Biaya Gratis, Ajarkan Kerajinan dan Bahasa Inggris

Ada banyak cara untuk memperingati HUT ke-69 RI seperti yang dilakukan anak-anak Ngelmu Pring yang membuat 69 bendera ukuran 10 x 15 cm untuk dibagikan kepada warga di sekitar Kota Batu. Semangat 45 tercermin pada antusias anak-anak yang membagikan bendera itu.

Berjuang tidak harus berperang. Saat ini, perjuangan bisa dilakukan melalui berbagai hal yang dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia. Seperti yang dikerjakan dua pemuda lulusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu udaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Dimas Iqbal Romadhon dan Tunggul Puji Lestari, yang berjuang di bidang pendidikan.
Mereka memanfaatkan sebuah lahan kosong di Jalan Patimura III/05 Kota Batu untuk dijadikan sekolah alam Ngelmu Pring. “Sekolah alam ini gratis. Siapa pun boleh sekolah di sini, mulai dari anak SD sampai SMA. Kalau ada anak di sini yang tidak bersekolah formal, kami akan membantu mereka untuk bisa belajar. Kami tidak ingin melihat ada anak yang tidak bisa bersekolah,” ujar Dimas.
Sekolah alam Ngelmu Pring bukanlah sekolah formal. Sekolah ini adalah sebuah tempat untuk mewadahi anak-anak yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan secara gratis. Sekarang, jumlah pengajar di sana sekitar 40 orang yang mengabdi tanpa dibayar. Hari aktif sekolah pun hanya setiap minggu pagi pukul 09.00 WIB. Para guru tidak hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan saja, tetapi juga keterampilan membuat kerajinan-kerajinan tangan.
“Selain itu kami juga mengajari mereka berbagai bahasa, seperti Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa lainnya. Supaya anak-anak memiliki banyak kemampuan dan nilai lebih,” kata lelaki asal Batu itu.
Sekolah alam Ngelmu Pring mengajarkan kemampuan terapan untuk dibekalkan pada anak-anak, setelah sebelumnya para pendiri sekolah itu menyadari ada sebuah pembatas dan jarak yang besar antara pendidikan dengan masyarakat. Oleh karena itu, mereka ingin menghilangkan pembatas itu dengan cara mengajarkan kemampuan terapan.
“Saya pernah KKN ke daerah terpencil. Ketika saya berbicara mengenai peningkatan pendidikan, warga di sana tidak setuju. Mereka beranggapan bahwa mereka tidak butuh anak yang berpendidikan, tetapi anak yang terampil. Kalau anak itu terampil, ia akan bisa membangun desa,” tambah Dimas.
Dari pengalaman itulah, ia memiliki ide untuk mendirikan sebuah sekolah yang siswanya kelak dapat menjadi insan yang berpendidikan dan berguna bagi masyarakat banyak. Dengan hasil patungan sekitar Rp 600 ribu dan beberapa pohon bambu di sekitar jurang dekat lahan kosong tadi, ia bersama teman-temannya pada 2012 lalu mendirikan sebuah pendapa sebagai tempat pendidikan untuk anak-anak di Kota Batu.
“Kota Batu ini adalah kota wisata. Di sini, saya lihat masih banyak anak yang tidak bisa berbahasa inggris. Kalau dibiarkan saja, mereka tidak akan bisa memasarkan Kota Batu kepada para turis. Akhirnya kami mengajari bahasa asing,” lanjutnya.
Saat ini, ada lebih dari 100 anak yang bersekolah di sana. Mereka diajari berbicara dengan berbagai bahasa, membuat kerajinan tangan, bercocok tanam, dan bermain drama. Berbagai hal yang diajarkan di sana adalah untuk meningkatkan kompetensi dan daya kreasi anak. “Kelas di sini dibagi menjadi dua, kelas besar di atas 13 tahun dan kelas kecil antara 4-12 tahun. Sekarang, kebanyakan dari kelas besar sudah menjadi guide untuk para turis di kota Batu. Rencananya, yang kelas kecil akan dipertemukan dengan orang luar negeri agar mereka bisa lebih percaya diri,” tambahnya.
Ngelmu Pring saat ini sedang merencanakan untuk mengembangkan kerajinan asli kota Batu, yaitu anyaman dari bambu. Mereka berharap bisa meningkatkan pendapatan kota Batu dengan menjual kerajinan-kerajinan anyaman itu. “Selain kami mengabdikan diri untuk bidang pendidikan, kami juga ingin mengabdikan diri pada bidang ekonomi. Dengan begini, kami bisa menciptakan anak-anak yang berpengetahuan dan memiliki keterampilan. Kami ingin membuktikan pada masyarakat bahwa pendidikan itu penting,” kata dia.
Para warga di sekitar sekolah alam Ngelmu Pring pun sangat mendukung. Mereka banyak yang menitipkan anak-anak mereka untuk belajar dan bersekolah di sana. Ngelmu Pring sudah diangap warga sekitar sebagai sebuah RW sendiri. “Kami sudah menganggap Ngelmu Pring sebagai sebuah RW yang ada di sini. Kalau ada lomba-lomba, Ngelmu Pring harus berpartisipasi dengan warga-warga mereka, yaitu anak-anak di sana. Mereka semua bersaing dengan RW-RW yang ada di daerah sini,” kata Bambang Sumarsono, salah satu warga di sekitar sekolah alam Ngelmu Pring.
Ia menambahkan, kegiatan yang dilakukan oleh Ngelmu Pring sangat positif. Anaknya yang juga dititipkan di Ngelmu Pring bisa terus bersemangat untuk belajar. “Saya pribadi sangat mendukung semua kegiatan di sana. Kalau saja banyak orang yang peduli pendidikan seperti ini, Indonesia pasti bisa semakin maju. Itu yang namanya berjuang dengan pendidikan, bukan lagi dengan perang,” tambah Bambang.
 “Indonesia berada di tangan generasi muda. Kalau tidak melalui pendidikan, bagaimana mereka bisa mengarahkan Indonesia menuju kemajuan. Semakin banyak yang peduli dengan pendidikan, semakin cepat Indonesia maju,” tutup Bambang. (renda yuriananta/han)