Sempat Was-Was, Takut Bendera Terbalik

Pengibaran bendera Merah Putih yang berlangsung di Balaikota Malang (17/8) lalu cukup sukses. Pasukan pengibar bendera (Paskibra) Kota Malang menjalankan tugas mereka dengan sempurna, rapi, tanpa cela dan kesalahan. Hasil gemblengan latihan intensif berbulan-bulan sejak Juni lalu.

Ucapan selamat dari Wali Kota Malang H.M. Anton usai acara pengibaran dan penurunan bendera merah putih membuat perasaan semua anggota Paskibra senang, tugas mereka usai. A mission accomplised.
Mochammad Rizky Dinanta, Faishal Teduh Mufadhdhal dan Kartika Andana Asih termasuk yang merasakan kebahagiaan tersebut saat ditemui Malang Post di tempat karantina mereka di Lanal Malang, minggu malam (17/8/14).  Meski, mereka semua juga mengakui perasaan campur aduk antara kuatir, was-was, senang sampai rasa takut melakukan kesalahan sempat muncul beberapa kali. Maklum saja, posisi ketiganya termasuk cukup vital, sebagai penggebrak, pengerek dan pembawa bendera merah putih.
Mochammad Rizky Dinanta mengungkapkan, perasaan itu muncul setelah beberapa kali ia membayangkan ada beberapa penggebrak dari Paskibra di satuan wilayah berbeda yang gagal. “Saya sempat punya perasaan takut setelah melihat beberapa petugas pengibar yang gagal mengibarkan bendera merah putih karena terbalik. Alhamdulillah, perasaan itu berangsur-angsur hilang setelah saya percaya dan optimis dengan kemampuan yang ada dalam diri saya. Tentunya tak henti-hentinya saya selalu berdoa kepada Tuhan,” papar pelajar asal SMKN 6 Malang ini.
Cowok kelahiran Juli 1998 ini menambahkan, dia termasuk penyuka beragam aktivitas yang menantang dan penuh kerja keras. Salah satunya dengan mengikuti dan masuk dalam Paskibra Kota Malang 2014 dan menjadi penggebrak bendera. “Feel-nya itu yang membuat adrenalin semakin terpacu. Bisa dibayangkan jika sampai Minggu pagi, bendera menjadi terbalik. Bukan saya saja yang malu, tapi juga harus menanggung malu nama Kota Malang di berita nasional karena hanya satu kesalahan yakni bendera terbalik,” terangnya.
Rizky menceritakan, perjuangannya untuk menjadi seorang Paskibra harus dilalui dalam proses yang panjang. Dimulai dengan tiga kali tahapan seleksi, penetapan sebagai calon Paskibra (Capaska), orientasi, sampai tiga tahapan proses latihan bersama dengan anggota Capaska lainnya.
Rasa capek dan kondisi tubuh yang sedikit terforsir seringkali diabaikan oleh Rizky. Hal itu dikarenakan banyak kegiatan-kegiatan yang mampu membuat pikirannya justru semakin segar dan latihan dengan penuh semangat. Tak hanya Rizky, Faishal Teduh Mufadhdhal juga mengutarakan hal yang sama. Banyak kenangan dan momen-momen menarik yang membuatnya terus bersemangat saat harus mengikuti beragam latihan, walaupun teguran keras dan bentakan dari senior seakan sudah menjadi santapan sehari-hari.
“Tapi, saya paham maksud senior baik karena membuat kami semakin kompak dan bersemangat kembali saat latihan. Bentakan-bentakan mereka tak pernah saya jadikan beban, itulah pembangkit motivasi saya,” tutur lelaki yang kini duduk di bangku kelas XII MAN Malang 1.
Laki-laki yang berposisi sebagai pengerek tersebut juga mengaku senang saat ditunjuk oleh para seniornya untuk bertugas di posisi tersebut. Meskipun sempat terkejut, namun ia mencoba menerima tugas yang telah dipercayakan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga menjelaskan, tidak ada kesulitan dan hambatan saat menjalankan tugasnya sebagai pengerek.
“Rasa percaya diri dan semangat saya saat itu langsung naik berkali-kali lipat setelah tahu bahwa teman-teman sekolah dan orang tua menyaksikan upacara bendera langsung di sekitar balaikota,” imbuhnya.
Tampaknya, orang tua sebagai motivasi utama saat harus mengemban tugas berat juga disampaikan oleh Kartika Andana Asih. Gadis berparas cantik yang baru saja naik kelas XI di SMAN 9 Malang tersebut merasa senang saat orang tuanya memeluk dan mengungkapkan rasa bangga kepada dirinya pada acara malam kenegaraan. “Adek, Mama bangga punya anak seperti kamu. Semoga prestasi kamu bisa semakin meningkat ya. Jangan mudah menyerah pokoknya,” kata Tika menirukan ucapan ibunya.
Gadis yang juga hobi bermain voli tersebut mengaku sempat kaget saat dipilih menjadi pembawa bendera merah putih menemani pengerek dan penggebrak. Pasalnya, ia baru diberitahu oleh seniornya tepat pada 17 Agustus pagi saat akan bersiap-siap berangkat menuju balaikota.
“Awalnya, selama latihan saya masuk dalam pasukan 45. Kemudian karena beberapa pertimbangan dari para senior saat itu, saya berubah posisi dan masuk ke dalam pasukan 8. Dan saya sempat kaget saat diberitahu akan membawa bendera merah putih untuk pengibaran. Beruntung sebelum masa karantina, saya telah melihat dan belajar bagaimana tata cara melangkah dan berjalan saat berada di posisi pembawa bendera,” bebernya.
Tika yang juga berkeinginan untuk masuk ke dalam akademi Polwan tersebut merasa menjadi anggota Paskibra adalah pengalaman yang sangat berharga. Sejatinya, Tika sendiri baru kali pertama mengikuti seleksi Paskibra setelah saat awal masuk SMA dirinya masuk dalam ekskul Paskibra. Dan beruntung bagi Tika karena berhasil lolos dan menjadi bagian yang sangat penting dari posisi pasukan pengibar bendera merah putih.
“Semoga saja semua impian saya bisa tercapai dan mampu membanggakan orang tua dan bisa membaktikan diri kepada nusa dan bangsa. Berbagai pelajaran berharga yang telah saya dapatkan selama pelatihan di Paskibra ini juga bisa membuat pribadi saya jauh lebih baik,” pungkasnya.(healza kurnia/han)