Juara Pertama Usia 7 Tahun, Berambisi Raih Grand Master

Usia boleh muda, namun prestasi yang diukir Anugrah Maria Ghozali patut diapresiasi. Ia berhasil meraih gelar master atau gelar tertinggi kedua setelah Grand Master (GM)  yang sangat diidamkan oleh para atlet catur di usia 14 tahun. Karena kepiawaiannya itu, siswa kelas tiga SMPK Kolese Santo Yusup 2 ini bahkan dilarang mengikuti kejuaraan dalam negeri untuk siswa.

Maria yang berkulit putih dan berambut pendek tersenyum menyambut kehadiran Malang Post. Mengenakan seragam sekolah, ia lantas memulai perbincangan seputar prestasinya tersebut. Gayanya yang ceplas-ceplos memperlihatkan ia sudah terbiasa berkomunikasi dan berhadapatan dengan banyak orang.
Tidak hanya itu, anak kedua dari Budi Ghozali dan Fadjarwati Santoso ini menempati peringkat lima sedunia atlet catur usia 14 kategori puteri.  Sedangkan di Indonesia, Maria berada di posisi ranking 1. “Saya dapat predikat master setelah mengikuti kejuaraan catur di Jakarta. Lebih tepatnya adalah Woman Fide Master, ”kata Maria saat ditemui di sekolahnya.
Dia menyebut, pertama kali suka main catur saat ikut kakaknya, Kurniawati Ester Ghozali ketika latihan bersama atlet catur Kota Malang. Kendati demikian, bakatnya itu mulai terlihat saat mengikuti kejuaraan tingkat Kota. Potensi itulah yang terus dipoles oleh pelatihnya, sehingga satu bulan berlatih langsung ikut kejuaraan dan hasilnya pun memuaskan, meraih juara 1 di Kota Malang.
Saat itu usianya baru 7 tahun atau masih kelas 3 SD. Sejak saat itu, tidak butuh lama untuknya menjuarai setiap kompetisi, mulai dari tingkat kota, provinsi hingga nasional. ”Saya juara 1 nasional ketika duduk di kelas 5 SD, saat itu saya dipercaya untuk mewakili sekolah dan Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) tampil di setiap ajang perlombaan,”terang dia.
Maria mengungkapkan bakat sebagai pecatur profesional bukanlah turunan, melainkan diperoleh secara alami. Karena kedua orangtuanya orang biasa dan bukan mantan atlet catur atau pernah menjadi atlet olahraga. Bahkan kedua orangtuanya tidak suka anak-anaknya main catur lantaran mereka perempuan sementara catur identik dengan permainan kaum laki-laki.
Namun, lambat laun kedua orangtua Maria luluh lantaran berbagai prestasi yang berhasil dipersembahkannya. Sehingga, kedua orangtuanya berubah haluan mendukung penuh anaknya untuk terus mengembangkan bakatnya tersebut. Mereka menyiapkan segala keperluan untuk berlatih dan selalu mendampingi di setiap mengikuti kejuaraan.
Meski sudah tidak lagi diperbolehkan tampil dalam olimpiade dan kejuaran nasional. Maria merasa belum puas sebab gelar tertinggi dalam catur adalah mendapatkan Grand Master. Oleh karenanya, ia tetap melakukan latihan rutin setiap hari baik di sekolah, tempat latihan maupun di rumah. Tak jarang ia menjadikan sang kakak sebagai lawan main ketika di rumah.
Meski sering melawan pecatur dari negara lain di Asia, namun Maria mengaku belum pernah mencicipi pertandingan yang dihelat di luar negeri. Karena itu ia masih memiliki ambisi untuk mewakili Indonesia di ajang internasional yang memang digelar di luar tanah air. “Saya ingin juara di tingkat Grand Master, karena GM merupakan kelas tertinggi dalam catur, ”ungkap peraih lima kali juara tingkat nasional ini.
Meski dilarang untuk mengikuti kompetisi di dalam negeri, menurut Maria masih ada satu peluang yang bisa ia ikuti. Yaitu berlaga dalam Kejurnas karena kejuaraan tersebut sifatnya umum dan mayoritas diikuti oleh para atlet. Sekaligus, sebagai latihan persiapan sebelum akhirnya ia bisa tampil di pentas dunia.
Perjalannya menjadi atlet professional bukannya tanpa hambatan. Pasalnya, selama berlaga dalam setiap lomba dan kejuaraan Maria beberapa kali menelan kekalahan alias tidak meraih predikat juara. Hal itu terjadi bukan karena tampil kurang bagus, melainkan kecurangan yang dilakukan oleh oknum panitia.
“Saya sudah juara di tingkat nasional saat itu, namun digagalkan lantaran masalah administrasi. Awalnya saya masuk di Percasi Kota Malang dan terakhir sebagai anggota Percasi Kabupaten Malang. Itu yang dipermasalahkan. Makanya gelar yang saya raih harus diserahkan kepada tuan rumah yang saat itu berhasil saya kalahkan di final,” urainya sembari mengingat pengalaman pahitnya.
Akan tetapi, pengalaman dicurangi sampai gagal meraih gelar membuatnya semakin bersemangat berlatih dan belajar lebih giat. Karena, banyak atlet catur yang langsung putus asa bahkan sampai berhenti menjadi atlet lantaran gagal juara.
Ia tetap bertahan juga karena selalu ingat pesan sang ibu. “Mama berpesan kalau terjun ke sesuatu, apapun itu, harus tuntas dan tidak boleh separuh-paruh. Namun, jangan sampai kewajiban menuntut ilmu dikesampingkan atau harus seimbang antara mengasah bakat dan sekolah,”papar gadis yang duduk di kelas unggulan SMPK Kolese Santo Yusup 2 itu.
Dia berharap, atlet catur yang memiliki impian untuk meraih gelar tertinggi sebagai pecatur, harus menepis semua perasaan putus asa dan malas. Sebab bagaimanapun untuk mencapai sesuatu perlu pengorbanan dan kerja keras. “Saya masih ingin menjadi atlet catur, di sekolah kebetulan juga ada wadahnya. Sekaligus mampu meraih gelar tertinggi di olahraga catur,” harapnya.(miski/han)