini sudah terbaring diatas
kasur. Bapak juga tidak bisa bicara sehabis opname, di rumah sakit
karena lemah jantung dan gejala tipes,” kata Agoes, putera ketiga Ono.
Dia menjelaskan, Ono biasanya satu minggu sebelum peringatan HUT RI, sudah mulai mempersiapkan diri untuk peringatan upacara di
Stadion Brantas. Persiapan itu mulai seragam
yang akan digunakan hingga cukur rambut serta berolahraga supaya
kuat berdiri mulai awal hingga akhir saat upacara.
Tahun ini, kata dia bapaknya mendapatkan
undangan dari Istana Negara untuk ikut serta upacara. Selain itu Pemkot Batu juga memberikan undangan yang sama. Namun, karena
kondisinya tidak memungkinkan akhirnya tahun ini untuk kali pertama
tidak bisa ikut menyemarakkan kemerdekaan. “Kalau dulu kan masih
lancar bicara. Menjelang hari kemerdekaan bapak berangkat
sendiri ke pasar untuk membeli bendera merah putih sekaligus memasang
di depan rumah. Sekarang sudah tidak bisa lagi,” terangnya kepada Malang Post.

Kondisi badanya yang sudah lemah itu tentu kontras saat dia masih muda dulu. Pria dengan sembilan anak, 13 cucu dan 9 cicit tersebut dulu tergabung dalam pasukan Perang Gerilja Istimewa (PGI) Indonesia untuk beroerang membendung agresi militer Belanda sekitar tahun 1949.
Saat itu tentara Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan berusaha menguasai kembali tanah air ini. Ono malahan sempat terkena serpihan bom dan tangan kirinya harus diamputasi. Hingga sekarang, dia hidup dan berjuang dengan satu tangan. Sebagai bukti kepahlawananya, dia mendapatkan penghargaan dari Presiden Soekarno berupa Bintang Veteran dan Bintang Gerilya tahun 1958  
Shigeru Ono lahir pada 26 September 1918 di wilayah prefektur Hokkaido, Jepang. Sebagaimana dikisahkan dalam buku memoar Rahmat Shigeru Ono, ketika menginjak usia awal 20-an, Ono di luar dugaan berhasil menembus ujian masuk sekolah kemiliteran yang terkenal amat sulit ditaklukkan. Dapat memasuki sebuah sekolah kemiliteran di masa itu dipandang sangat prestisius di mata masyarakat Jepang yang mana negeri mereka memang tengah berkonflik dengan daratan China. Namun garis takdir Ono ternyata menuntun dia untuk bertugas pada sebuah negeri bekas jajahan Belanda yang terletak jauh di sebelah selatan tanah kelahirannya. Di tanah bekas jajahan Belanda itu, Ono mendapat banyak kesempatan untuk bergaul secara langsung dengan rakyat pribumi Hindia Belanda. Bahkan Ono juga berkesempatan untuk ikut melatih ilmu kemiliteran kepada beberapa orang pemuda pribumi. Rentetan penderitaan bangsa pribumi yang harus diterima sebagai imbas penjajahan Belanda dan masa pendudukan Jepang, pelan tapi pasti mulai memantik rasa simpati Ono terhadap mereka.
Hingga pasca berakhirnya Perang Dunia II, Shigeru Ono memilih sebuah keputusan besar dalam hidupnya, dengan tetap tinggal di Indonesia dan tidak mau kembali ke Jepang. Selanjutnya, Shigeru Ono yang telah dianggap sebagai pengkhianat oleh negara asalnya, mulai sibuk bertempur bahu-membahu bersama pasukan pribumi Indonesia untuk menghadang pasukan Belanda yang mencoba kembali menduduki Indonesia, hingga akhir Desember 1949. Setelah berakhirnya masa perang, kehidupan Ono berjalan tidak menentu, kewarganegaraan Jepangnya telah dicabut dan ia sendiri pun belum resmi diterima sebagai Warga Negara Indonesia, ia juga harus kerja serabutan untuk menyambung hidupnya. “Pada masa itu, saya tidak punya kewarganegaraan, sejak 1951 saya sudah mengajukan permintaan kewarganegaraan Indonesia, namun tak ada tanggapan hingga pertengahan 1950-an”, jelas Shigeru Ono ketika masih sehat.
Sekitar tahun 1950, dia menikah dengan wanita asal Kota Batu bernama Darkasi. Hingga sekarang mereka dikaruniai 9 anak, 13 cucu, dan 9 cicit. Namun, pada tahun 1982, Darkasi meninggal dunia. Sebagai WNI, dia juga merasa prihatin ketika mendengar pejabat yang korupsi. Tindakan seperti itu berarti mereka tidak menghargai perjuangan para pahlawan yang sudah payah merebut kemerdekaan.
“Saya beruntung memilih tetap di Indonesia. Tapi sayangnya saat ini banyak sekali korupsi yang dilakukan pejabat. Terus terang saya merasa jengkel, karena kemerdekaan tidak kami rebut dengan mudah. Tolong hargai kami para pejuang dengan melenyapkan budaya korupsi,” tandasnya saat itu. (miski/febri setyawan)